Sejarah mulanya bak segelembung ingatan dalam proses kehancurannya sendiri hingga akhirnya musnah. Maka, saya sepakat dengan kegelisahan Derek Walcott untuk berkata: ''Jika sejarah di ambang sirna, maka yang lahir adalah tirani dan kebodohan.'' Ini terbukti kala kecerobohan kebijakan Jero Wajik disambut dengan kebandelan Bupati Mojokerto Suwandi yang tetap mendukung proyek Pusat Informasi Majapahit diteruskan di Trowulan (Radar Mojokerto: 15/1/09). Bagaimana pula praktik jual-beli satu batu-bata situs seharga Rp 500 dibiarkan terjadi sejak 30 tahun silam (Radar Mojokerto: 20/1/09)? Barangkalikah ada unsur politis menjelang Pemilu 2009 (dan siapa saja yang bersilat-jurus di situ?) hingga menyorong, mengoar-koarkan, malah membesar-besarkan soal penistaan situs Majapahit itu?
Cukupkah sekarang memelihara wacana historisitas dengan cara sekadar mengelap-elap kejayaan Majapahit sekaligus menyumpahi kefasadannya saja? Sebab, wacana ini hanya berseliweran, bahkan mungkin tidak bergemuruh di batin dan kesadaran kita untuk bertindak jujur dan positif. Kejayaan Majapahit telah berakhir 700-an tahun silam dan kehancurannya juga disorong atas meluasnya pengaruh Kasultanan Demak (baca: Slamet Muljana, Runtuhnya Keradjaan Hindu-Djawa dan Timbulnja Negara-negara Islam di Nusantara. Bhratara: Djakarta, 1968) dan gerakan tabligh Walisongo. Terbayangkah kita akan kiprah para sunan dalam mengislamkan kaum Hindu-Buddha? Cobalah tilik Babad Khadiri, tatkala Sunan Bonang mencocori Arca Butalacaya di daerah Kedah, Kediri. Juga dalam Suluk Darma Wasesa anggitan Ki Brajasastra yang mengisahkan Sunan Bonang menceceli arca berkepala kuda kembar yang merupakan karya pahat di zaman Prabu Jayabaya. Jadi, siapa lagi yang dengan tampang geram menghancurkan Majapahit, Bung? Menanggapi tulisan Muhidin M. Dahlan bertajuk ''Ayo, Hancurkan Majapahit!'' (JP,18/1/09), saya merasa ia agak paranoid dengan menyodokkan geger situs Trowulan pada kebobrokan perpustakaan Kota dan Kabupaten Mojokerto. Di dua perpustakaan tersebut, ia bercerita (anehnya perjalanan itu terjadi dua tahun lalu) menemukan hanya dua buku sejarah yang, bagi saya, sebenarnya ''salah alamat'' untuk menyinggung seabrek sengkarut ihwal kesadaran warga Mojokerto dalam memelihara peninggalan Majapahit.
Kondisi pahit perpustakaan tak bisa dijadikan satu-satunya alibi atas pengabaian situs Trowulan. Jika ditanya siapa di Mojokerto yang menghargai bacaan sejarah? Bagi saya, yang paling mendasar adalah tidak adanya tradisi literasi yang kuat dan mengakar untuk menghargai dan menopang segala warisan bangsa. Generasi muda mana sekarang yang beruntung dapat dan tergerak membaca Tatanegara Madjapahit: Risalah Sapta Parwa 1292-1525 (Yayasan Prapantja: 1962) karya Muhammad Yamin, dan 700 Tahun Majapahit: Suatu Bunga Rampai (Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Timur, 1992) yang disusun Prof Dr Sartono Kartodirdjo dkk. Perihal dua buku ini; buku yang pertama saya peroleh dengan cara memfotokopi di Perpustakaan Kolese Ignatius Jogja. Sedang yang kedua saya dapat di Perpustakaan Pesantren Wahid Hasyim Tebuireng, yang malah lebih lengkap koleksinya ketimbang Perpustakaan Umum Mastrip Jombang.
Ada lagi buku 6000 Tahun Sang Merah Putih (Balai Pustaka: Jakarta, 1958. 349 hlm) karya Muhammad Yamin, juga ada di Perpustakaan Max Arifin di Perum Griya Japan Raya, Sooko. Buku Yamin yang mengurai telaah kritis ihwal Majapahit ini juga terdapat di Perpustakaan Kradenan, dekat Alun-alun Mojokerto. Bagi kawula muda kini, buku-buku sejarah macam itu sudah tidak lagi diminati --bahkan bacaan yang ringan sekalipun seperti novel, cersil, atau komik yang bercerita seputar Majapahit ataupun tidak. Semisal novel Senapati Pamungkas karya Arswendo Atmowiloto; novel serial Gajah Mada karya Langit Kresna Hadi; cersil Kho Ping Hoo, Kemelut di Majapahit (37 jilid); 50 jilid cerbung karya S. Djatilaksana berjudul Gajah Kencana Manggala Majapahit (Margajaya: Surakarta, 1977); dan lain-lain sudah nyaris tidak ada di persewaan buku atau taman bacaan di Mojokerto. Hanya ada dua persewaan buku plus toko buku loak di kota yang masih bertahan. Yakni TB Taman Pustaka ''Remadja'' di Jl Kapten Pierre Tendean No. 4, milik Kiswanto Kosasih (ia akrab disebut Pak Kishiang); dan Taman Baca ''Muda'' milik pensiunan Angkatan Laut bernama Pak Padi, di Jl Majapahit No. 437. Di dua tempat persewaan ini, hanya komik Jepang dan Taiwan serta novel-novel picisan yang paling banyak disewa.
Jika pemerintah dan kaum terpelajar banyak yang tak paham dan tak menggubris sejarah Majapahit, apalagi dengan generasi mudanya? Seharusnya di luar lembaga pemerintah, perlu kiranya ada semacam lembaga independen atau LSM untuk pelestarian situs-situs Majapahit. Namun, sebagaimana kita maklumi di negeri ini, citra dan orang-orang LSM memang banyak yang tidak jelas visi-misinya dan karena itu tidak maksimal kerjanya: jika donor asing cair, mereka bekerja ''memainkan'' distribusi dananya. Jika mampet, berhenti pula.
Di Mojokerto ada satu LSM yang bergerak dalam pelestarian-perlindungan seputar peninggalan Majapahit: Yayasan Gotrah Wilwatikta. LSM ini berkandang di Perumahan Gatoel di Jl Jawa No. 78. Sebagaimana yang dilansir Koran Tempo (10/1/09), LSM ini dirintis Anam Anis sejak 2001 bersama lima kawannya. Dalam menyikapi perkara situs Trowulan, Gotrah berkomentar bahwa Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jatim di Trowulan tersebut tidak efektif melindungi situs. Di antara mereka berargumen, ''Sudah terjadi perusakan, apa yang bisa diperbuat?'' Dalih apa pula ini. Gotrah sejatinya dan semustinya mampu bergerak lebih progresif dan kritis sejak 9 tahun lalu. Saya sempat berharap LSM ini memiliki kontribusi cemerlang. Namun saya jadi kecewa, ketika beberapa hari lalu saya diberitahu teman untuk membuka blognya: http://gotrah.multiply.com. Ternyata, blog itu cuma berisi peta Majapahit yang juga terpajang dengan warna berlumut di kantornya.
Hanyalah segelintir yang terbangun dari mimpi buruk ini. Selain keprihatinan arkeolog Mundardjito, di Mojokerto sesungguhnya menyimpan sekian sosok sebagai ''perpustakaan berjalan'' yang terus bergerak atas nama Majapahit. Di antara mereka: si pematung Ribut Sumiyono dan Nanang Muni dari Desa Jatisumber, Trowulan. Ada pula Umar Muzakky dan Muhsinun di kawasan Miji Gang III, di mana mereka serius melakukan pembuatan film dokudrama dan riset soal naskah-naskah kuno dan batas-batas wilayah Kerajaan Majapahit. Alangkah ''Lebih baik menyalakan satu lilin daripada mengutuk kegelapan,'' begitu ungkap Temujin, si penghancur peradaban dari tlatah Mongol itu. (*)
*) Fahrudin Nasrulloh, bergiat di Komunitas Lembah Pring Jombang
Sumber Jawa Pos, 25 Januari 2009
Tampilkan postingan dengan label Opini Perpustakaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini Perpustakaan. Tampilkan semua postingan
29 Januari 2009
Ayo, Hancurkan Majapahit!
Merujuk kronik Indonesia 2009, media massa pada pekan pertama tahun ini menyuguhkan dua isu ''besar'': Perang Gaza dan hancurnya situs Trowulan. Penyerbuan Israel di Jalur Gaza, Palestina, yang barbarian mencabik nalar waras sebagai masyarakat beradab dalam masyarakat ultrateknologi. Sementara ''penghancuran'' situs Trowulan oleh pemerintah atas nama pembangunan Trowulan Information Centre adalah jalan pemusnahan sejarah diri sendiri. Terutama sejarah peradaban Majapahit yang terpaku di bawah tanah Trowulan.
Arkeolog berteriak. Koran-koran menulis seram-seram. Berhalaman-halaman lagi. Banyak yang menyatakan keprihatinannya. Pemerintah lalu minta maaf dan meninjau kembali pembangunan pusat informasi ''pelestarian'' kejayaan masa silam itu.
Apa-apaan ini semua. Mengapa baru brangasan sekarang. Begitu sibuk sepertinya kiamat sejarah sudah di muka pintu. Dan mengapa pula pemerintah mesti repot sembah sujud untuk memohon maaf atas kesalahan yang sudah sangat dan sangat biasa dilakukannya.
Penghancuran ingatan atas warisan (cerita) Majapahit itu toh sudah berlangsung dengan sangat lama, sistematis, dan halus. Dan itu dilakukan pemerintah yang dibantu sikap bisu masyarakat (terpelajar) Mojokerto sendiri.
Kalau tak percaya, datangi saja dua perpustakaannya: perpustakaan kabupaten dan kota. Dua perpustakaan itu menjadi cermin terbaik bagaimana sejarah Majapahit yang menaungi kota ini menjadi cerita yang telah kehilangan pukaunya. Dua perpustakaan itu nyaris sama buruknya dengan perpustakaan Kediri dari hasil kelana saya di perpustakaan kota-kota yang pernah punya nama besar di masa silam.
Kata para pemangku buku, perpustakaan dibuat untuk mencerdaskan masyarakat. Tapi bukan sekadar itu. Perpustakaan juga dibuat sebagai benteng pertahanan ingatan (sejarah) kolektif masyarakat dari gerusan waktu. Perpustakaan adalah jangkar kesadaran dari mana masyarakat itu berasal dan bagaimana menyiasati masa depan dengan jangkar informasi kejayaan dan dosa masa lalu. Maka itulah perpustakaan mesti selalu berada di tengah kota, di jantung kesibukan masyarakat.
Tapi di perpustakaan Mojokerto (kabupaten dan kota), kisah kejayaan Majapahit hanyalah puing-puing yang tiada berguna.
Ayo, mari masuk ke perpustakaan kabupaten yang ada di Jalan RA Basuni. Jangan lupa buka sepatu/sandal. Tak tahu bagaimana asal muasal aturan yang mirip masuk musala ini. Ruangan itu tak terlalu besar dan mirip puskesmas kecamatan. Buku-buku tak tersusun rapi. Pengategorian buku awut-awutan. Di rak yang mestinya dikuasai kesusastraan juga disusupi buku-buku pendidikan wiraswasta.
Hanya satu buku tentang sejarah Kota Mojokerto di sini dengan tampang yang memelas: Sejarah Mojokerto, Sebuah Pendekatan Administratif dan Sosial Budaya. Buku yang disusun Tim Penulisan Sejarah Kabupaten Mojokerto pada 1993 itu tampak kusam. Selain karena ''ketuaan'', juga barangkali tak ada yang menjamahnya. Bayangkan, untuk menjaga warisan sejarah besar Majapahit dengan armada maritim yang demikian tangguh di masa silam itu, perpustakaan kabupaten ini cukup mempercayakannya pada satu buku itu!
Tapi, masih lumayan. Dari satu buku sekunder itu saya mencoret-coret beberapa keterangan tentang sejarah Majapahit walau tanpa meninggalkan decak kagum sama sekali. Beberapa paragraf informasi yang sudah menjadi pengetahuan umum.
Sudahlah. Lupakan. Tak usah rewel menanyakan di mana Kitab Negarakertagama yang masyhur itu. Mari masuk kota, lewat Jalan Majapahit, lurus ke Raden Wijaya, dan berhenti di Gajah Mada. Tiga nama jalan itu membuat saya sedikit masygul: O, saya benar-benar berada dalam episentrum sejarah.
Apalagi, perpustakaan kota berada di salah satu bahu (Jalan) Gajah Mada. Sosok yang sumpah kuasanya menggetarkan tanah-tanah Nusantara. Ya, Gajah Mada memang jaya, tapi perpustakaannya tidak. Bahkan curiculum vitae (cv) Gajah Mada tak tercatat dalam perpustakaan kota ini. Satu-satunya buku yang saya temui adalah: Perundangan Madjapahit karya Prof Dr Slamet Muljana (Jakarta: Bharata, 1967, 167 hlm.). Di halaman buku itu masih ada stempel Proyek Pengembangan Perpustakaan Jawa Timur T.A. 1984/1985.
Saya berpikir, barangkali saja masih ada judul lain, tapi sedang dipinjam orang. Maka, saya buka katalog buku 1997 yang tertudung dalam map kuning yang sudah lecet dan sobek-sobek. Tak ada lagi. Memang cuma itu. Aneh juga, bagaimana bisa perpustakaan kabupaten dan kota bersepakat untuk seri: 1-1. Satu buku di perpustakaan kabupaten, satu buku di perpustakaan kota.
Ketimbang pulang ke Jogja dengan penuh kesal, maka kuputuskan bertahan tiga jam dalam perpustakaan yang riuh dan sempit itu. Hanya ngelangut. Membuka buku apa saja dan sesekali menimang koran. Memperhatikan dua kipas angin yang sedang tancap gas dengan didorong mesin pendingin. Mendongak ke atas. Hanya satu neon yang menyala untuk menerangi empat meja besar.
Saya memang memegang brosur tentang sejarah berdiri dan kegiatan pengurus perpustakaan yang bersisian dengan taman kanak-kanak ini. Tapi bukan mencatat apa yang ada di brosur itu yang membuat saya mesti jauh-jauh ke kota ini dengan menumpang sepeda motor. Saya ingin melihat dan merasakan langsung bagaimana kota ini memelihara sejarah dirinya sendiri dalam sebuah gedung eksotik bernama perpustakaan.
Karena kecewa itu, saya pun urung menuliskan apa pun tentang (perpustakaan) kota ini. Hingga dua tahun kemudian ketika semua orang ramai-ramai berteriak untuk menyelamatkan (situs) Majapahit dari pembangunan bergaya barbar yang ironisnya justru atas nama pembangunan pusat informasi Majapahit, catatan suram kunjungan itu pun saya tarik dari laci dan menyalinnya kembali.
Tiba-tiba suara parau novelis Ceko Milan Kundera mendengung: ''Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya; maka pastilah bangsa itu akan musnah.''
O, Tuan Kundera, bagaimana kalau pernyataan tuan itu saya modifikasi sedikit. Jadinya begini: Untuk menyempurnakan kepahitan nasib (sejarah) Majapahit (dan Mojokerto), selain buku-buku yang merekam sejarah kota itu disingkirkan dari perpustakaan kota, seluruh situs masa silam yang menandai sejarah kota itu juga sudah harus dirusakbinasakan atau jual secuil demi secuil di pasar gelap benda purbakala.
Dengan begitu, insya Allah, tiga generasi lagi penghuni kota ini akan diserang epidemi amnesia atas kejayaan masa lalu mereka sendiri. Berdoa saja. (*)
Muhidin M Dahlan, kerani di Indonesia Buku. Tinggal di Jogjakarta
Sumber Jawa Pos, 18 Januari 2009
Arkeolog berteriak. Koran-koran menulis seram-seram. Berhalaman-halaman lagi. Banyak yang menyatakan keprihatinannya. Pemerintah lalu minta maaf dan meninjau kembali pembangunan pusat informasi ''pelestarian'' kejayaan masa silam itu.
Apa-apaan ini semua. Mengapa baru brangasan sekarang. Begitu sibuk sepertinya kiamat sejarah sudah di muka pintu. Dan mengapa pula pemerintah mesti repot sembah sujud untuk memohon maaf atas kesalahan yang sudah sangat dan sangat biasa dilakukannya.
Penghancuran ingatan atas warisan (cerita) Majapahit itu toh sudah berlangsung dengan sangat lama, sistematis, dan halus. Dan itu dilakukan pemerintah yang dibantu sikap bisu masyarakat (terpelajar) Mojokerto sendiri.
Kalau tak percaya, datangi saja dua perpustakaannya: perpustakaan kabupaten dan kota. Dua perpustakaan itu menjadi cermin terbaik bagaimana sejarah Majapahit yang menaungi kota ini menjadi cerita yang telah kehilangan pukaunya. Dua perpustakaan itu nyaris sama buruknya dengan perpustakaan Kediri dari hasil kelana saya di perpustakaan kota-kota yang pernah punya nama besar di masa silam.
Kata para pemangku buku, perpustakaan dibuat untuk mencerdaskan masyarakat. Tapi bukan sekadar itu. Perpustakaan juga dibuat sebagai benteng pertahanan ingatan (sejarah) kolektif masyarakat dari gerusan waktu. Perpustakaan adalah jangkar kesadaran dari mana masyarakat itu berasal dan bagaimana menyiasati masa depan dengan jangkar informasi kejayaan dan dosa masa lalu. Maka itulah perpustakaan mesti selalu berada di tengah kota, di jantung kesibukan masyarakat.
Tapi di perpustakaan Mojokerto (kabupaten dan kota), kisah kejayaan Majapahit hanyalah puing-puing yang tiada berguna.
Ayo, mari masuk ke perpustakaan kabupaten yang ada di Jalan RA Basuni. Jangan lupa buka sepatu/sandal. Tak tahu bagaimana asal muasal aturan yang mirip masuk musala ini. Ruangan itu tak terlalu besar dan mirip puskesmas kecamatan. Buku-buku tak tersusun rapi. Pengategorian buku awut-awutan. Di rak yang mestinya dikuasai kesusastraan juga disusupi buku-buku pendidikan wiraswasta.
Hanya satu buku tentang sejarah Kota Mojokerto di sini dengan tampang yang memelas: Sejarah Mojokerto, Sebuah Pendekatan Administratif dan Sosial Budaya. Buku yang disusun Tim Penulisan Sejarah Kabupaten Mojokerto pada 1993 itu tampak kusam. Selain karena ''ketuaan'', juga barangkali tak ada yang menjamahnya. Bayangkan, untuk menjaga warisan sejarah besar Majapahit dengan armada maritim yang demikian tangguh di masa silam itu, perpustakaan kabupaten ini cukup mempercayakannya pada satu buku itu!
Tapi, masih lumayan. Dari satu buku sekunder itu saya mencoret-coret beberapa keterangan tentang sejarah Majapahit walau tanpa meninggalkan decak kagum sama sekali. Beberapa paragraf informasi yang sudah menjadi pengetahuan umum.
Sudahlah. Lupakan. Tak usah rewel menanyakan di mana Kitab Negarakertagama yang masyhur itu. Mari masuk kota, lewat Jalan Majapahit, lurus ke Raden Wijaya, dan berhenti di Gajah Mada. Tiga nama jalan itu membuat saya sedikit masygul: O, saya benar-benar berada dalam episentrum sejarah.
Apalagi, perpustakaan kota berada di salah satu bahu (Jalan) Gajah Mada. Sosok yang sumpah kuasanya menggetarkan tanah-tanah Nusantara. Ya, Gajah Mada memang jaya, tapi perpustakaannya tidak. Bahkan curiculum vitae (cv) Gajah Mada tak tercatat dalam perpustakaan kota ini. Satu-satunya buku yang saya temui adalah: Perundangan Madjapahit karya Prof Dr Slamet Muljana (Jakarta: Bharata, 1967, 167 hlm.). Di halaman buku itu masih ada stempel Proyek Pengembangan Perpustakaan Jawa Timur T.A. 1984/1985.
Saya berpikir, barangkali saja masih ada judul lain, tapi sedang dipinjam orang. Maka, saya buka katalog buku 1997 yang tertudung dalam map kuning yang sudah lecet dan sobek-sobek. Tak ada lagi. Memang cuma itu. Aneh juga, bagaimana bisa perpustakaan kabupaten dan kota bersepakat untuk seri: 1-1. Satu buku di perpustakaan kabupaten, satu buku di perpustakaan kota.
Ketimbang pulang ke Jogja dengan penuh kesal, maka kuputuskan bertahan tiga jam dalam perpustakaan yang riuh dan sempit itu. Hanya ngelangut. Membuka buku apa saja dan sesekali menimang koran. Memperhatikan dua kipas angin yang sedang tancap gas dengan didorong mesin pendingin. Mendongak ke atas. Hanya satu neon yang menyala untuk menerangi empat meja besar.
Saya memang memegang brosur tentang sejarah berdiri dan kegiatan pengurus perpustakaan yang bersisian dengan taman kanak-kanak ini. Tapi bukan mencatat apa yang ada di brosur itu yang membuat saya mesti jauh-jauh ke kota ini dengan menumpang sepeda motor. Saya ingin melihat dan merasakan langsung bagaimana kota ini memelihara sejarah dirinya sendiri dalam sebuah gedung eksotik bernama perpustakaan.
Karena kecewa itu, saya pun urung menuliskan apa pun tentang (perpustakaan) kota ini. Hingga dua tahun kemudian ketika semua orang ramai-ramai berteriak untuk menyelamatkan (situs) Majapahit dari pembangunan bergaya barbar yang ironisnya justru atas nama pembangunan pusat informasi Majapahit, catatan suram kunjungan itu pun saya tarik dari laci dan menyalinnya kembali.
Tiba-tiba suara parau novelis Ceko Milan Kundera mendengung: ''Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya; maka pastilah bangsa itu akan musnah.''
O, Tuan Kundera, bagaimana kalau pernyataan tuan itu saya modifikasi sedikit. Jadinya begini: Untuk menyempurnakan kepahitan nasib (sejarah) Majapahit (dan Mojokerto), selain buku-buku yang merekam sejarah kota itu disingkirkan dari perpustakaan kota, seluruh situs masa silam yang menandai sejarah kota itu juga sudah harus dirusakbinasakan atau jual secuil demi secuil di pasar gelap benda purbakala.
Dengan begitu, insya Allah, tiga generasi lagi penghuni kota ini akan diserang epidemi amnesia atas kejayaan masa lalu mereka sendiri. Berdoa saja. (*)
Muhidin M Dahlan, kerani di Indonesia Buku. Tinggal di Jogjakarta
Sumber Jawa Pos, 18 Januari 2009
04 Januari 2009
Buku, Seni, dan Kemewahan
Buku bukan hanya barang cetakan asal jadi. Atau melulu teks yang dibaca. Buku juga adalah seni. Seluruh proses penciptaan buku hingga hadir di pangkuan para pembaca yang budiman, pastilah dikerjakan dengan kecintaan yang melimpah-limpah. Termasuk soal pameran buku. Pameran yang dibuat asal-asalan, sebagaimana yang kerap kita lihat dalam ajang pameran buku di Indonesia, pastilah pameran yang tak diselenggarakan dengan dorongan naluri seni, melainkan melulu menajdikan buku sebagai barang niaga sebagaimana kepercayaan para saudagar.
Keyakinan itu pula yang dipercayai dengan keras kepala (true belivers) oleh sebuah kelab buku di Amerika pada satu seperempat abad yang lalu. Kelab yang menghimpun para kolektor buku ini bernama Kelab Grolier. Didirikan di rumah Robert Hoe, di 11 East 33rd Street, New York. Nama kelab ini ditasbihkan setelah Jean Grolier de Servi�res, seorang jenderal terkemuka di Prancis, memberikan partisipasinya dalam bentuk saham.
Kelab ini beranggotakan para kolektor buku kawakan. Di antaranya William I. Andrews, Theodore L. de Vienne, A.W. Drake, Albert Gallup, Brayton Ives, Samuel W. Martin, E. S. Mead, Arthur B. Tornure, dan Robert Hoe. Dikomandani pertama kali Robert Hoe, saudagar mesin cetak yang tercandui oleh buku, para pecinta buku lalu bersepakat menghimpun diri dalam kelab ini karena sebuah kesadaran yang sama; membangun studi literasi dari sisi produksi buku hingga menjadi sebuah karya seni.
Kelab Grolier mempelajari dengan seksama bagaimana sejarah penerbitan sebuah buku. Mereka juga mendiskusikan bagaimana cetakan buku yang baik. Dalam pertemuannya, mereka juga membahas ihwal metode penjilidan yang kuat, rapi, dan tahan lama. Pun dibahas tentang ilustrasi sampul yang menarik dan memenuhi estetika seni. Bahkan, kelab ini membahas dengan serius bagaimana media promosi buku (pamflet atau poster) dibuat dengan tak serampangan yang mengabaikan kaidah-kaidah seni.
Inilah kelab yang tak henti-hentinya mempromotori bagaimana sebuah buku tak sekadar lembaran-lembaran kertas berisi deretan tulisan, tetapi juga bagaimana buku menjadi karya seni yang layak diapresiasi.
Untuk itu, kelab ini juga menggelar pameran buku dan percetakan guna memberikan wadah apresiasi buku-buku artistik yang telah mereka kumpulkan. Di pameran ini, buku-buku tak semata dijajar berderet-deret dalam rak seperti pameran yang biasa kita lihat. Di ajang ini, buku diperlakukan dengan sangat istimewa. Buku-buku itu disusun dengan demikian artistik di sebuah galeri seni, bersanding dengan karya-karya seni lain seperti lukisan dan patung-patung. Di sini buku telah naik pangkat dari sekadar barang niaga menjadi karya seni bernilai tinggi.
Itulah yang dilakukan Balai Lelang Sidharta, Jakarta, pada 7 Desember 2008 silam, untuk menyebut satu contoh. Dalam lelang bertema Indonesia's Diversity in Fine Art itu ditampilkan semua karya seni terbaik dan berharga ratusan juta seperti patung, lukisan, keramik, seni instalasi, bahkan berlian. Di antara benda-benda seni ratusan juta rupiah itu, beberapa buku juga ikut serta di dalamnya, antara lain: Sumatra's O.K. karya C.J. Kkleingrothe (Medan, 48 hlm, Rp 7-10 juta), Histoire des Voyages karya Walckenaer C.A (1830, 537 hlm., Rp 8-12 juta) dan De Inlandsche Kunstnijverheid Vol. I: Het Vlechtwerk (S-Gravengage, 1912: De Book & Konsttdrukkerij Mouton & Co., 442 hlm., Rp 6-9 juta).
Ada juga Indie|Hindia karya Lekkerker (Gronigen, Den Haag, Batavia, ca 1930, 400 hlm.) Buku itu terdiri dari 620 ilustrasi dari foto 200 lempeng dengan keterangan dalam bahasa Belanda dan Indonesia. Dijual pula enam lembar peta Batavia lama berjudul Feestmarsch Batavia 1893 (cat air di atas kertas, 56 x 45.5 cm, Rp 3-4.5 juta).
Buku-buku itu berbanderol mahal memang. Tapi bukan di situ duduk soalnya, melainkan bahwa buku adalah karya seni yang luar biasa tingginya. Karena seni tinggi, maka buku juga mendapat harga yang pantas, seperti harga lukisan yang membobol langit. Kelab buku seperti Glorier menaruh perhatian sangat besar terhadap hal-hal demikian.
Mungkin terlalu ideal dan muluk. Tapi, paling tidak, apa yang diyakini Kelab Glorier bisa menyuntikkan semangat bagi para penggiat pameran buku di Indonesia agar memperhatikan sisi-sisi lain dari buku di luar objek komoditi perniagaan.
Buku bagi para pecintanya adalah sebuah karya, sebuah hasil olah pikir, pengejawantahan kreativitas dan ketekunan. Buku juga memiliki ruh yang bisa disampaikan dengan lebih mengeksplorasi nilai artistik yang dimilikinya. Dengan memadukan niaga dan seni, maka pencapaian tujuan keduanya termaksimalkan. Dan pameran buku pun menjadi lebih nyeni. (*)
Diana A.V. Sasa, pencinta buku, tinggal di Surabaya
Sumber Jawa Pos, 4 Januari 2009
Keyakinan itu pula yang dipercayai dengan keras kepala (true belivers) oleh sebuah kelab buku di Amerika pada satu seperempat abad yang lalu. Kelab yang menghimpun para kolektor buku ini bernama Kelab Grolier. Didirikan di rumah Robert Hoe, di 11 East 33rd Street, New York. Nama kelab ini ditasbihkan setelah Jean Grolier de Servi�res, seorang jenderal terkemuka di Prancis, memberikan partisipasinya dalam bentuk saham.
Kelab ini beranggotakan para kolektor buku kawakan. Di antaranya William I. Andrews, Theodore L. de Vienne, A.W. Drake, Albert Gallup, Brayton Ives, Samuel W. Martin, E. S. Mead, Arthur B. Tornure, dan Robert Hoe. Dikomandani pertama kali Robert Hoe, saudagar mesin cetak yang tercandui oleh buku, para pecinta buku lalu bersepakat menghimpun diri dalam kelab ini karena sebuah kesadaran yang sama; membangun studi literasi dari sisi produksi buku hingga menjadi sebuah karya seni.
Kelab Grolier mempelajari dengan seksama bagaimana sejarah penerbitan sebuah buku. Mereka juga mendiskusikan bagaimana cetakan buku yang baik. Dalam pertemuannya, mereka juga membahas ihwal metode penjilidan yang kuat, rapi, dan tahan lama. Pun dibahas tentang ilustrasi sampul yang menarik dan memenuhi estetika seni. Bahkan, kelab ini membahas dengan serius bagaimana media promosi buku (pamflet atau poster) dibuat dengan tak serampangan yang mengabaikan kaidah-kaidah seni.
Inilah kelab yang tak henti-hentinya mempromotori bagaimana sebuah buku tak sekadar lembaran-lembaran kertas berisi deretan tulisan, tetapi juga bagaimana buku menjadi karya seni yang layak diapresiasi.
Untuk itu, kelab ini juga menggelar pameran buku dan percetakan guna memberikan wadah apresiasi buku-buku artistik yang telah mereka kumpulkan. Di pameran ini, buku-buku tak semata dijajar berderet-deret dalam rak seperti pameran yang biasa kita lihat. Di ajang ini, buku diperlakukan dengan sangat istimewa. Buku-buku itu disusun dengan demikian artistik di sebuah galeri seni, bersanding dengan karya-karya seni lain seperti lukisan dan patung-patung. Di sini buku telah naik pangkat dari sekadar barang niaga menjadi karya seni bernilai tinggi.
Itulah yang dilakukan Balai Lelang Sidharta, Jakarta, pada 7 Desember 2008 silam, untuk menyebut satu contoh. Dalam lelang bertema Indonesia's Diversity in Fine Art itu ditampilkan semua karya seni terbaik dan berharga ratusan juta seperti patung, lukisan, keramik, seni instalasi, bahkan berlian. Di antara benda-benda seni ratusan juta rupiah itu, beberapa buku juga ikut serta di dalamnya, antara lain: Sumatra's O.K. karya C.J. Kkleingrothe (Medan, 48 hlm, Rp 7-10 juta), Histoire des Voyages karya Walckenaer C.A (1830, 537 hlm., Rp 8-12 juta) dan De Inlandsche Kunstnijverheid Vol. I: Het Vlechtwerk (S-Gravengage, 1912: De Book & Konsttdrukkerij Mouton & Co., 442 hlm., Rp 6-9 juta).
Ada juga Indie|Hindia karya Lekkerker (Gronigen, Den Haag, Batavia, ca 1930, 400 hlm.) Buku itu terdiri dari 620 ilustrasi dari foto 200 lempeng dengan keterangan dalam bahasa Belanda dan Indonesia. Dijual pula enam lembar peta Batavia lama berjudul Feestmarsch Batavia 1893 (cat air di atas kertas, 56 x 45.5 cm, Rp 3-4.5 juta).
Buku-buku itu berbanderol mahal memang. Tapi bukan di situ duduk soalnya, melainkan bahwa buku adalah karya seni yang luar biasa tingginya. Karena seni tinggi, maka buku juga mendapat harga yang pantas, seperti harga lukisan yang membobol langit. Kelab buku seperti Glorier menaruh perhatian sangat besar terhadap hal-hal demikian.
Mungkin terlalu ideal dan muluk. Tapi, paling tidak, apa yang diyakini Kelab Glorier bisa menyuntikkan semangat bagi para penggiat pameran buku di Indonesia agar memperhatikan sisi-sisi lain dari buku di luar objek komoditi perniagaan.
Buku bagi para pecintanya adalah sebuah karya, sebuah hasil olah pikir, pengejawantahan kreativitas dan ketekunan. Buku juga memiliki ruh yang bisa disampaikan dengan lebih mengeksplorasi nilai artistik yang dimilikinya. Dengan memadukan niaga dan seni, maka pencapaian tujuan keduanya termaksimalkan. Dan pameran buku pun menjadi lebih nyeni. (*)
Diana A.V. Sasa, pencinta buku, tinggal di Surabaya
Sumber Jawa Pos, 4 Januari 2009
30 Desember 2008
Peranakan Arab dan Dunia Perbukuan
Mantan Menteri Luar Negeri Ali Alatas wafat belum lama ini. Hampir semua media nasional menempatkan berita itu di halaman utama. Berbagai tulisan obituari menyanjung almarhum sebagai sosok abdi negara yang luar biasa. Sebagai diplomat, Ali Alatas sangat piawai. Penampilannya santun dan rendah hati. Tidak pernah menonjolkan diri. Nyaris seluruh hidupnya untuk bangsa dan negara ini.
Sebelum itu, tiga pekan lalu, sebuah acara bertajuk Festival Kampoeng Ampel digelar di Balai Pemuda Surabaya. Selain penampilan karya seni, juga ada diskusi dan bedah buku tentang orang-orang Arab dari Hadramaut, Kebangkitan Hadrami di Indonesia karya Natalie Mobini Kesheh. Nama Ali Alatas tentu disebut-sebut karena ketokohannya yang menjulang tinggi.
Tetapi, berbicara tentang orang-orang peranakan Arab, tak urung akan menimbulkan keheranan. Orang akan heran karena banyak tokoh hebat peranakan Arab seperti Ali Alatas, tetapi susah mendapatkan buku tentang kehidupan kelompok etnis tersebut. Kita tahu tentang Anies Baswedan PhD, intelektual muda yang kini menjabat rektor Universitas Paramadina. Seperti juga bintang musik rock Achmad Albar, bintang sinetron Shireen Sungkar, Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad, promotor balap mobil Helmy Sungkar, tokoh HAM Munir, mantan Menkeu Fuad Bawazier, almarhum Mendikbud Fuad Hassan, mantan Menkeu Mar'ie Muhammad, dan sebagainya.
Saya memang heran, karena sulit sekali saya menemukan buku-buku tentang peranakan Arab di Indonesia. Kalau ada, tentu membicarakan masa lalu. Nyaris tidak ada yang berbicara masa kini. Bandingkan dengan buku-buku yang membahas orang-orang Tionghoa. Amat banyak ditemukan di toko buku. Padahal, sekarang jumlah doktor dan profesor keturunan Arab juga banyak. Padahal juga, saat ini tokoh keturunan Arab yang bergerak di dunia perbukuan dan media juga tidak sedikit. Kita mengenal nama Nono Anwar Makarim PhD, tokoh pers mahasiswa 1960-an yang kini jadi ahli hukum dan juga promotor perbukuan. Di Surabaya, ada Adi Amar yang memimpin Penerbit Buku Risalah Gusti. Sedangkan di Bandung ada Haidar Bagir PhD, bos penerbit Mizan, yang baru terpilih sebagai The Best CEO 2008 versi Majalah Swa.
Lebih dari itu, orang-orang keturunan Arab ternyata adalah pionir dunia penerbitan di negeri ini. Sebuah artikel yang ditulis Nico Kaptein, ilmuwan Belanda, pada 1993, menunjukkan hal itu. Dalam tulisan berjudul An Arab Printer in Surabaya in 1853, disebutkan bahwa penulis mendapati sebuah buku berbahasa Arab campur bahasa Melayu di Perpustakaan Universitas Leiden terbitan Surabaya. Buku berjudul Sharaf al-anam itu diselesaikan di Kampung Baru, Surabaya, di tepi Kali Mas pada 15 Ramadan tahun 1269 Hijriyah. Penerbitnya, Husayn ibn Muhammad al-Husayn al-Habshi. Sebuah artikel yang menarik, karena juga membicarakan mesin cetak yang saat itu sangat sulit dimiliki orang di luar orang Belanda. Sayangnya, Nico Kaptein tidak bisa memperoleh informasi bagaimana kelanjutan penerbitan tersebut. Bangkrut ataukah disita oleh pemerintah kolonial Belanda.
Kisah orang-orang peranakan Arab jelas sangat menarik. Saya membayangkan setelah ini akan terbit buku-buku yang membicarakan kelompok etnis ini. Tentang generasi masa kininya, bukan masa lalu. Selama ini memang hanya buku-buku ''masa lalu'' yang ada. Itu pun sudah sulit ditemukan, kecuali di perpustakaan tertentu. Misalnya, buku Hadramaut Dan Koloni Arab di Nusantara karya L.W.C. van den Berg. Buku ini terbit pertama kali dalam bahasa Belanda pada 1886. Buku ini memang bagus. Tetapi, ya itu tadi, berbicara masa lalu, karena memang sudah lama ditulis.
Dari buku van den Berg kita tahu bagaimana kerasnya perjuangan para lelaki Hadramaut untuk bisa datang ke Indonesia. Dari kota-kota pedalaman di Hadramaut, mereka harus berjalan kaki ratusan kilometer ke kota kawasan pantai (pelabuhan), sebelum akhirnya naik kapal berbulan-bulan lamanya hingga tiba di Indonesia.
Meskipun ada orang-orang Arab Yaman yang datang jauh hari sebelumnya, gelombang besar imigran Arab diperkirakan tiba di negeri ini setelah abad ke-17. Mereka tinggal di kantong-kantong pemukiman kota-kota pantai Jawa seperti Batavia (Jakarta), Cirebon, Pekalongan, Tegal, Semarang, Gresik, Surabaya, Bangil, dan sebagainya. Di antara mereka juga tinggal di kota pedalaman seperti Solo dan Jogjakarta. Sebagian kecil dari mereka bahkan sampai ke Maluku Utara seperti Ternate, Tidore, dan juga ke NTT dan Timor Leste (dulu Timor Timur). Mereka datang tanpa istri, kemudian kawin dengan perempuan setempat hingga peranak-pinak.
Saya membayangkan, para penulis akan mengabadikan beragam kisah yang menarik tentang orang-orang peranakan Arab masa kini itu. Bagaimana kaum mudanya? Apa kekhasan kehidupan mereka? Apa yang membedakan mereka dengan generasi sebelumnya?
Orang-orang Arab di masa lalu memang dikenal sangat rajin dan ulet bekerja. Mereka dilukiskan sebagai orang-orang yang hemat dalam mengumpulkan uang hasil dagangnya, dan setelah cukup banyak mereka belikan tanah atau rumah. Rumah yang mereka beli kemudian mereka sewakan, uangnya ditabung dan setelah terkumpul mereka belikan rumah lainnya. Begitu seterusnya.
Bukan sesuatu yang aneh bila seorang keturunan Arab memiliki 10 hingga 20 rumah dan gedung bangunan kantor. Namun, anak cucu mereka dewasa ini tidak mempunyai ketekunan dan keuletan seperti itu. Setelah orang tua dan kakeknya meninggal, mereka menjual begitu saja harta warisan keluarga.
Di masa lalu, banyak rumah dan bangunan megah di banyak jalan protokol di Surabaya dan Jakarta adalah milik orang-orang keturunan Arab. Namun sekarang, bangunan-bangunan itu telah berganti pemilik.
Fakta-fakta seperti itulah baru sebagian topik yang layak ditulis sebagai buku. Kita tunggu. (*)
*) Djoko Pitono, jurnalis dan editor buku
Dikutip dari Jawa Pos, 28 Desember 2008
Sebelum itu, tiga pekan lalu, sebuah acara bertajuk Festival Kampoeng Ampel digelar di Balai Pemuda Surabaya. Selain penampilan karya seni, juga ada diskusi dan bedah buku tentang orang-orang Arab dari Hadramaut, Kebangkitan Hadrami di Indonesia karya Natalie Mobini Kesheh. Nama Ali Alatas tentu disebut-sebut karena ketokohannya yang menjulang tinggi.
Tetapi, berbicara tentang orang-orang peranakan Arab, tak urung akan menimbulkan keheranan. Orang akan heran karena banyak tokoh hebat peranakan Arab seperti Ali Alatas, tetapi susah mendapatkan buku tentang kehidupan kelompok etnis tersebut. Kita tahu tentang Anies Baswedan PhD, intelektual muda yang kini menjabat rektor Universitas Paramadina. Seperti juga bintang musik rock Achmad Albar, bintang sinetron Shireen Sungkar, Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad, promotor balap mobil Helmy Sungkar, tokoh HAM Munir, mantan Menkeu Fuad Bawazier, almarhum Mendikbud Fuad Hassan, mantan Menkeu Mar'ie Muhammad, dan sebagainya.
Saya memang heran, karena sulit sekali saya menemukan buku-buku tentang peranakan Arab di Indonesia. Kalau ada, tentu membicarakan masa lalu. Nyaris tidak ada yang berbicara masa kini. Bandingkan dengan buku-buku yang membahas orang-orang Tionghoa. Amat banyak ditemukan di toko buku. Padahal, sekarang jumlah doktor dan profesor keturunan Arab juga banyak. Padahal juga, saat ini tokoh keturunan Arab yang bergerak di dunia perbukuan dan media juga tidak sedikit. Kita mengenal nama Nono Anwar Makarim PhD, tokoh pers mahasiswa 1960-an yang kini jadi ahli hukum dan juga promotor perbukuan. Di Surabaya, ada Adi Amar yang memimpin Penerbit Buku Risalah Gusti. Sedangkan di Bandung ada Haidar Bagir PhD, bos penerbit Mizan, yang baru terpilih sebagai The Best CEO 2008 versi Majalah Swa.
Lebih dari itu, orang-orang keturunan Arab ternyata adalah pionir dunia penerbitan di negeri ini. Sebuah artikel yang ditulis Nico Kaptein, ilmuwan Belanda, pada 1993, menunjukkan hal itu. Dalam tulisan berjudul An Arab Printer in Surabaya in 1853, disebutkan bahwa penulis mendapati sebuah buku berbahasa Arab campur bahasa Melayu di Perpustakaan Universitas Leiden terbitan Surabaya. Buku berjudul Sharaf al-anam itu diselesaikan di Kampung Baru, Surabaya, di tepi Kali Mas pada 15 Ramadan tahun 1269 Hijriyah. Penerbitnya, Husayn ibn Muhammad al-Husayn al-Habshi. Sebuah artikel yang menarik, karena juga membicarakan mesin cetak yang saat itu sangat sulit dimiliki orang di luar orang Belanda. Sayangnya, Nico Kaptein tidak bisa memperoleh informasi bagaimana kelanjutan penerbitan tersebut. Bangkrut ataukah disita oleh pemerintah kolonial Belanda.
Kisah orang-orang peranakan Arab jelas sangat menarik. Saya membayangkan setelah ini akan terbit buku-buku yang membicarakan kelompok etnis ini. Tentang generasi masa kininya, bukan masa lalu. Selama ini memang hanya buku-buku ''masa lalu'' yang ada. Itu pun sudah sulit ditemukan, kecuali di perpustakaan tertentu. Misalnya, buku Hadramaut Dan Koloni Arab di Nusantara karya L.W.C. van den Berg. Buku ini terbit pertama kali dalam bahasa Belanda pada 1886. Buku ini memang bagus. Tetapi, ya itu tadi, berbicara masa lalu, karena memang sudah lama ditulis.
Dari buku van den Berg kita tahu bagaimana kerasnya perjuangan para lelaki Hadramaut untuk bisa datang ke Indonesia. Dari kota-kota pedalaman di Hadramaut, mereka harus berjalan kaki ratusan kilometer ke kota kawasan pantai (pelabuhan), sebelum akhirnya naik kapal berbulan-bulan lamanya hingga tiba di Indonesia.
Meskipun ada orang-orang Arab Yaman yang datang jauh hari sebelumnya, gelombang besar imigran Arab diperkirakan tiba di negeri ini setelah abad ke-17. Mereka tinggal di kantong-kantong pemukiman kota-kota pantai Jawa seperti Batavia (Jakarta), Cirebon, Pekalongan, Tegal, Semarang, Gresik, Surabaya, Bangil, dan sebagainya. Di antara mereka juga tinggal di kota pedalaman seperti Solo dan Jogjakarta. Sebagian kecil dari mereka bahkan sampai ke Maluku Utara seperti Ternate, Tidore, dan juga ke NTT dan Timor Leste (dulu Timor Timur). Mereka datang tanpa istri, kemudian kawin dengan perempuan setempat hingga peranak-pinak.
Saya membayangkan, para penulis akan mengabadikan beragam kisah yang menarik tentang orang-orang peranakan Arab masa kini itu. Bagaimana kaum mudanya? Apa kekhasan kehidupan mereka? Apa yang membedakan mereka dengan generasi sebelumnya?
Orang-orang Arab di masa lalu memang dikenal sangat rajin dan ulet bekerja. Mereka dilukiskan sebagai orang-orang yang hemat dalam mengumpulkan uang hasil dagangnya, dan setelah cukup banyak mereka belikan tanah atau rumah. Rumah yang mereka beli kemudian mereka sewakan, uangnya ditabung dan setelah terkumpul mereka belikan rumah lainnya. Begitu seterusnya.
Bukan sesuatu yang aneh bila seorang keturunan Arab memiliki 10 hingga 20 rumah dan gedung bangunan kantor. Namun, anak cucu mereka dewasa ini tidak mempunyai ketekunan dan keuletan seperti itu. Setelah orang tua dan kakeknya meninggal, mereka menjual begitu saja harta warisan keluarga.
Di masa lalu, banyak rumah dan bangunan megah di banyak jalan protokol di Surabaya dan Jakarta adalah milik orang-orang keturunan Arab. Namun sekarang, bangunan-bangunan itu telah berganti pemilik.
Fakta-fakta seperti itulah baru sebagian topik yang layak ditulis sebagai buku. Kita tunggu. (*)
*) Djoko Pitono, jurnalis dan editor buku
Dikutip dari Jawa Pos, 28 Desember 2008
22 Desember 2008
Meningkatkan Minat Baca Melalui Ponsel
Oleh Romi Febriyanto Saputro
Perkembangan industri seluler di tanah air cukup menggembirakan. Saat ini diperkirakan 70 juta penduduk Indonesia telah menggunakan telepon seluler (ponsel). Jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat menjadi 120 juta orang pada tahun 2010.
Hal ini menunjukkan bahwa akses masyarakat Indonesia untuk menikmati layanan telekomunikasi terhitung cukup besar. Bahkan, masyarakat yang tinggal di pelosok pedesaan pun kini cukup leluasa menikmati perangkat komunikasi modern ini.
Ironisnya, meningkatnya akses masyarakat terhadap ponsel tidak diikuti dengan meningkatnya kualitas masyarakat. Ponsel belum difungsikan secara optimal untuk memberdayakan kualitas diri melainkan masih sekedar berfungsi sebagai gaya hidup.
Kondisi ini diperparah dengan munculnya layanan nilai tambah dari operator seluler yang membodohi masyarakat. Sms primbon, feng shui, ramalan, klenik, cinta monyet, kuis, judi terselubung dan selebritis merupakan beberapa contoh layanan nilai tambah yang jauh dari semangat memberdayakan masyarakat melainkan sekedar memperdayai masyarakat.
Untuk itu diperlukan suatu revolusi layanan nilai tambah atau lazim disebut dengan value added services (VAS) yang efektif dan memang diperlukan oleh masyarakat. Salah satu bentuk VAS ini adalah layanan buku dalam ponsel.
Di tanah air geliat buku dalam ponsel sudah mulai tumbuh. M- Komik, yang merupakan kepanjangan dari Mobile Komik diluncurkan oleh Telkomsel beberapa waktu yang lalu. Dengan layanan ini, komik wayang seperti Bharatayuda dan Ramayana dapat dinikmati melalui ponsel. Beberapa novel Islami pun dapat dinikmati dengan cara serupa. Seperti Penerbit Mizan yang kini telah meluncurkan fonovela yang memungkinkan pembaca mengunduh file-file novel terbitan Mizan ke dalam ponsel.
Membaca buku dalam ponsel mungkin memang tidak senyaman membaca buku edisi cetak yang memiliki ukuran yang lebih besar. Namun kehadiran buku dalam ponsel dapat menjadi alternatif bagi mereka yang memiliki mobilitas tinggi sehingga hampir tidak punya waktu luang untuk membaca buku.
Dengan layanan nilai tambah ini seseorang dapat menyimpan puluhan bahkan ratusan buku dalam ponselnya dan dapat membaca ketika ada waktu luang di mana pun mereka berada. Suatu kelebihan yang tidak dimiliki oleh buku edisi cetak.
Ada beberapa manfaat yang dapat dipetik dari buku dalam ponsel ini. Pertama, meningkatkan faktor kesempatan membaca. Diakui atau tidak, kesempatan membaca merupakan barang langka di republik tercinta ini. Waktu yang dimiliki masyarakat banyak tersita untuk mencari nafkah, apalagi di masa krisis global saat ini yang dampaknya sangat terasa. Masyarakat perlu bekerja lebih keras untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.
Membaca buku dalam ponsel memungkinkan setiap orang untuk membaca buku secara lebih leluasa daripada membaca buku edisi cetak. Di tengah kultur baca yang belum mapan, membaca buku sambil duduk di dalam bus atau kereta merupakan hal yang aneh. Membaca buku dalam ponsel jauh lebih nyaman dalam situasi seperti ini.
Kedua, menggugah kepedulian masyarakat terhadap buku. Kepedulian masyarakat terhadap buku ditentukan oleh sejauh mana masyarakat menganggap penting atau tidak penting suatu informasi yang terkandung dalam suatu buku. Kehadiran buku dalam ponsel lebih berpeluang untuk menawarkan kepekaan dan variasi kebutuhan masyarakat. Seseorang tidak perlu datang ke toko buku untuk memuaskan dahaga informasi yang diperlukannya. Melainkan cukup dengan mengakses beragam pilihan buku dari sebuah ponsel.
Ketiga, membangun stigma positif layanan nilai tambah. Selama ini layanan nilai tambah seluler hanya berkutat seputar kuis, ring tone, dan game. Hal ini lambat laun akan menimbulkan stigma negatif di mata masyarakat. Kehadiran buku dalam ponsel dengan harga yang tidak terlalu mahal diharapkan bisa membangun stigma positif layanan nilai tambah sekaligus menghapus stigma negatif tersebut.
Dominasi iklan layanan nada sambung maupun ring tone sudah saatnya digantikan dengan semarak iklan buku seluler. Jika buku dalam ponsel dapat dipasarkan sehebat lagu nada sambung, maka dengan sendirinya akan meningkatkan gairah dunia perbukuan.
Keempat, mendidik masyarakat untuk selalu dekat dengan buku. Saat ini ponsel sudah menjadi pasangan hidup manusia selain istri atau pacar yang dimiliki. Ke mana pun seseorang pergi, dia akan merasa nyaman jika membawa ponsel. Sebaliknya, tanpa ponsel disakunya, seseorang akan merasa ada sesuatu yang hilang dari hidupnya.
Dengan buku dalam ponsel, seseorang tanpa disadari akan selalu dekat dengan dunia buku. Ke mana pun Ia pergi sang buku akan terus menyertainya. Titik kulminasi yang dapat dicapai dari proses ini adalah tumbuhnya kesadaran pada diri seseorang bahwa arti sebuah buku juga sepenting ponsel dalam kehidupan.
Kelima, menumbuhkan kreatifitas masyarakat. Membaca dapat meningkatkan kinerja otak. Informasi yang diperoleh dengan membaca lebih lama tersimpan dalam memori otak daripada informasi yang diperoleh dengan mendengar atau melihat.
Aktivitas membaca yang teratur akan melahirkan daya kreativitas. Ledakan dari daya kreatifitas ini akan melahirkan budaya menulis, bahkan menulis dengan modal ponsel. Di Jepang, setengah dari karangan fiksi terpopuler di pertengahan tahun pertama 2007 ditulis di ponsel.
Seorang penulis asal Italia yang juga pekerja Teknologi Informasi, Robert Bernocco, menggunakan ponselnya untuk menulis buku novel dalam perjalanan pulang pergi ke kantornya. Ia menulis novel fiksi ilmiah berjudul 'Compagni di Viaggio' (teman perjalanan-red) setebal 384 halaman itu menggunakan fitur T9 pada ponsel merek Nokia miliknya (www.detik.com).
Kehadiran buku dalam ponsel diharapkan dapat mengubah wajah layanan nilai tambah seluler dari sekedar hiburan semata menjadi hiburan yang mencerdaskan masyarakat. Ponsel dapat menjadi daya ungkit untuk meningkatkan minat baca masyarakat. Jumlah pemakai ponsel yang bertambah diharapkan dapat menjadi kontributor guna meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia. Semoga !
Ditulis oleh Romi Febriyanto Saputro, pustakawan pada UPTD Perpustakaan Dinas P & K Kab. Sragen, Pemenang Pertama Lomba Menulis Artikel Tentang Kepustakawanan Indonesia Tahun 2008.
Perkembangan industri seluler di tanah air cukup menggembirakan. Saat ini diperkirakan 70 juta penduduk Indonesia telah menggunakan telepon seluler (ponsel). Jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat menjadi 120 juta orang pada tahun 2010.
Hal ini menunjukkan bahwa akses masyarakat Indonesia untuk menikmati layanan telekomunikasi terhitung cukup besar. Bahkan, masyarakat yang tinggal di pelosok pedesaan pun kini cukup leluasa menikmati perangkat komunikasi modern ini.
Ironisnya, meningkatnya akses masyarakat terhadap ponsel tidak diikuti dengan meningkatnya kualitas masyarakat. Ponsel belum difungsikan secara optimal untuk memberdayakan kualitas diri melainkan masih sekedar berfungsi sebagai gaya hidup.
Kondisi ini diperparah dengan munculnya layanan nilai tambah dari operator seluler yang membodohi masyarakat. Sms primbon, feng shui, ramalan, klenik, cinta monyet, kuis, judi terselubung dan selebritis merupakan beberapa contoh layanan nilai tambah yang jauh dari semangat memberdayakan masyarakat melainkan sekedar memperdayai masyarakat.
Untuk itu diperlukan suatu revolusi layanan nilai tambah atau lazim disebut dengan value added services (VAS) yang efektif dan memang diperlukan oleh masyarakat. Salah satu bentuk VAS ini adalah layanan buku dalam ponsel.
Di tanah air geliat buku dalam ponsel sudah mulai tumbuh. M- Komik, yang merupakan kepanjangan dari Mobile Komik diluncurkan oleh Telkomsel beberapa waktu yang lalu. Dengan layanan ini, komik wayang seperti Bharatayuda dan Ramayana dapat dinikmati melalui ponsel. Beberapa novel Islami pun dapat dinikmati dengan cara serupa. Seperti Penerbit Mizan yang kini telah meluncurkan fonovela yang memungkinkan pembaca mengunduh file-file novel terbitan Mizan ke dalam ponsel.
Membaca buku dalam ponsel mungkin memang tidak senyaman membaca buku edisi cetak yang memiliki ukuran yang lebih besar. Namun kehadiran buku dalam ponsel dapat menjadi alternatif bagi mereka yang memiliki mobilitas tinggi sehingga hampir tidak punya waktu luang untuk membaca buku.
Dengan layanan nilai tambah ini seseorang dapat menyimpan puluhan bahkan ratusan buku dalam ponselnya dan dapat membaca ketika ada waktu luang di mana pun mereka berada. Suatu kelebihan yang tidak dimiliki oleh buku edisi cetak.
Ada beberapa manfaat yang dapat dipetik dari buku dalam ponsel ini. Pertama, meningkatkan faktor kesempatan membaca. Diakui atau tidak, kesempatan membaca merupakan barang langka di republik tercinta ini. Waktu yang dimiliki masyarakat banyak tersita untuk mencari nafkah, apalagi di masa krisis global saat ini yang dampaknya sangat terasa. Masyarakat perlu bekerja lebih keras untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.
Membaca buku dalam ponsel memungkinkan setiap orang untuk membaca buku secara lebih leluasa daripada membaca buku edisi cetak. Di tengah kultur baca yang belum mapan, membaca buku sambil duduk di dalam bus atau kereta merupakan hal yang aneh. Membaca buku dalam ponsel jauh lebih nyaman dalam situasi seperti ini.
Kedua, menggugah kepedulian masyarakat terhadap buku. Kepedulian masyarakat terhadap buku ditentukan oleh sejauh mana masyarakat menganggap penting atau tidak penting suatu informasi yang terkandung dalam suatu buku. Kehadiran buku dalam ponsel lebih berpeluang untuk menawarkan kepekaan dan variasi kebutuhan masyarakat. Seseorang tidak perlu datang ke toko buku untuk memuaskan dahaga informasi yang diperlukannya. Melainkan cukup dengan mengakses beragam pilihan buku dari sebuah ponsel.
Ketiga, membangun stigma positif layanan nilai tambah. Selama ini layanan nilai tambah seluler hanya berkutat seputar kuis, ring tone, dan game. Hal ini lambat laun akan menimbulkan stigma negatif di mata masyarakat. Kehadiran buku dalam ponsel dengan harga yang tidak terlalu mahal diharapkan bisa membangun stigma positif layanan nilai tambah sekaligus menghapus stigma negatif tersebut.
Dominasi iklan layanan nada sambung maupun ring tone sudah saatnya digantikan dengan semarak iklan buku seluler. Jika buku dalam ponsel dapat dipasarkan sehebat lagu nada sambung, maka dengan sendirinya akan meningkatkan gairah dunia perbukuan.
Keempat, mendidik masyarakat untuk selalu dekat dengan buku. Saat ini ponsel sudah menjadi pasangan hidup manusia selain istri atau pacar yang dimiliki. Ke mana pun seseorang pergi, dia akan merasa nyaman jika membawa ponsel. Sebaliknya, tanpa ponsel disakunya, seseorang akan merasa ada sesuatu yang hilang dari hidupnya.
Dengan buku dalam ponsel, seseorang tanpa disadari akan selalu dekat dengan dunia buku. Ke mana pun Ia pergi sang buku akan terus menyertainya. Titik kulminasi yang dapat dicapai dari proses ini adalah tumbuhnya kesadaran pada diri seseorang bahwa arti sebuah buku juga sepenting ponsel dalam kehidupan.
Kelima, menumbuhkan kreatifitas masyarakat. Membaca dapat meningkatkan kinerja otak. Informasi yang diperoleh dengan membaca lebih lama tersimpan dalam memori otak daripada informasi yang diperoleh dengan mendengar atau melihat.
Aktivitas membaca yang teratur akan melahirkan daya kreativitas. Ledakan dari daya kreatifitas ini akan melahirkan budaya menulis, bahkan menulis dengan modal ponsel. Di Jepang, setengah dari karangan fiksi terpopuler di pertengahan tahun pertama 2007 ditulis di ponsel.
Seorang penulis asal Italia yang juga pekerja Teknologi Informasi, Robert Bernocco, menggunakan ponselnya untuk menulis buku novel dalam perjalanan pulang pergi ke kantornya. Ia menulis novel fiksi ilmiah berjudul 'Compagni di Viaggio' (teman perjalanan-red) setebal 384 halaman itu menggunakan fitur T9 pada ponsel merek Nokia miliknya (www.detik.com).
Kehadiran buku dalam ponsel diharapkan dapat mengubah wajah layanan nilai tambah seluler dari sekedar hiburan semata menjadi hiburan yang mencerdaskan masyarakat. Ponsel dapat menjadi daya ungkit untuk meningkatkan minat baca masyarakat. Jumlah pemakai ponsel yang bertambah diharapkan dapat menjadi kontributor guna meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia. Semoga !
Ditulis oleh Romi Febriyanto Saputro, pustakawan pada UPTD Perpustakaan Dinas P & K Kab. Sragen, Pemenang Pertama Lomba Menulis Artikel Tentang Kepustakawanan Indonesia Tahun 2008.
15 Desember 2008
Menulis, Terapi yang Menyembuhkan
Menulis pada hakikatnya merupakan aktivitas yang menggerakkan energi imajinatif nan mencerahkan. Akitivitas menulis tak hanya membuat sehat fisik dan mengukuhkan kekuatan jasmaniah, tetapi juga mencemerlangkan kehidupan. Menulis juga menjadi kekuatan untuk bertahan dari gempuran penyakit yang telah berakar dalam tubuh. Maka, dapat kita lacak dalam lanskap aras dunia kepenulisan termaktub nama-nama penulis yang berkarib dengan penyakit, namun tetap bugar.
Hal ini terekam dalam jejak kepenulisan pemikir wanita dari kaum muslim; Fatima Mernissi. Intelektual muslim yang lahir pada 1940 di Maroko ini banyak menulis buku yang melontarkan pertanyaan ''menggugat'' dan mencerahkan. Beberapa karyanya di antaranya, Beyond the Veil, Doing Daily Battle, Woman and Islam, The Forgotten Queens of Islam, Islam and Democracy, Dream of Trespass, dan beberapa yang lain.
Mernissi mengungkapkan bahwa menulis merupakan forum terbaik untuk menumpahkan apa saja yang mengganggu pikiran dan perasaan. Lebih lanjut Fatima Mernissi mewartakan kepada kita bahwa menulis dapat meningkatkan kualitas kesehatan manusia. Menulis secara istiqomah setiap hari lebih baik daripada operasi pengencangan wajah. ''Usahakan menulis setiap hari, niscaya kulit Anda akan menjadi segar kembali akibat kandungan manfaatnya yang luar biasa,'' ungkap Mernissi.
Aktivitas menulis yang getol dengan kajian bahasa dan menganyam kata secara detail dapat menjadikan tubuh ini bebas dari penyakit kronis. Menumpahkan gagasan dalam bentuk teks juga menjadi ''terapi'' yang menyembuhkan berbagai penyakit. Hal ini terekam dalam pengalaman Dahlan Iskan, CEO/Chairman Jawa Pos Group. Dahlan menuliskan pengalaman dan refleksi pribadinya setelah melakukan transpalantasi liver di Tiongkok. Esai-esainya itu kemudian dibukukan dengan judul Ganti Hati (JPBooks, 2007). Kumpulan esai itu menjadi anyaman tulisan yang rapi dan menjadi terapi bagi kesehatan Dahlan Iskan. Spirit kepenulisan yang didedahkan Dahlan Iskan tak hanya menjadi semangat bagi dirinya sendiri, tetapi juga menebar inspirasi bagi orang lain untuk menjadi penulis maupun mengarungi dahsyatnya cobaan kehidupan.
Penulis lain di negeri ini yang meneruskan jejak kreatif di tengah ganasnya virus penyakit adalah Pipiet Senja. Penulis perempuan yang produktif berkarya ini sejak kecil menderita leukimia; kanker darah yang mengancam jiwanya. Di tengah kegalauan akan penyakit yang dideritanya, Pipiet Senja memilih jalan kesunyian dengan membaca dan menulis buku. Pipiet mengisi waktu luangnya dengan menulis jejak kegelisahan dan gagasan yang bertebaran di pikirannya. Walaupun setiap minggu harus transfusi darah untuk penyegaran tubuh, akan tetapi semangat menulisnya tak pernah surut, justru menjadi gelombang ide yang membuatnya asyik menuliskan gagasan. Maka, dapat kita telusuri dalam jejak sejarah penerbitan negeri ini, karya Pipiet Senja telah bertebaran di mana-mana hingga ke pelosok tanah air. Dari pancangan semangat menulis itulah, Pipiet menjadi lebih tegar menghirup napas kehidupan.
Di ranah penulisan dunia, banyak penulis yang hidup di tengah kepungan penyakit ganas. Akan tetapi mereka justru bertahan dan melakukan terapi dengan menjadi penulis brilian. Christine Clifford, misalnya, seorang penulis besar yang mengidap kanker. Di tengah perawatan medis yang harus dijalaninya berbulan-bulan, dengan pancangan semangat yang kokoh, dia terus menulis dan lahirlah buku pertamanya, Not Now...I'm Having a No Hair Day!.
Tak lama kemudian, setelah sukses operasi, buku berikutnya lahir dari rahim gagasannya: Our Family Has Cancer, Too! Kedua buku itu menyabet sejumlah penghargaan dan beroleh sambutan luas publik internasional.
Menghalau Kabut
Dalam jagad intelektual dunia Islam, ada ribuan ulama yang menjadi penulis produktif serta memiliki gagasan cemerlang. Di antaranya Ibn 'Aqil, ulama yang sangat luas pandangannya dan memiliki spirit belajar yang tak pernah redup. ''Saya tidak meninggalkan mencari ilmu kecuali pada dua malam; malam pernikahan saya dan malam kematian orang tua saya,'' ujar Ibn Aqil perihal dunia keilmuan yang dicintainya.
Ibn 'Aqil dilahirkan di Baghdad pada 431 H/1039 M. Pada usia 15 tahun, dia sudah menghafal Alquran. Ketika orang tuanya meninggal pada tahun 447 H/1055, bangsa Saljuk mengepung Baghdad. Ibn Aqil merupakan salah satu ulama yang banyak memiliki guru dan mentor diskusi. Guru-gurunya antara lain Abu al-Thayyib al-Thabari (wafat 450 H/1058), al-Khatib al-Baghdadi (wafat 643 H/1071 M), Abu Ishaq al-Syirazi (wafat 476 H/1083 M), Abu Muhammad al-Tamimi (wafat 488 H/1095 M). Spirit pembelajaran, mendaras teks agama dari berbagai aliran pemikiran dan spirit menulis yang tinggi menjadikan Ibn 'Aqil seorang ilmuan yang luas kajian keilmuannya, elok perangainya, dan menjadi seorang yang tercerahkan.
Konsistensi menulis di tengah penderitaan dan ketekunan menelusuri jejak keindahan Tuhan dari kitab-kitab akan mendapatkan pencerahan dan kecemerlangan kesehatan. Maka, tak salah, apabila Khaled Abou el-Fadl (2002) mengungkapkan bahwa menulis sejatinya merupakan sarana untuk menyibak ''tipuan kabut''. Kabut yang menutupi kecemerlangan berpikir dan kabut tebal yang menyumbat aliran darah di tubuh, hingga menjadikan sakit.
Menulis merupakan agenda menjernihkan kesehatan diri dan tangga menuju kecemerlangan pemikiran. (*)
*) Munawir Aziz, peneliti di Cepdes Jakarta
Dikutip dari Jawa Pos, 14 Desember 2008
Hal ini terekam dalam jejak kepenulisan pemikir wanita dari kaum muslim; Fatima Mernissi. Intelektual muslim yang lahir pada 1940 di Maroko ini banyak menulis buku yang melontarkan pertanyaan ''menggugat'' dan mencerahkan. Beberapa karyanya di antaranya, Beyond the Veil, Doing Daily Battle, Woman and Islam, The Forgotten Queens of Islam, Islam and Democracy, Dream of Trespass, dan beberapa yang lain.
Mernissi mengungkapkan bahwa menulis merupakan forum terbaik untuk menumpahkan apa saja yang mengganggu pikiran dan perasaan. Lebih lanjut Fatima Mernissi mewartakan kepada kita bahwa menulis dapat meningkatkan kualitas kesehatan manusia. Menulis secara istiqomah setiap hari lebih baik daripada operasi pengencangan wajah. ''Usahakan menulis setiap hari, niscaya kulit Anda akan menjadi segar kembali akibat kandungan manfaatnya yang luar biasa,'' ungkap Mernissi.
Aktivitas menulis yang getol dengan kajian bahasa dan menganyam kata secara detail dapat menjadikan tubuh ini bebas dari penyakit kronis. Menumpahkan gagasan dalam bentuk teks juga menjadi ''terapi'' yang menyembuhkan berbagai penyakit. Hal ini terekam dalam pengalaman Dahlan Iskan, CEO/Chairman Jawa Pos Group. Dahlan menuliskan pengalaman dan refleksi pribadinya setelah melakukan transpalantasi liver di Tiongkok. Esai-esainya itu kemudian dibukukan dengan judul Ganti Hati (JPBooks, 2007). Kumpulan esai itu menjadi anyaman tulisan yang rapi dan menjadi terapi bagi kesehatan Dahlan Iskan. Spirit kepenulisan yang didedahkan Dahlan Iskan tak hanya menjadi semangat bagi dirinya sendiri, tetapi juga menebar inspirasi bagi orang lain untuk menjadi penulis maupun mengarungi dahsyatnya cobaan kehidupan.
Penulis lain di negeri ini yang meneruskan jejak kreatif di tengah ganasnya virus penyakit adalah Pipiet Senja. Penulis perempuan yang produktif berkarya ini sejak kecil menderita leukimia; kanker darah yang mengancam jiwanya. Di tengah kegalauan akan penyakit yang dideritanya, Pipiet Senja memilih jalan kesunyian dengan membaca dan menulis buku. Pipiet mengisi waktu luangnya dengan menulis jejak kegelisahan dan gagasan yang bertebaran di pikirannya. Walaupun setiap minggu harus transfusi darah untuk penyegaran tubuh, akan tetapi semangat menulisnya tak pernah surut, justru menjadi gelombang ide yang membuatnya asyik menuliskan gagasan. Maka, dapat kita telusuri dalam jejak sejarah penerbitan negeri ini, karya Pipiet Senja telah bertebaran di mana-mana hingga ke pelosok tanah air. Dari pancangan semangat menulis itulah, Pipiet menjadi lebih tegar menghirup napas kehidupan.
Di ranah penulisan dunia, banyak penulis yang hidup di tengah kepungan penyakit ganas. Akan tetapi mereka justru bertahan dan melakukan terapi dengan menjadi penulis brilian. Christine Clifford, misalnya, seorang penulis besar yang mengidap kanker. Di tengah perawatan medis yang harus dijalaninya berbulan-bulan, dengan pancangan semangat yang kokoh, dia terus menulis dan lahirlah buku pertamanya, Not Now...I'm Having a No Hair Day!.
Tak lama kemudian, setelah sukses operasi, buku berikutnya lahir dari rahim gagasannya: Our Family Has Cancer, Too! Kedua buku itu menyabet sejumlah penghargaan dan beroleh sambutan luas publik internasional.
Menghalau Kabut
Dalam jagad intelektual dunia Islam, ada ribuan ulama yang menjadi penulis produktif serta memiliki gagasan cemerlang. Di antaranya Ibn 'Aqil, ulama yang sangat luas pandangannya dan memiliki spirit belajar yang tak pernah redup. ''Saya tidak meninggalkan mencari ilmu kecuali pada dua malam; malam pernikahan saya dan malam kematian orang tua saya,'' ujar Ibn Aqil perihal dunia keilmuan yang dicintainya.
Ibn 'Aqil dilahirkan di Baghdad pada 431 H/1039 M. Pada usia 15 tahun, dia sudah menghafal Alquran. Ketika orang tuanya meninggal pada tahun 447 H/1055, bangsa Saljuk mengepung Baghdad. Ibn Aqil merupakan salah satu ulama yang banyak memiliki guru dan mentor diskusi. Guru-gurunya antara lain Abu al-Thayyib al-Thabari (wafat 450 H/1058), al-Khatib al-Baghdadi (wafat 643 H/1071 M), Abu Ishaq al-Syirazi (wafat 476 H/1083 M), Abu Muhammad al-Tamimi (wafat 488 H/1095 M). Spirit pembelajaran, mendaras teks agama dari berbagai aliran pemikiran dan spirit menulis yang tinggi menjadikan Ibn 'Aqil seorang ilmuan yang luas kajian keilmuannya, elok perangainya, dan menjadi seorang yang tercerahkan.
Konsistensi menulis di tengah penderitaan dan ketekunan menelusuri jejak keindahan Tuhan dari kitab-kitab akan mendapatkan pencerahan dan kecemerlangan kesehatan. Maka, tak salah, apabila Khaled Abou el-Fadl (2002) mengungkapkan bahwa menulis sejatinya merupakan sarana untuk menyibak ''tipuan kabut''. Kabut yang menutupi kecemerlangan berpikir dan kabut tebal yang menyumbat aliran darah di tubuh, hingga menjadikan sakit.
Menulis merupakan agenda menjernihkan kesehatan diri dan tangga menuju kecemerlangan pemikiran. (*)
*) Munawir Aziz, peneliti di Cepdes Jakarta
Dikutip dari Jawa Pos, 14 Desember 2008
10 Desember 2008
Membaca Buku di Atas Perahu
Oleh Mohamad Ali Hisyam*
Unik nian terobosan yang dilakukan pemerintah Batola, satu daerah kabupaten di Kalimantan Selatan. Wilayah yang terletak di pelosok Borneo itu jarang sekali namanya disebut orang dan mampir di telinga kita. Memanfaatkan potensi alam yang dimiliki, Pemda Batola baru-baru ini merilis program sekolah antarjemput dengan menggunakan perahu. Sungai Barito yang mengular di sepanjang kawasan tersebut dan selama ini menjadi urat nadi kehidupan masyarakat setempat kemudian menjadi rute utama pelayaran ''sekolah perahu'' tersebut.
Program ini dikhususkan bagi mereka yang terputus paksa atau sama sekali tak pernah berkesempatan mencicipi bangku sekolah. Istilah kerennya, sekolah kejar paket. Sebuah perahu motor besar terbuat dari kayu Kalimantan disediakan. Di ruang atas khusus untuk kelas. Sedangkan di lantai bawah tersedia perpustakaan dengan aneka buku dan dilengkapi fasilitas komputer serta internet. Di luar ruangan kita bisa menggunakan teras perahu untuk sekadar rehat meluruskan kaki sembari menikmati pemandangan di pinggir sungai.
Hal positif dan bernuansa baru yang dapat dibaca dari program ini adalah kejelian Pemda Batola dalam memanfaatkan potensi kekayaan alam sebagai sarana rekreasi dan pendidikan yang jauh dari membosankan. Barangkali nyaris tak terbayangkan bagaimana sekumpulan anak saban hari bersekolah dan menikmati aneka bacaan dalam perpustakaan di atas perahu yang berjalan menyusuri arus Sungai Barito. Sungguh akan menghadirkan nuansa kesenangan dan sensasi tersendiri. Apalagi bagi masyarakat pegunungan yang amat jarang bersentuhan langsung dengan lingkungan sungai.
Selama ini aktivitas membaca lazimnya dilakukan di ruangan yang tak bergerak. Hanya di atas tumpangan barangkali seseorang akan membaca sambil terguncang badannya mengikuti laju kendaraan. Dan, perahu adalah satu dari sekian moda transportasi yang menawarkan kenyamanan bagi penumpangnya. Ada perasaan rileks dan tenang yang menyergap manakala kita menaiki perahu. Gemeriak aliran sungai serta kesiur angin akan menjadi musik alami yang mampu membuat penumpangnya mendapatkan suasana nyaman dan teduh serta merangsang imajinasi.
Kita tak harus selalu mengamini anjuran Bobbi De Porter atau Mike Hernacki yang menyarankan untuk membaca dengan posisi tegak dan minim gerak. Hempasan halus arus sungai yang menggoyang badan perahu justru mengantar pembaca buku menuju keterbuaian yang nikmat. Jika meminjam istilah Muhammad Yulius, melakukan perjalanan dengan perahu mampu menawarkan alternatif audio yang lebih memungkinkan fokus pendengaran menjadi lebih hening. Apalagi bentuk buku yang portable serta mudah dibawa dapat mengendapkan kenangan interaksi intelektual yang tak gampang lekang.
Sungguh pantas disyukuri negeri ini dikelilingi gugusan pulau-pulau indah dengan liukan seribu sungai di atasnya. Niscaya jika hal semacam ini dimanfaatkan secara optimal ia akan menjadi objek wisata yang menjanjikan. Boleh saja kita membayangkan di Nusantara ini ada daerah seperti Venezia di Italia yang terkenal dengan wisata sungainya. Di Kota Cinta itu pelancong dimanjakan dengan Gandola (sampan khas Venezia) yang siap mengantar penumpang menyusuri jernihnya sungai yang membelah kota. Begitu pula di Mesir dengan bentangan Sungai Nil-nya yang mengagumkan.
Sekali lagi, perpustakaan di atas perahu, walaupun mungkin ada di banyak tempat lain, tetaplah menyajikan pemandangan yang langka. Terlebih di Indonesia dengan dinamika dunia literasi yang garing dan miskin kreasi. Tak terlampau salah kiranya jika salah seorang pengamat perbukuan pernah mengibaratkan perpustakaan sebagai ''ruang tersunyi''. Dan, aktivitas membaca tak ubahnya sebuah persembunyian paling senyap ketika seseorang sudi berdialog dengan semesta ide. Seramai dan seriuh apa pun isi sebuah buku serta segaduh apa pun kecamuk pikiran di kepala seseorang, ia tetap akan tersudut pada suasana sunyi yang menyelimuti buku dan perpustakaan.
Tentu tak semua daerah bisa menyediakan perpustakaan di atas air seperti di Batola. Namun, dari sekian wilayah di Nusantara, tak sedikit yang memiliki sungai yang cukup representatif untuk dijadikan objek wisata. Katakanlah ini semacam wisata literer. Keliling kota sambil membaca buku di atas perahu. Dalam bingkai pendidikan, upaya ini dapat digolongkan sebagai kreasi media pembelajaran dalam wujudnya yang asyik dan rekreatif.
Paling tidak, jika sejumlah kota besar yang dilalui arus sungai seperti Batola menduplikasi program ini, akan lahir beberapa manfaat langsung maupun tak langsung. Antara lain berupa suguhan alternatif pola dan media pembelajaran yang baru dan jauh dari monoton. Dalam perspektif lingkungan, pemerintah (dinas lingkungan hidup dan tata kota) mau tak mau akan selalu berusaha menjaga kebersihan dan keasrian sungai. Sehingga daerah aliran sungai menjadi bersih, lingkungan tak tercemar, warga senang, dan wisatawan pun bakal berdatangan.
Di tengah mulai diminatinya pustaka genre travelling oleh pasar buku saat ini, fenomena yang disodorkan Pemda Batola itu sangat inspiratif dan menggugah. Dalam tilikan historis, banyak pengelana di Nusantara yang mengabadikan perjalanan dan ketertarikan mereka pada alam lewat tulisan di buku perjalanan. Prabu Jaya Pakuan (Padjajaran) menulis Naskah Bujangga Manik yang antara lain berkisah tentang keterpukauan sang prabu pada kemolekan Sungai Cisokan di Jawa Barat.
Yang pasti, panorama perbukuan Batola serta-merta mengingatkan saya pada sepenggal sajak yang pernah ditulis Hasan Aspahani bertajuk Perahu Buku. Puisi yang dipersembahkan khusus untuk penyair Sitok Srengenge itu antara lain berbunyi:
Rumahmu danau yang tenang, perahuku tertidur/ditimang ombak mungil yang mahir menembang/Aku dan perahuku berpelukan, bulan menyaksikan/ia cemas bertanya, ''kau tak mabuk-arak, bukan?''/Menjelang pagi, ada cahaya dari dasar danaumu/aku bertanya, kenapa matahari terbit dari situ?/Ada perahu muncul dari goa-kabut itu, penuh buku/aku menduga kau mengirimnya untuk menjemputku...(*)
*) Mohamad Ali Hisyam, pengajar di Universitas Trunojoyo, Madura
Sumber : Jawa Pos, 16 November 2008
Unik nian terobosan yang dilakukan pemerintah Batola, satu daerah kabupaten di Kalimantan Selatan. Wilayah yang terletak di pelosok Borneo itu jarang sekali namanya disebut orang dan mampir di telinga kita. Memanfaatkan potensi alam yang dimiliki, Pemda Batola baru-baru ini merilis program sekolah antarjemput dengan menggunakan perahu. Sungai Barito yang mengular di sepanjang kawasan tersebut dan selama ini menjadi urat nadi kehidupan masyarakat setempat kemudian menjadi rute utama pelayaran ''sekolah perahu'' tersebut.
Program ini dikhususkan bagi mereka yang terputus paksa atau sama sekali tak pernah berkesempatan mencicipi bangku sekolah. Istilah kerennya, sekolah kejar paket. Sebuah perahu motor besar terbuat dari kayu Kalimantan disediakan. Di ruang atas khusus untuk kelas. Sedangkan di lantai bawah tersedia perpustakaan dengan aneka buku dan dilengkapi fasilitas komputer serta internet. Di luar ruangan kita bisa menggunakan teras perahu untuk sekadar rehat meluruskan kaki sembari menikmati pemandangan di pinggir sungai.
Hal positif dan bernuansa baru yang dapat dibaca dari program ini adalah kejelian Pemda Batola dalam memanfaatkan potensi kekayaan alam sebagai sarana rekreasi dan pendidikan yang jauh dari membosankan. Barangkali nyaris tak terbayangkan bagaimana sekumpulan anak saban hari bersekolah dan menikmati aneka bacaan dalam perpustakaan di atas perahu yang berjalan menyusuri arus Sungai Barito. Sungguh akan menghadirkan nuansa kesenangan dan sensasi tersendiri. Apalagi bagi masyarakat pegunungan yang amat jarang bersentuhan langsung dengan lingkungan sungai.
Selama ini aktivitas membaca lazimnya dilakukan di ruangan yang tak bergerak. Hanya di atas tumpangan barangkali seseorang akan membaca sambil terguncang badannya mengikuti laju kendaraan. Dan, perahu adalah satu dari sekian moda transportasi yang menawarkan kenyamanan bagi penumpangnya. Ada perasaan rileks dan tenang yang menyergap manakala kita menaiki perahu. Gemeriak aliran sungai serta kesiur angin akan menjadi musik alami yang mampu membuat penumpangnya mendapatkan suasana nyaman dan teduh serta merangsang imajinasi.
Kita tak harus selalu mengamini anjuran Bobbi De Porter atau Mike Hernacki yang menyarankan untuk membaca dengan posisi tegak dan minim gerak. Hempasan halus arus sungai yang menggoyang badan perahu justru mengantar pembaca buku menuju keterbuaian yang nikmat. Jika meminjam istilah Muhammad Yulius, melakukan perjalanan dengan perahu mampu menawarkan alternatif audio yang lebih memungkinkan fokus pendengaran menjadi lebih hening. Apalagi bentuk buku yang portable serta mudah dibawa dapat mengendapkan kenangan interaksi intelektual yang tak gampang lekang.
Sungguh pantas disyukuri negeri ini dikelilingi gugusan pulau-pulau indah dengan liukan seribu sungai di atasnya. Niscaya jika hal semacam ini dimanfaatkan secara optimal ia akan menjadi objek wisata yang menjanjikan. Boleh saja kita membayangkan di Nusantara ini ada daerah seperti Venezia di Italia yang terkenal dengan wisata sungainya. Di Kota Cinta itu pelancong dimanjakan dengan Gandola (sampan khas Venezia) yang siap mengantar penumpang menyusuri jernihnya sungai yang membelah kota. Begitu pula di Mesir dengan bentangan Sungai Nil-nya yang mengagumkan.
Sekali lagi, perpustakaan di atas perahu, walaupun mungkin ada di banyak tempat lain, tetaplah menyajikan pemandangan yang langka. Terlebih di Indonesia dengan dinamika dunia literasi yang garing dan miskin kreasi. Tak terlampau salah kiranya jika salah seorang pengamat perbukuan pernah mengibaratkan perpustakaan sebagai ''ruang tersunyi''. Dan, aktivitas membaca tak ubahnya sebuah persembunyian paling senyap ketika seseorang sudi berdialog dengan semesta ide. Seramai dan seriuh apa pun isi sebuah buku serta segaduh apa pun kecamuk pikiran di kepala seseorang, ia tetap akan tersudut pada suasana sunyi yang menyelimuti buku dan perpustakaan.
Tentu tak semua daerah bisa menyediakan perpustakaan di atas air seperti di Batola. Namun, dari sekian wilayah di Nusantara, tak sedikit yang memiliki sungai yang cukup representatif untuk dijadikan objek wisata. Katakanlah ini semacam wisata literer. Keliling kota sambil membaca buku di atas perahu. Dalam bingkai pendidikan, upaya ini dapat digolongkan sebagai kreasi media pembelajaran dalam wujudnya yang asyik dan rekreatif.
Paling tidak, jika sejumlah kota besar yang dilalui arus sungai seperti Batola menduplikasi program ini, akan lahir beberapa manfaat langsung maupun tak langsung. Antara lain berupa suguhan alternatif pola dan media pembelajaran yang baru dan jauh dari monoton. Dalam perspektif lingkungan, pemerintah (dinas lingkungan hidup dan tata kota) mau tak mau akan selalu berusaha menjaga kebersihan dan keasrian sungai. Sehingga daerah aliran sungai menjadi bersih, lingkungan tak tercemar, warga senang, dan wisatawan pun bakal berdatangan.
Di tengah mulai diminatinya pustaka genre travelling oleh pasar buku saat ini, fenomena yang disodorkan Pemda Batola itu sangat inspiratif dan menggugah. Dalam tilikan historis, banyak pengelana di Nusantara yang mengabadikan perjalanan dan ketertarikan mereka pada alam lewat tulisan di buku perjalanan. Prabu Jaya Pakuan (Padjajaran) menulis Naskah Bujangga Manik yang antara lain berkisah tentang keterpukauan sang prabu pada kemolekan Sungai Cisokan di Jawa Barat.
Yang pasti, panorama perbukuan Batola serta-merta mengingatkan saya pada sepenggal sajak yang pernah ditulis Hasan Aspahani bertajuk Perahu Buku. Puisi yang dipersembahkan khusus untuk penyair Sitok Srengenge itu antara lain berbunyi:
Rumahmu danau yang tenang, perahuku tertidur/ditimang ombak mungil yang mahir menembang/Aku dan perahuku berpelukan, bulan menyaksikan/ia cemas bertanya, ''kau tak mabuk-arak, bukan?''/Menjelang pagi, ada cahaya dari dasar danaumu/aku bertanya, kenapa matahari terbit dari situ?/Ada perahu muncul dari goa-kabut itu, penuh buku/aku menduga kau mengirimnya untuk menjemputku...(*)
*) Mohamad Ali Hisyam, pengajar di Universitas Trunojoyo, Madura
Sumber : Jawa Pos, 16 November 2008
Mempertanyakan Etika Penerbit Buku Recycle
Pernah membeli buku dan kecewa karena ternyata Anda pernah membeli buku yang sama dengan judul berbeda? Saya pernah. Berkali-kali malah. Sebut saja beberapa buku tes CPNS yang saya beli untuk persiapan menjajal nasib menjadi pegawai negeri. Lalu buku-buku psikotes ketika berburu pekerjaan dan memerlukan tes psikologi. Kemudian juga buku-buku Kahlil Gibran yang booming di awal 2000-an. Yang terakhir saya beli kumpulan cerpen laris Budi Darma, Laki-Laki Lain dalam Secarik Surat.
Buku-buku kumpulan soal tes CPNS dan psikotes diterbitkan beberapa penerbit dengan judul yang kurang lebih sama. Buku disegel sehingga saya hanya berpaku pada pengantar di setiap sampul belakang untuk mengira-kira isinya. Ternyata setelah dibeli, isi buku-buku dengan penerbit berbeda itu banyak kesamaan, bahkan ada yang nyaris sama. Hanya nomor soalnya saja yang diubah-ubah. Karena itu, banyak kunci jawaban yang tak sesuai dengan soalnya. Saya selaku konsumen yang ingin mendapatkan informasi soal yang variatif tentu saja kecewa.
Buku Kahlil Gibran setali tiga uang. Ini mungkin buku yang paling banyak diterbitkan dalam banyak versi melebihi karya orisinil penulisnya. Adhe dalam bukunya Declare (2008) menuliskan bahwa karya-karya Gibran telah diterbitkan oleh lebih dari 20 penerbit dengan 76 judul berbeda. Luar biasa bukan? Ini fenomena yang menarik sekaligus memprihatinkan. Sosok Gibran yang sufi itu dikenal hingga ke kalangan anak-anak remaja SMP. Ada memang karya yang orisinil, seperti Sayap-sayap Patah dan Sang Nabi. Tapi selebihnya adalah judul-judul baru hasil ''kreativitas'' penerbit yang isinya kebanyakan potongan cuplikan dan bahkan saduran. Tanpa pengetahuan yang memadai tentang Gibran, pembeli akan mengira itu semua karya baru (lain) dari Gibran.
Sementara itu, buku Budi Darma, Laki-laki Lain dalam Secarik Surat, diterbitkan oleh Bentang (anak penerbitan Mizan), merupakan daur ulang dari buku kumpulan cerpen yang terbit sebelumnya dengan judul Kritikus Adinan. Buku ini dikemas dengan gaya buku baru. Sampul sama sekali berbeda dan pengantar sampul belakang menarik, plus foto diri pengarang. Pada buku baru ini ditambahkan satu karya baru. Jika Anda pernah membeli kaset dari penyanyi yang merupakan repacked atau recycled --lagu-lagu lama ditambahi satu-dua lagu baru-- buku ini menggunakan strategi pemasaran yang sama.
Bagi fans berat --yang selalu ingin mengoleksi karya idolanya-- edisi recycled pun akan disikat meski mengeluarkan sejumlah uang untuk karya yang sudah pernah dimiliki. Tapi, bagi konsumen yang ingin membaca dan mengetahui hal baru apa lagi yang disuguhkan dari seorang begawan seperti Budi Darma, membeli karya recycled tentu mengecewakan.
Segendang sepenarian dengan Bentang, Qanita (lagi-lagi, anak penerbitan Mizan) menerbitkan karya fenomenal Fatima Mernissi berjudul Perempuan-perempuan Harem. Buku ini pernah diterbitkan Mizan dengan judul berbeda, Teras Terlarang. Tak ada keterangan sama sekali di buku edisi baru itu, bahwa dua buku dengan judul berbeda itu memiliki isi yang sama, terjemahan dari Dreams of Trespass: Tales of Harem Girlhood. Hanya sedikit keterangan di lembar copyright: Edisi baru, cetakan 1, Juni 2008. Keterangan ini pun bias karena melahirkan asumsi rancu bahwa buku ini baru.
Penerbit Serambi, juga melakukan hal yang sama. Tapi mereka agak fair karena mencantumkan judul lamanya dengan font yang lebih kecil, Event Angel Ask: Bahkan Malaikat pun Bertanya karya terjemahan dari Jeffrey Lang dari judul yang digunakan untuk penerbitan sebelumnya; Bahkan Malaikat pun Bertanya.
ScriPtaManent adalah penerbit yang menerbitkan ulang Aku, Buku, dan Sepotong Sajak Cinta karya Muhidin M. Dahlan dengan judul baru Jalan Sunyi Seorang Penulis. Yang terakhir ini lebih ''jujur'' karena memberikan keterangan di sampul belakang --meski dengan tulisan kecil dan samar: ''edisi terbaru: aku, buku, dan sepotong sajak cinta''.
Buku-buku recycle yang disajikan dengan judul baru tanpa informasi lengkap tentang kebaruan dan perbedaannya dengan terbitan sebelumnya, bagi saya, merugikan pembaca. Apalagi pembeli tak diberi kesempatan yang berlebih untuk melakukan pemeriksaan. Sebab buku-buku yang tergelar di toko kerap terbungkus segel plastik (wrapping) dan tak boleh dibuka sebelum menyelesaikan ''administrasi'' di meja kasir.
Calon pembeli hanya berbekal narasi singkat atau komentar-komentar pembaca yang umumnya figur publik agar calon pembeli terpikat dan terjerat. Menurut saya, ini gaya pengelabuhan yang tak bertanggung jawab.
Dalam menegakkan ''mata rantai'' perbukuan, penerbit adalah pilar yang memegang peran penting di antara penulis, percetakan, distributor, toko buku, perpustakaan, dan pembaca. Penerbit adalah filter pertama dari transfer ilmu pengetahuan yang akan diterima konsumen. Penerbit yang menentukan naskah mana yang akan terbit dan mana yang tak perlu dikonsumsi pembaca.
Sebagai konsumen, pembaca buku tentu saja akan terampas haknya untuk mendapatkan pengetahuan yang utuh dikarenakan ulah penerbit yang ugal-ugalan mengganti-ganti judul dengan isi buku yang sama. Kenapa tak tetap diterbitkan dengan judul sama saja? Tambahan isi baru atau beberapa revisi bisa diberikan sebagai keterangan. Dengan begitu, pembeli bisa mendapatkan bahan pertimbangan yang layak apakah ingin membeli lagi edisi terbarunya atau tidak. Jika memang buku itu laris dan dicari pembaca, pastilah buku itu akan tetap habis.
Namun, jika penerbit memang meniatkan untuk mengelabuhi pembaca, maka ini sebentuk penipuan publik yang bekerja di dunia perbukuan. Calon pembeli tak mendapat informasi yang utuh tentang apa-apa yang akan dibeli dan dibacanya.
Mestinya, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) yang kritis atas barang niaga demi perlindungan hak konsumen juga mencermati soal ini. Sehingga pembodohan ini tak bekerja terus-menerus, bahkan di dalam sebuah dunia yang menjadi agen pencerahan akal budi dan selalu merapalkan jargon besar: untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. (*)
*) Diana A.V. Sasa, pegiat buku, tinggal di Surabaya
Sumber www.jawapos.co.id
Buku-buku kumpulan soal tes CPNS dan psikotes diterbitkan beberapa penerbit dengan judul yang kurang lebih sama. Buku disegel sehingga saya hanya berpaku pada pengantar di setiap sampul belakang untuk mengira-kira isinya. Ternyata setelah dibeli, isi buku-buku dengan penerbit berbeda itu banyak kesamaan, bahkan ada yang nyaris sama. Hanya nomor soalnya saja yang diubah-ubah. Karena itu, banyak kunci jawaban yang tak sesuai dengan soalnya. Saya selaku konsumen yang ingin mendapatkan informasi soal yang variatif tentu saja kecewa.
Buku Kahlil Gibran setali tiga uang. Ini mungkin buku yang paling banyak diterbitkan dalam banyak versi melebihi karya orisinil penulisnya. Adhe dalam bukunya Declare (2008) menuliskan bahwa karya-karya Gibran telah diterbitkan oleh lebih dari 20 penerbit dengan 76 judul berbeda. Luar biasa bukan? Ini fenomena yang menarik sekaligus memprihatinkan. Sosok Gibran yang sufi itu dikenal hingga ke kalangan anak-anak remaja SMP. Ada memang karya yang orisinil, seperti Sayap-sayap Patah dan Sang Nabi. Tapi selebihnya adalah judul-judul baru hasil ''kreativitas'' penerbit yang isinya kebanyakan potongan cuplikan dan bahkan saduran. Tanpa pengetahuan yang memadai tentang Gibran, pembeli akan mengira itu semua karya baru (lain) dari Gibran.
Sementara itu, buku Budi Darma, Laki-laki Lain dalam Secarik Surat, diterbitkan oleh Bentang (anak penerbitan Mizan), merupakan daur ulang dari buku kumpulan cerpen yang terbit sebelumnya dengan judul Kritikus Adinan. Buku ini dikemas dengan gaya buku baru. Sampul sama sekali berbeda dan pengantar sampul belakang menarik, plus foto diri pengarang. Pada buku baru ini ditambahkan satu karya baru. Jika Anda pernah membeli kaset dari penyanyi yang merupakan repacked atau recycled --lagu-lagu lama ditambahi satu-dua lagu baru-- buku ini menggunakan strategi pemasaran yang sama.
Bagi fans berat --yang selalu ingin mengoleksi karya idolanya-- edisi recycled pun akan disikat meski mengeluarkan sejumlah uang untuk karya yang sudah pernah dimiliki. Tapi, bagi konsumen yang ingin membaca dan mengetahui hal baru apa lagi yang disuguhkan dari seorang begawan seperti Budi Darma, membeli karya recycled tentu mengecewakan.
Segendang sepenarian dengan Bentang, Qanita (lagi-lagi, anak penerbitan Mizan) menerbitkan karya fenomenal Fatima Mernissi berjudul Perempuan-perempuan Harem. Buku ini pernah diterbitkan Mizan dengan judul berbeda, Teras Terlarang. Tak ada keterangan sama sekali di buku edisi baru itu, bahwa dua buku dengan judul berbeda itu memiliki isi yang sama, terjemahan dari Dreams of Trespass: Tales of Harem Girlhood. Hanya sedikit keterangan di lembar copyright: Edisi baru, cetakan 1, Juni 2008. Keterangan ini pun bias karena melahirkan asumsi rancu bahwa buku ini baru.
Penerbit Serambi, juga melakukan hal yang sama. Tapi mereka agak fair karena mencantumkan judul lamanya dengan font yang lebih kecil, Event Angel Ask: Bahkan Malaikat pun Bertanya karya terjemahan dari Jeffrey Lang dari judul yang digunakan untuk penerbitan sebelumnya; Bahkan Malaikat pun Bertanya.
ScriPtaManent adalah penerbit yang menerbitkan ulang Aku, Buku, dan Sepotong Sajak Cinta karya Muhidin M. Dahlan dengan judul baru Jalan Sunyi Seorang Penulis. Yang terakhir ini lebih ''jujur'' karena memberikan keterangan di sampul belakang --meski dengan tulisan kecil dan samar: ''edisi terbaru: aku, buku, dan sepotong sajak cinta''.
Buku-buku recycle yang disajikan dengan judul baru tanpa informasi lengkap tentang kebaruan dan perbedaannya dengan terbitan sebelumnya, bagi saya, merugikan pembaca. Apalagi pembeli tak diberi kesempatan yang berlebih untuk melakukan pemeriksaan. Sebab buku-buku yang tergelar di toko kerap terbungkus segel plastik (wrapping) dan tak boleh dibuka sebelum menyelesaikan ''administrasi'' di meja kasir.
Calon pembeli hanya berbekal narasi singkat atau komentar-komentar pembaca yang umumnya figur publik agar calon pembeli terpikat dan terjerat. Menurut saya, ini gaya pengelabuhan yang tak bertanggung jawab.
Dalam menegakkan ''mata rantai'' perbukuan, penerbit adalah pilar yang memegang peran penting di antara penulis, percetakan, distributor, toko buku, perpustakaan, dan pembaca. Penerbit adalah filter pertama dari transfer ilmu pengetahuan yang akan diterima konsumen. Penerbit yang menentukan naskah mana yang akan terbit dan mana yang tak perlu dikonsumsi pembaca.
Sebagai konsumen, pembaca buku tentu saja akan terampas haknya untuk mendapatkan pengetahuan yang utuh dikarenakan ulah penerbit yang ugal-ugalan mengganti-ganti judul dengan isi buku yang sama. Kenapa tak tetap diterbitkan dengan judul sama saja? Tambahan isi baru atau beberapa revisi bisa diberikan sebagai keterangan. Dengan begitu, pembeli bisa mendapatkan bahan pertimbangan yang layak apakah ingin membeli lagi edisi terbarunya atau tidak. Jika memang buku itu laris dan dicari pembaca, pastilah buku itu akan tetap habis.
Namun, jika penerbit memang meniatkan untuk mengelabuhi pembaca, maka ini sebentuk penipuan publik yang bekerja di dunia perbukuan. Calon pembeli tak mendapat informasi yang utuh tentang apa-apa yang akan dibeli dan dibacanya.
Mestinya, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) yang kritis atas barang niaga demi perlindungan hak konsumen juga mencermati soal ini. Sehingga pembodohan ini tak bekerja terus-menerus, bahkan di dalam sebuah dunia yang menjadi agen pencerahan akal budi dan selalu merapalkan jargon besar: untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. (*)
*) Diana A.V. Sasa, pegiat buku, tinggal di Surabaya
Sumber www.jawapos.co.id
Klab Baca Para Mbah
Jika bertemu dengan Sigit Susanto, penulis buku Menyusuri Lorong-lorong Dunia (1&2), mintalah ia berkisah lagi tentang Klab Baca Yayasan James Joyce di kota Zurich, Switzerland, yang beberapa kali ia ikuti. Klab baca ini unik oleh dua hal: peserta dan prosedur mereka membaca buku.
Nyaris semua peserta klab adalah orang-orang ''magriban'' yang sisa hidup mestinya mereka pakai untuk memperbanyak doa. Masing-masing orang tua ini dengan khusyuk memangku buku babon karya James Joyce yang berjudul Ulysses. Ada yang membawanya dari rumah, tapi bagi yang tak punya atau tertinggal langsung saja mengambilnya dari rak yang tersedia dalam ruangan. Saya tak tahu pasti apa yang ada di pikiran orang-orang tua itu berhadapan dengan buku bantal tersebut. Mungkin disamakan dengan kitab suci dan karena itu diperlakukan layaknya benda sakral.
Ke-23 anggota klab itu dipandu seseorang yang juga tak kalah tuanya. Namanya Fritz Senn, seorang pegawai pengairan. Lantaran kegilaan pada karya-karya Joyce ia dibaptis oleh dunia sebagai joycean dan menjadi alamat pertanyaan bagi siapa pun yang ingin tahu tentang Joyce dan karya-karyanya. Atas kegilaan ini, ia diganjar anugerah: 3 kali menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Koln, Zurich, dan Dublin.
Senn inilah yang menjadi pemandu membaca buku Ulysses setebal bantal itu. Setiap pekan, secara reguler, diperlukan waktu 1.5 jam. Tentu tak digilir satu per satu membacanya. Sang ''imam'' memutarkan CD yang berisi rekaman bacaan atas buku itu. Kurang lebih tiga halaman. Yang lain menyimak, seperti mendengarkan doa keselamatan dari dunia lain. Setelah itu dipersilakan peserta bertanya apa saja yang berhubungan dengan teks yang dibacakan tadi. Lalu bubar.
Yang membuat Sigit Susanto tersentak adalah, kelas membaca Ulysses ini sudah berlangsung, allamak, 3 tahun. Itu pun belum rampung. Jadi sudah 3 tahun setiap pekan orang-orang tua itu datang, duduk tenang menyimak, lantas pulang. Mereka --membaca lambat seperti siput-- barangkali ingin menghikmati dan menapaktilasi bagaimana buku itu ditulis Joyce dengan menghabiskan waktu selama 8 tahun.
Dan, membaca sampai 3 tahun lamanya satu buku jangan harapkan bisa dilakukan anak-anak muda yang suka mengambil jalan pintas menyelesaikan sesuatu. Itu hanya bisa terjadi oleh penggila buku dan oleh mereka yang terperangkap-sadar dengan pamor yang dipancarkan penulis buku itu. Mungkin mereka menganggap Joyce adalah nabi yang mereka percaya bisa memberi ketenangan hidup di usia mereka yang sudah senja.
Kisah klab baca Joyce itu adalah kisah bagaimana orang-orang melakukan intimasi dengan buku dalam sebuah prosedur yang disepakati. Jika bukan tradisi panjang bergelut dengan buku, pastilah orang-orang itu tak mau berpayah-payah membaca buku yang mereka tahu benar bahwa itu hanyalah reka-reka penulisnya saja, tapi anehnya mereka percaya seperti mereka percaya pada hisab masa depan yang dilakukan para penujum. Apalagi sampai menitip secara sukarela sebagian usianya untuk melahap sebuah buku dengan cara yang rada aneh.
Di Indonesia klab baca buku seperti yang dilakukan Yayasan James Joyce itu nyaris tak ada. Apalagi mengkaji sastra. Pernah ada satu klab baca di Bandung yang khusus membaca karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Klab Baca Pramoedya namanya. Dikelola oleh Tobucil dan diikuti semua umur. Tapi, tampaknya klab baca ini mulai kehabisan darah dan perlahan masuk peti mati. Tapi mereka sudah meninggalkan tradisi baik.
Bukan klab baca itu yang membuat saya tertegun, melainkan apa yang setiap subuh saya lihat di sebuah langgar Muslimat NU dekat rumah kontrakan saya di Krapyak Jogja dan barangkali nyaris di semua pesantren yang bertebaran di seluruh Nusantara. Sekira subuh para mbah putri dan mbah kakung itu sudah berbondong-bondong ke langgar mendengarkan santiaji dari kiai, setelah sebelumnya didahului pembacaan doa-doa rutin yang jadi prosedur baku. Dan itu dilakukan saban minggu dengan jadwal berkumpul yang tetap.
Menurut saya, ini adalah klab baca tradisional yang spektakuler dan luar biasa tuanya dalam tradisi lisan di Indonesia. Aturan main dalam ''klab baca'' tak kalah didaktiknya dengan Klab Baca Joyce. Ada buku (kitab) yang dibaca. Jika Klab Baca Joyce menggunakan dua bahasa (teks berbahasa Jerman dan pengantar diskusi bahasa Inggris beraksen Irlandia), maka ''klab baca'' para mbah ini juga menggunakan dua bahasa (bahasa teks dari Arab, sementara penyampaiannya memakai bahasa Jawa yang diaduk dengan bahasa Indonesia).
Misalnya, sang kiai menyitir satu hadis dan satu ayat, lalu diterangkan serat-serat maknanya. Dibuka sesi pertanyaan. Lantas pulang. Dan akan kembali pekan berikutnya dengan melangkah ke hadis dan ayat berikutnya. Saya kira metode ''klab baca'' ini secara tak langsung tersusun tanpa sadar dari pengalaman mereka menanggap wayang yang umumnya lebih banyak mendengarkan ketimbang berbantahan sebagaimana kita saksikan dalam seminar-seminar adu kepintaran. Mereka kerap memperlakukan dan menempatkan buku (kitab) sebagai sumur kebenaran yang menuntun kepada ketenangan jiwa. Karena begitu sakralnya sebuah buku, maka memperlakukannya pun harus dengan cara-cara yang arkaik dan santun.
Mungkin klab baca para mbah itu terlalu rudin dan arkaik untuk kita praktikkan di era ketika tradisi membaca (buku) masih diperjuangkan oleh para penganutnya yang fanatik. Tapi jangan remehkan tradisi membaca gaya para mbah ini yang justru ditimba dari tradisi lisan yang berbaur dengan tradisi menonton (nanggap wayang).
Di titimangsa ini kita memang tak boleh menjadi terlalu fakir dan pasrah melahap metode dan prosedur yang bersifat liyan dari pengalaman autentik masyarakat jika kita tak ingin sebuah klab baca mati sejak langkah awal.
Klab baca para mbah itu bisa dijadikan contoh ihwal prosedur pembacaan (membaca sedikit demi sedikit dan barangkali juga sesekali diisi oleh musikalisasi teks); pilihan bacaan (misalnya membaca bersama Kitab Babad Tanah Djawi, Centhini, atau ratusan kitab sastra yang sudah menjadi klasik dan sekaligus ini usaha menghidupkan warisan budaya yang terkubur); cara memperlakukan bacaan (ini soal intimasi dan kemudahan akses bacaan jika anggota tak memilikinya); dan semangat mempertahankan konsistensi waktu yang tak lapuk diganyang usia. (*)
Muhidin M Dahlan, kerani di Indonesia Buku (I:BOEKOE) Jogjakarta
Nyaris semua peserta klab adalah orang-orang ''magriban'' yang sisa hidup mestinya mereka pakai untuk memperbanyak doa. Masing-masing orang tua ini dengan khusyuk memangku buku babon karya James Joyce yang berjudul Ulysses. Ada yang membawanya dari rumah, tapi bagi yang tak punya atau tertinggal langsung saja mengambilnya dari rak yang tersedia dalam ruangan. Saya tak tahu pasti apa yang ada di pikiran orang-orang tua itu berhadapan dengan buku bantal tersebut. Mungkin disamakan dengan kitab suci dan karena itu diperlakukan layaknya benda sakral.
Ke-23 anggota klab itu dipandu seseorang yang juga tak kalah tuanya. Namanya Fritz Senn, seorang pegawai pengairan. Lantaran kegilaan pada karya-karya Joyce ia dibaptis oleh dunia sebagai joycean dan menjadi alamat pertanyaan bagi siapa pun yang ingin tahu tentang Joyce dan karya-karyanya. Atas kegilaan ini, ia diganjar anugerah: 3 kali menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Koln, Zurich, dan Dublin.
Senn inilah yang menjadi pemandu membaca buku Ulysses setebal bantal itu. Setiap pekan, secara reguler, diperlukan waktu 1.5 jam. Tentu tak digilir satu per satu membacanya. Sang ''imam'' memutarkan CD yang berisi rekaman bacaan atas buku itu. Kurang lebih tiga halaman. Yang lain menyimak, seperti mendengarkan doa keselamatan dari dunia lain. Setelah itu dipersilakan peserta bertanya apa saja yang berhubungan dengan teks yang dibacakan tadi. Lalu bubar.
Yang membuat Sigit Susanto tersentak adalah, kelas membaca Ulysses ini sudah berlangsung, allamak, 3 tahun. Itu pun belum rampung. Jadi sudah 3 tahun setiap pekan orang-orang tua itu datang, duduk tenang menyimak, lantas pulang. Mereka --membaca lambat seperti siput-- barangkali ingin menghikmati dan menapaktilasi bagaimana buku itu ditulis Joyce dengan menghabiskan waktu selama 8 tahun.
Dan, membaca sampai 3 tahun lamanya satu buku jangan harapkan bisa dilakukan anak-anak muda yang suka mengambil jalan pintas menyelesaikan sesuatu. Itu hanya bisa terjadi oleh penggila buku dan oleh mereka yang terperangkap-sadar dengan pamor yang dipancarkan penulis buku itu. Mungkin mereka menganggap Joyce adalah nabi yang mereka percaya bisa memberi ketenangan hidup di usia mereka yang sudah senja.
Kisah klab baca Joyce itu adalah kisah bagaimana orang-orang melakukan intimasi dengan buku dalam sebuah prosedur yang disepakati. Jika bukan tradisi panjang bergelut dengan buku, pastilah orang-orang itu tak mau berpayah-payah membaca buku yang mereka tahu benar bahwa itu hanyalah reka-reka penulisnya saja, tapi anehnya mereka percaya seperti mereka percaya pada hisab masa depan yang dilakukan para penujum. Apalagi sampai menitip secara sukarela sebagian usianya untuk melahap sebuah buku dengan cara yang rada aneh.
Di Indonesia klab baca buku seperti yang dilakukan Yayasan James Joyce itu nyaris tak ada. Apalagi mengkaji sastra. Pernah ada satu klab baca di Bandung yang khusus membaca karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Klab Baca Pramoedya namanya. Dikelola oleh Tobucil dan diikuti semua umur. Tapi, tampaknya klab baca ini mulai kehabisan darah dan perlahan masuk peti mati. Tapi mereka sudah meninggalkan tradisi baik.
Bukan klab baca itu yang membuat saya tertegun, melainkan apa yang setiap subuh saya lihat di sebuah langgar Muslimat NU dekat rumah kontrakan saya di Krapyak Jogja dan barangkali nyaris di semua pesantren yang bertebaran di seluruh Nusantara. Sekira subuh para mbah putri dan mbah kakung itu sudah berbondong-bondong ke langgar mendengarkan santiaji dari kiai, setelah sebelumnya didahului pembacaan doa-doa rutin yang jadi prosedur baku. Dan itu dilakukan saban minggu dengan jadwal berkumpul yang tetap.
Menurut saya, ini adalah klab baca tradisional yang spektakuler dan luar biasa tuanya dalam tradisi lisan di Indonesia. Aturan main dalam ''klab baca'' tak kalah didaktiknya dengan Klab Baca Joyce. Ada buku (kitab) yang dibaca. Jika Klab Baca Joyce menggunakan dua bahasa (teks berbahasa Jerman dan pengantar diskusi bahasa Inggris beraksen Irlandia), maka ''klab baca'' para mbah ini juga menggunakan dua bahasa (bahasa teks dari Arab, sementara penyampaiannya memakai bahasa Jawa yang diaduk dengan bahasa Indonesia).
Misalnya, sang kiai menyitir satu hadis dan satu ayat, lalu diterangkan serat-serat maknanya. Dibuka sesi pertanyaan. Lantas pulang. Dan akan kembali pekan berikutnya dengan melangkah ke hadis dan ayat berikutnya. Saya kira metode ''klab baca'' ini secara tak langsung tersusun tanpa sadar dari pengalaman mereka menanggap wayang yang umumnya lebih banyak mendengarkan ketimbang berbantahan sebagaimana kita saksikan dalam seminar-seminar adu kepintaran. Mereka kerap memperlakukan dan menempatkan buku (kitab) sebagai sumur kebenaran yang menuntun kepada ketenangan jiwa. Karena begitu sakralnya sebuah buku, maka memperlakukannya pun harus dengan cara-cara yang arkaik dan santun.
Mungkin klab baca para mbah itu terlalu rudin dan arkaik untuk kita praktikkan di era ketika tradisi membaca (buku) masih diperjuangkan oleh para penganutnya yang fanatik. Tapi jangan remehkan tradisi membaca gaya para mbah ini yang justru ditimba dari tradisi lisan yang berbaur dengan tradisi menonton (nanggap wayang).
Di titimangsa ini kita memang tak boleh menjadi terlalu fakir dan pasrah melahap metode dan prosedur yang bersifat liyan dari pengalaman autentik masyarakat jika kita tak ingin sebuah klab baca mati sejak langkah awal.
Klab baca para mbah itu bisa dijadikan contoh ihwal prosedur pembacaan (membaca sedikit demi sedikit dan barangkali juga sesekali diisi oleh musikalisasi teks); pilihan bacaan (misalnya membaca bersama Kitab Babad Tanah Djawi, Centhini, atau ratusan kitab sastra yang sudah menjadi klasik dan sekaligus ini usaha menghidupkan warisan budaya yang terkubur); cara memperlakukan bacaan (ini soal intimasi dan kemudahan akses bacaan jika anggota tak memilikinya); dan semangat mempertahankan konsistensi waktu yang tak lapuk diganyang usia. (*)
Muhidin M Dahlan, kerani di Indonesia Buku (I:BOEKOE) Jogjakarta
09 Desember 2008
Mendambakan Pojok Baca di Ruang Tunggu
Oleh Romi Febriyanto Saputro
Menunggu merupakan pekerjaan yang membosankan dan melelahkan. Kamus Besar Bahasa Indonesia, mengartikan menunggu dengan tinggal beberapa saat di suatu tempat sambil menunggu sesuatu akan terjadi (datang). Menunggu juga diartikan dengan menantikan sesuatu yang mesti datang.
Ruang tunggu merupakan sebuah ruang publik yang sepi dari aktivitas yang bermanfaat dan produktif. Duduk diam, “ngobrol”, “ngerumpi” dan menonton televisi merupakan aktivitas yang biasa terjadi di ruang tunggu. Dalam ruang tunggu seolah-olah fungsi otak dihentikan.
Perlu sebuah upaya untuk memberdayakan ruang tunggu. Kehadiran pojok baca di ruang tunggu merupakan salah satu solusi untuk memberdayakan ruang tunggu. Ruang tunggu sesungguhnya bukan lahan yang kering aktivitas melainkan sebuah lahan subur untuk menumbuhkan budaya membaca.
Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan, menyebutkan bahwa pembudayaan kegemaran membaca pada masyarakat dilakukan melalui penyediaan sarana perpustakaan di tempat umum yang mudah dijangkau, murah, dan bermutu (pasal 48 ayat 4).
Menurut penjelasan undang-undang tersebut, yang dimaksud dengan tempat umum adalah kantor, ruang tunggu, terminal, bandara, rumah sakit, pasar, mall dan lain-lain.
Semangat dari undang-undang ini cukup bagus, yakni berusaha untuk mewarnai ruang publik dengan dunia membaca. Saat ini fasilitas umum di Kota Semarang cenderung di dominasi oleh budaya lisan dan budaya tonton.
Para pengelola fasilitas umum lebih suka meletakkan kotak ajaib (baca televisi) di ruang tunggu. Dengan kotak ajaib di ruang publik ini, secara tidak langsung pihak pengelola fasilitas umum telah mendidik masyarakat untuk gemar “bertelevisi ria”.
Terbitnya undang-undang perpustakaan ini, seharusnya membuat para pengelola fasilitas publik terbuka hatinya untuk turut membudayakan membaca dengan menyediakan pojok baca di ruang tunggu stasiun, terminal, rumah sakit, unit pelayanan terpadu, layanan pajak kendaraan bermotor, layanan SIM dan layanan publik lainnya.
Pojok baca di ruang tunggu diharapkan dapat mengeliminasi rasa bosan ini dengan memberikan bacaan yang rekreatif dan menghibur. Novel, majalah, tabloid, dan koran dapat menjadi menu baca untuk melipat waktu tunggu yang relatif lama menjadi “lebih cepat” dengan aktivitas membaca.
Kehadiran pojok baca di ruang tunggu diharapkan dapat menjadi salah satu daya ungkit untuk mengubah budaya lisan menjadi budaya baca. Semoga !
Menunggu merupakan pekerjaan yang membosankan dan melelahkan. Kamus Besar Bahasa Indonesia, mengartikan menunggu dengan tinggal beberapa saat di suatu tempat sambil menunggu sesuatu akan terjadi (datang). Menunggu juga diartikan dengan menantikan sesuatu yang mesti datang.
Ruang tunggu merupakan sebuah ruang publik yang sepi dari aktivitas yang bermanfaat dan produktif. Duduk diam, “ngobrol”, “ngerumpi” dan menonton televisi merupakan aktivitas yang biasa terjadi di ruang tunggu. Dalam ruang tunggu seolah-olah fungsi otak dihentikan.
Perlu sebuah upaya untuk memberdayakan ruang tunggu. Kehadiran pojok baca di ruang tunggu merupakan salah satu solusi untuk memberdayakan ruang tunggu. Ruang tunggu sesungguhnya bukan lahan yang kering aktivitas melainkan sebuah lahan subur untuk menumbuhkan budaya membaca.
Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan, menyebutkan bahwa pembudayaan kegemaran membaca pada masyarakat dilakukan melalui penyediaan sarana perpustakaan di tempat umum yang mudah dijangkau, murah, dan bermutu (pasal 48 ayat 4).
Menurut penjelasan undang-undang tersebut, yang dimaksud dengan tempat umum adalah kantor, ruang tunggu, terminal, bandara, rumah sakit, pasar, mall dan lain-lain.
Semangat dari undang-undang ini cukup bagus, yakni berusaha untuk mewarnai ruang publik dengan dunia membaca. Saat ini fasilitas umum di Kota Semarang cenderung di dominasi oleh budaya lisan dan budaya tonton.
Para pengelola fasilitas umum lebih suka meletakkan kotak ajaib (baca televisi) di ruang tunggu. Dengan kotak ajaib di ruang publik ini, secara tidak langsung pihak pengelola fasilitas umum telah mendidik masyarakat untuk gemar “bertelevisi ria”.
Terbitnya undang-undang perpustakaan ini, seharusnya membuat para pengelola fasilitas publik terbuka hatinya untuk turut membudayakan membaca dengan menyediakan pojok baca di ruang tunggu stasiun, terminal, rumah sakit, unit pelayanan terpadu, layanan pajak kendaraan bermotor, layanan SIM dan layanan publik lainnya.
Pojok baca di ruang tunggu diharapkan dapat mengeliminasi rasa bosan ini dengan memberikan bacaan yang rekreatif dan menghibur. Novel, majalah, tabloid, dan koran dapat menjadi menu baca untuk melipat waktu tunggu yang relatif lama menjadi “lebih cepat” dengan aktivitas membaca.
Kehadiran pojok baca di ruang tunggu diharapkan dapat menjadi salah satu daya ungkit untuk mengubah budaya lisan menjadi budaya baca. Semoga !
Andai Penguasa Peduli Perpustakaan ! (Tanggapan Buat Muhidin M Dahlan)
Oleh Romi Febriyanto Saputro
Membaca tulisan Muhidin M Dahlan yang berjudul “Andai Perpustakaan Buka Sampai Jam 12 Malam” yang dimuat di Jawa Pos ,16 April 2006, membuat penulis termenung sejenak.
Nasib dunia perpustakaan di negeri ini memang tidak seindah sejumlah predikat yang disandangnya. Gudang ilmu, jendela dunia, dan samudera pengetahuan merupakan rayuan manis sekaligus gombal untuk menyanjung dunia perpustakaan. Mengapa ? Sejumlah sanjungan tersebut tidak pernah menjelma di alam realitas. Ia hanya berkeliaran di alam imajiner yang disebut dengan harapan, impian, cita-cita, dan obsesi.
Lihatlah dunia pendidikan kita ! Dunia yang memiliki hobi gonta-ganti kurikulum ini tidak pernah memberi perpustakaan ruang yang memadai untuk menyemai minat baca anak-anak didik. Perpustakaan dipojokkan dalam “ruang sisa”, “ruang sempit”, sekaligus “ruang terbelakang “. Bahkan terkadang tidak diberi ruang sama sekali dalam sebuah dunia yang menurut para pembesar negeri mampu mencerdaskan bangsa.
Di beberapa Sekolah Dasar perpustakaan benar-benar menjelma menjadi “gudang ilmu”. Mungkin karena begitu cintanya dengan “gudang ilmu” , para pendidik di sekolah itu sampai lupa membuka pintu ruang perpustakaan. Sehari, …seminggu,.. sebulan, …..dan mungkin setahun ruang perpustakaan dibiarkan terkunci rapat. Betul-betul menjadi gudang ilmu, yang “tersucikan” dari sentuhan tangan anak manusia, …sayang sekali …bukan gedung ilmu.
Lalu,…apakah kondisi perpustakaan di sekolah lanjutan lebih baik ? Ternyata setali tiga uang. Meskipun para “raja kecil” di SMP dan SMA ini selalu berkendaraan roda empat setelah “naik tahta”, nasib perpustakaan tak kunjung mengalami kenaikan martabat. Perpustakaan dibiarkan “hidup segan, mati tak mau”. Raja kecil selalu melantunkan lagu “tak ada dana” tatkala disinggung untuk menghias perpustakaan dengan deretan buku-buku bermutu. Ia sudah cukup senang dengan hiasan buku-buku paket yang betul-betul terpaketkan itu karena isinya sudah kadaluwarsa. Ia seolah lupa pernah menarik “1001” macam pungutan dari anak didik dengan berbagai label untuk kepentingan pendidikan. Dana BOS yang ada sekarang pun ketika berjumpa dengan perpustakaan akan segera memalingkan muka dengan sigapnya …Buuussssss, ….bablassss angineee.
Sekarang mari kita lanjutkan perjalanan ke pendidikan tinggi. Perguruan tinggi di Indonesia ternyata tidak dapat menjadi teladan dalam mengelola perpustakaan. Penelitian yang dilakukan oleh Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia tahun 2003 menunjukkan dari 125 perguruan tinggi yang disurvei hanya 5 perguruan tinggi yang mengalokasikan 5 persen dari budgetnya untuk perpustakaan. Sisanya hanya mengalokasikan dana di bawah 5 persen untuk perpustakaan. Bahkan 40 persen dari perguruan tinggi hanya rela mengalokasikan dana di bawah 2 persen untuk perpustakaan.
Potret buram dunia perpustakaan di tanah air sejatinya merupakan refleksi dari potret penguasa bangsa ini. Penguasa yang lebih mengutamakan kulit daripada isi. Tak perlu heran jika gedung PKK (yang dinahkodai oleh istri pembesar kabupaten/kota) jauh lebih “wah” daripada gedung perpustakaan umum. Jangan heran pula jika biaya pengadaan mobil dinas jauh lebih besar daripada biaya pengadaan koleksi baru untuk perpustakaan.
Ya, Tuhanku ! Mengapa semua elemen penguasa seolah tidak ada yang peduli terhadap perpustakaan ? Perpustakaan seolah telah menjadi monster yang menakutkan bagi para pembesar negeri. Tanyakan pada para penjaga perpustakaan, sudahkah pak gubernur, bupati, walikota, wakil rakyat, rektor, dekan, dan dosen meluangkan waktu sejenak untuk menengok kondisi perpustakaan ? Pernahkah beliau yang terhormat itu menginjakkan kaki di gedung ilmu ini?
Jika belum, harap maklum jika mereka menganggap perpustakaan sebagai “dunia lain”. Perpustakaan dalam kamus hidup mereka mungkin sekedar “gudang buku”, “tempat pembuangan”, “ruang berdebu”, “arena pengangguran” dan lukisan serba hitam lainnya.
Lukisan serba hitam ini mengakibatkan mereka lupa bahwa perpustakaan memerlukan gedung, anggaran, sumber daya manusia, buku baru, teknologi informasi, dan fasilitas yang memadai untuk menjadi rumah belajar masyarakat. Kelupaan ini amat menjengkelkan bagi kami yang bekerja di dunia perpustakaan. Dulu sempat muncul anekdot, bagian anggaran akan menderita gatal-gatal ketika bertemu dengan mata anggaran perpustakaan. Akhirnya mata anggaran perpustakaan itu pun dicoret.
Impian Muhidin M Dahlan - tentang perpustakaan yang buka sampai jam 12 malam- akan menjadi kenyataan jika sikap mental pembesar negeri ini sama dengan pemerintahan Khilafah Bani Abasiyah (750 – 1258 M). Masa itu yang merupakan masa keemasan ilmu pengetahuan di dunia Islam, ditandai dengan perhatian pemerintah yang tinggi terhadap perpustakaan.
Penguasa saat itu melukis perpustakaan dengan tinta emas. Salah satu perpustakaan yang terkenal dan terbesar adalah Baitul Hikmah. Pustakawan pada zaman itu merupakan jabatan yang prestisius. Tidak ada orang yang bisa bekerja di perpustakaan, kecuali memiliki tradisi membaca, menulis , dan keilmuan yang kuat. Tidak ada orang yang merasa terbuang di perpustakaan. Ilmuwan Matematika Al Khawarizmi merupakan salah satu contoh ilmuwan sekaligus pustakawan yang lahir pada masa itu.
Membaca tulisan Muhidin M Dahlan yang berjudul “Andai Perpustakaan Buka Sampai Jam 12 Malam” yang dimuat di Jawa Pos ,16 April 2006, membuat penulis termenung sejenak.
Nasib dunia perpustakaan di negeri ini memang tidak seindah sejumlah predikat yang disandangnya. Gudang ilmu, jendela dunia, dan samudera pengetahuan merupakan rayuan manis sekaligus gombal untuk menyanjung dunia perpustakaan. Mengapa ? Sejumlah sanjungan tersebut tidak pernah menjelma di alam realitas. Ia hanya berkeliaran di alam imajiner yang disebut dengan harapan, impian, cita-cita, dan obsesi.
Lihatlah dunia pendidikan kita ! Dunia yang memiliki hobi gonta-ganti kurikulum ini tidak pernah memberi perpustakaan ruang yang memadai untuk menyemai minat baca anak-anak didik. Perpustakaan dipojokkan dalam “ruang sisa”, “ruang sempit”, sekaligus “ruang terbelakang “. Bahkan terkadang tidak diberi ruang sama sekali dalam sebuah dunia yang menurut para pembesar negeri mampu mencerdaskan bangsa.
Di beberapa Sekolah Dasar perpustakaan benar-benar menjelma menjadi “gudang ilmu”. Mungkin karena begitu cintanya dengan “gudang ilmu” , para pendidik di sekolah itu sampai lupa membuka pintu ruang perpustakaan. Sehari, …seminggu,.. sebulan, …..dan mungkin setahun ruang perpustakaan dibiarkan terkunci rapat. Betul-betul menjadi gudang ilmu, yang “tersucikan” dari sentuhan tangan anak manusia, …sayang sekali …bukan gedung ilmu.
Lalu,…apakah kondisi perpustakaan di sekolah lanjutan lebih baik ? Ternyata setali tiga uang. Meskipun para “raja kecil” di SMP dan SMA ini selalu berkendaraan roda empat setelah “naik tahta”, nasib perpustakaan tak kunjung mengalami kenaikan martabat. Perpustakaan dibiarkan “hidup segan, mati tak mau”. Raja kecil selalu melantunkan lagu “tak ada dana” tatkala disinggung untuk menghias perpustakaan dengan deretan buku-buku bermutu. Ia sudah cukup senang dengan hiasan buku-buku paket yang betul-betul terpaketkan itu karena isinya sudah kadaluwarsa. Ia seolah lupa pernah menarik “1001” macam pungutan dari anak didik dengan berbagai label untuk kepentingan pendidikan. Dana BOS yang ada sekarang pun ketika berjumpa dengan perpustakaan akan segera memalingkan muka dengan sigapnya …Buuussssss, ….bablassss angineee.
Sekarang mari kita lanjutkan perjalanan ke pendidikan tinggi. Perguruan tinggi di Indonesia ternyata tidak dapat menjadi teladan dalam mengelola perpustakaan. Penelitian yang dilakukan oleh Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia tahun 2003 menunjukkan dari 125 perguruan tinggi yang disurvei hanya 5 perguruan tinggi yang mengalokasikan 5 persen dari budgetnya untuk perpustakaan. Sisanya hanya mengalokasikan dana di bawah 5 persen untuk perpustakaan. Bahkan 40 persen dari perguruan tinggi hanya rela mengalokasikan dana di bawah 2 persen untuk perpustakaan.
Potret buram dunia perpustakaan di tanah air sejatinya merupakan refleksi dari potret penguasa bangsa ini. Penguasa yang lebih mengutamakan kulit daripada isi. Tak perlu heran jika gedung PKK (yang dinahkodai oleh istri pembesar kabupaten/kota) jauh lebih “wah” daripada gedung perpustakaan umum. Jangan heran pula jika biaya pengadaan mobil dinas jauh lebih besar daripada biaya pengadaan koleksi baru untuk perpustakaan.
Ya, Tuhanku ! Mengapa semua elemen penguasa seolah tidak ada yang peduli terhadap perpustakaan ? Perpustakaan seolah telah menjadi monster yang menakutkan bagi para pembesar negeri. Tanyakan pada para penjaga perpustakaan, sudahkah pak gubernur, bupati, walikota, wakil rakyat, rektor, dekan, dan dosen meluangkan waktu sejenak untuk menengok kondisi perpustakaan ? Pernahkah beliau yang terhormat itu menginjakkan kaki di gedung ilmu ini?
Jika belum, harap maklum jika mereka menganggap perpustakaan sebagai “dunia lain”. Perpustakaan dalam kamus hidup mereka mungkin sekedar “gudang buku”, “tempat pembuangan”, “ruang berdebu”, “arena pengangguran” dan lukisan serba hitam lainnya.
Lukisan serba hitam ini mengakibatkan mereka lupa bahwa perpustakaan memerlukan gedung, anggaran, sumber daya manusia, buku baru, teknologi informasi, dan fasilitas yang memadai untuk menjadi rumah belajar masyarakat. Kelupaan ini amat menjengkelkan bagi kami yang bekerja di dunia perpustakaan. Dulu sempat muncul anekdot, bagian anggaran akan menderita gatal-gatal ketika bertemu dengan mata anggaran perpustakaan. Akhirnya mata anggaran perpustakaan itu pun dicoret.
Impian Muhidin M Dahlan - tentang perpustakaan yang buka sampai jam 12 malam- akan menjadi kenyataan jika sikap mental pembesar negeri ini sama dengan pemerintahan Khilafah Bani Abasiyah (750 – 1258 M). Masa itu yang merupakan masa keemasan ilmu pengetahuan di dunia Islam, ditandai dengan perhatian pemerintah yang tinggi terhadap perpustakaan.
Penguasa saat itu melukis perpustakaan dengan tinta emas. Salah satu perpustakaan yang terkenal dan terbesar adalah Baitul Hikmah. Pustakawan pada zaman itu merupakan jabatan yang prestisius. Tidak ada orang yang bisa bekerja di perpustakaan, kecuali memiliki tradisi membaca, menulis , dan keilmuan yang kuat. Tidak ada orang yang merasa terbuang di perpustakaan. Ilmuwan Matematika Al Khawarizmi merupakan salah satu contoh ilmuwan sekaligus pustakawan yang lahir pada masa itu.
Andai Perpustakaan Buka Sampai Jam 12 Malam
Oleh Muhidin M. Dahlan
"I have imagined that paradise will be a kind of library." (Jorge Luis Borges)
MENGANDAIKAN surga seperti perpustakaan, memang pembayangan berlebihan. Hanya orang kecanduan bau buku dan gila baca yang bisa demikian. Dan Jorge Luis Borges (1899-1986) adalah orang gila itu. Ia adalah manusia multitalenta dan kebiasaannya nyaris absurd. Ia adalah penjelajah dan perancang munculnya pelbagai bentuk gaya penulisan sastra yang kebanyakan lahir secara orisinal dari dirinya. Tapi yang pasti ia adalah legenda penjaga perpustakaan Argentina hingga matanya nyaris buta.
Borges menjadi penjaga perpustakaan bukan karena kebutuhan birokrasi, tapi panggilan hidup, panggilan jiwa, panggilan cinta. Ia menjadi salah satu penggila dan pembau buku --sebagaimana pustakawan abad 17 Antonio Magliabechi dari Fiorentina. Dan, perpustakaan adalah simbol perut di mana pengetahuan diikat dalam buku lalu berkumpul dan bermusyawarah.
Lalu saya teringat bahwa saya tinggal di Indonesia. Negeri di mana lahir banyak sekali penulis-penulis agung dengan serat dan kitab-kitab besar yang membuat banyak intelektual Barat terpukau. (Pada pekan pertama April 2006 ini sekitar 100 pakar dunia yang konsens mengaji ihwal teks, sejarah, dan keajaiban peradaban Indonesia berkumpul di Rusia dalam sebuah forum yang disebut Parlemen Nusantara).
Yang saya ingat ketika menyebut nama Borges adalah perpustakaan. Bagaimana sebuah pengetahuan disimpan di dalam perpustakaan dan para pemburu pengetahuan yang haus itu datang dan bermeditasi dengan buku. Tapi sayang, perpustakaan di Indonesia --utamanya yang besar-besar semacam perpustakaan nasional, kota, atau provinsi-- tutupnya mengikuti jam kantor pegawai negeri. Saya mungkin memaklumi bahwa Indonesia adalah Republik Pegawai, bukan Republik Buku. Saya juga memaklumi setelah teman baik saya Titik Mar dari Houston Baptist University di Texas memberi tahu bahwa dia sedang menunggu temannya yang masih memburu buku di perpustakaan hingga jam 12 malam.
Di kampus-kampus Indonesia juga demikian?
Dulu, sewaktu masih kuliah di Universitas Negeri Yogyakarta perpustakaan kami bisa buka sampai malam setelah sekelompok mahasiswa mendesak dan meyakinkan birokrasi kampus. Dikabulkan memang, karena kepala perpustakaanya masih muda dan idealis. Tapi itu hanya berlangsung 4 bulan. Ketika ia diganti, perpustakaan kampus kembali buka sampai jam 5 sore. Kembali ke aturan normal, aman, dan sejahtera --bersama kita pulang sore. Ai ai ai, asyiknya.
Bandingkan saja, perpustakaan kampus saja begitu, apalagi perpustakaan-pepustakaan umum. Saya memang selalu membayangkan perpustakaan buka sampai larut malam. Hah, di sana kita bisa membaca dan menulis, bermeditasi dalam samudera pengetahuan dengan tenang tanpa diburu waktu. Maklum saja, perpustakaan adalah tempat terbaik untuk belajar. Gedungnya yang serupa kastil atau genisa dalam sinagog yang besar, luas, lapang, dan beraroma bau kertas yang khas memberi perasaan damai dan ekstatik.
Tapi di sini, perpustakaan masih mengikuti aturan-aturan umum lazimnya. Seperti jam kerja kantoran lainnya. Petugasnya pun kerap tak mencerminkan perilaku seorang kerani yang menuntun kita menyusuri lorong waktu pengetahuan, tapi lebih bertindak sebatas administratur belaka yang malas dan jutek.
Saya membayangkan jika petugas perpustakaan itu seperti penjaga perpustakaan Dora the Explorer, wah asyik sekali. Kalau kita bertanya, mana buku Ulysses, dia tak hanya menunjukkan tempat, tapi juga menunjukkan kelebihan dan kedahsyatan buku itu. Kalau kita bertanya, mana buku Tenggelamnya Kapal van Der Wijk, dengan tulus kita dipapahnya untuk tahu siapa Hamka, apa isi buku legendaris itu, dan juga skandal miring soal plagiasi naskah itu oleh pengarangnya. Bila kita bertanya apa ada buku puisi Wiji Thukul di sini. Ah, ia menjawab, lagi dipinjam aktivis kiri kampus; tapi, ia lalu bercerita sendiri siapa Wiji Thukul dan bagaimana hidup dan karyanya berhadapan dengan muka murka kekuasaan Orde Baru.
Ya ya, bahkan saya membayangkan para kerani perpustakaan itu juga menyusun ensiklopedia dunia fiksi, berupa nama-nama manusia, tempat, sejarah peperangan, perdamaian, sampai peristiwa mantenan yang pernah hadir dalam dunia fiksi, novel, cerita pendek, puisi, maupun dongeng Indonesia --sebagaimana dilakukan Luis Borges.
Tapi, itu hanya dalam bayangan saya saja. Mengharap para kerani itu senyum dan tidak merengut seperti penjaga loket kebun binatang saja sudah senang kok.
Aha, kalau saya punya waktu banyak, maka ke depan akan saya wisatai setiap perpustakaan Indonesia. Saya pingin melihat wajah Indonesia dari wajah perpustakaannya. Dan melihat wajah manusia Indonesia dari wajah penjaga perpustakaannya. []
*) Muhidin M. Dahlan, kerani di Indonesia Buku (iBuKu) Jakarta
Sumber Jawa Pos, 16 April 2006
"I have imagined that paradise will be a kind of library." (Jorge Luis Borges)
MENGANDAIKAN surga seperti perpustakaan, memang pembayangan berlebihan. Hanya orang kecanduan bau buku dan gila baca yang bisa demikian. Dan Jorge Luis Borges (1899-1986) adalah orang gila itu. Ia adalah manusia multitalenta dan kebiasaannya nyaris absurd. Ia adalah penjelajah dan perancang munculnya pelbagai bentuk gaya penulisan sastra yang kebanyakan lahir secara orisinal dari dirinya. Tapi yang pasti ia adalah legenda penjaga perpustakaan Argentina hingga matanya nyaris buta.
Borges menjadi penjaga perpustakaan bukan karena kebutuhan birokrasi, tapi panggilan hidup, panggilan jiwa, panggilan cinta. Ia menjadi salah satu penggila dan pembau buku --sebagaimana pustakawan abad 17 Antonio Magliabechi dari Fiorentina. Dan, perpustakaan adalah simbol perut di mana pengetahuan diikat dalam buku lalu berkumpul dan bermusyawarah.
Lalu saya teringat bahwa saya tinggal di Indonesia. Negeri di mana lahir banyak sekali penulis-penulis agung dengan serat dan kitab-kitab besar yang membuat banyak intelektual Barat terpukau. (Pada pekan pertama April 2006 ini sekitar 100 pakar dunia yang konsens mengaji ihwal teks, sejarah, dan keajaiban peradaban Indonesia berkumpul di Rusia dalam sebuah forum yang disebut Parlemen Nusantara).
Yang saya ingat ketika menyebut nama Borges adalah perpustakaan. Bagaimana sebuah pengetahuan disimpan di dalam perpustakaan dan para pemburu pengetahuan yang haus itu datang dan bermeditasi dengan buku. Tapi sayang, perpustakaan di Indonesia --utamanya yang besar-besar semacam perpustakaan nasional, kota, atau provinsi-- tutupnya mengikuti jam kantor pegawai negeri. Saya mungkin memaklumi bahwa Indonesia adalah Republik Pegawai, bukan Republik Buku. Saya juga memaklumi setelah teman baik saya Titik Mar dari Houston Baptist University di Texas memberi tahu bahwa dia sedang menunggu temannya yang masih memburu buku di perpustakaan hingga jam 12 malam.
Di kampus-kampus Indonesia juga demikian?
Dulu, sewaktu masih kuliah di Universitas Negeri Yogyakarta perpustakaan kami bisa buka sampai malam setelah sekelompok mahasiswa mendesak dan meyakinkan birokrasi kampus. Dikabulkan memang, karena kepala perpustakaanya masih muda dan idealis. Tapi itu hanya berlangsung 4 bulan. Ketika ia diganti, perpustakaan kampus kembali buka sampai jam 5 sore. Kembali ke aturan normal, aman, dan sejahtera --bersama kita pulang sore. Ai ai ai, asyiknya.
Bandingkan saja, perpustakaan kampus saja begitu, apalagi perpustakaan-pepustakaan umum. Saya memang selalu membayangkan perpustakaan buka sampai larut malam. Hah, di sana kita bisa membaca dan menulis, bermeditasi dalam samudera pengetahuan dengan tenang tanpa diburu waktu. Maklum saja, perpustakaan adalah tempat terbaik untuk belajar. Gedungnya yang serupa kastil atau genisa dalam sinagog yang besar, luas, lapang, dan beraroma bau kertas yang khas memberi perasaan damai dan ekstatik.
Tapi di sini, perpustakaan masih mengikuti aturan-aturan umum lazimnya. Seperti jam kerja kantoran lainnya. Petugasnya pun kerap tak mencerminkan perilaku seorang kerani yang menuntun kita menyusuri lorong waktu pengetahuan, tapi lebih bertindak sebatas administratur belaka yang malas dan jutek.
Saya membayangkan jika petugas perpustakaan itu seperti penjaga perpustakaan Dora the Explorer, wah asyik sekali. Kalau kita bertanya, mana buku Ulysses, dia tak hanya menunjukkan tempat, tapi juga menunjukkan kelebihan dan kedahsyatan buku itu. Kalau kita bertanya, mana buku Tenggelamnya Kapal van Der Wijk, dengan tulus kita dipapahnya untuk tahu siapa Hamka, apa isi buku legendaris itu, dan juga skandal miring soal plagiasi naskah itu oleh pengarangnya. Bila kita bertanya apa ada buku puisi Wiji Thukul di sini. Ah, ia menjawab, lagi dipinjam aktivis kiri kampus; tapi, ia lalu bercerita sendiri siapa Wiji Thukul dan bagaimana hidup dan karyanya berhadapan dengan muka murka kekuasaan Orde Baru.
Ya ya, bahkan saya membayangkan para kerani perpustakaan itu juga menyusun ensiklopedia dunia fiksi, berupa nama-nama manusia, tempat, sejarah peperangan, perdamaian, sampai peristiwa mantenan yang pernah hadir dalam dunia fiksi, novel, cerita pendek, puisi, maupun dongeng Indonesia --sebagaimana dilakukan Luis Borges.
Tapi, itu hanya dalam bayangan saya saja. Mengharap para kerani itu senyum dan tidak merengut seperti penjaga loket kebun binatang saja sudah senang kok.
Aha, kalau saya punya waktu banyak, maka ke depan akan saya wisatai setiap perpustakaan Indonesia. Saya pingin melihat wajah Indonesia dari wajah perpustakaannya. Dan melihat wajah manusia Indonesia dari wajah penjaga perpustakaannya. []
*) Muhidin M. Dahlan, kerani di Indonesia Buku (iBuKu) Jakarta
Sumber Jawa Pos, 16 April 2006
04 Desember 2008
Revolusi Layanan Perpustakaan Nasional RI Berbasis Teknologi Informasi
Oleh : Romi Febriyanto Saputro
Artikel ini telah dinobatkan sebagai Juara 1 Lomba Menulis Artikel tentang Kepustakawanan Indonesia Tahun 2008 yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Nasional RI.
A. Pendahuluan
Menurut Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan, Perpustakaan Nasional adalah lembaga pemerintah non departemen yang melaksanakan tugas pemerintahan dalam bidang perpustakaan yang berfungsi sebagai perpustakaan pembina, perpustakaan rujukan, perpustakaan deposit, perpustakaan penelitian, perpustakaan pelestarian dan pusat jejaring perpustakaan, serta berkedudukan di ibukota negara.
Mencermati paragraf di atas, terlihat bahwa fungsi yang diemban oleh Perpustakaan Nasional RI tidaklah ringan. Perlu suatu langkah yang cerdas agar aneka fungsi tersebut dapat terlaksana dengan baik. Salah satu langkah cerdas yang dapat ditempuh adalah dengan memberdayakan keberadaan teknologi Informasi dan bukan sekedar menggunakannya untuk menggantikan layanan manual.
Aneka fungsi di atas tidak akan terlaksana dengan baik jika tidak ditunjang dengan pemberdayaan teknologi Informasi. Dengan teknologi Informasi, aneka fungsi tersebut akan lebih terasa manfaatnya oleh masyarakat. Dengan kata lain teknologi Informasi akan mampu meningkatkan kualitas layanan Perpustakaan Nasional RI.
B. Teknologi Informasi
Teknologi Informasi (selanjutnya disingkat TI) adalah suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas, yaitu informasi yang relevan, akurat dan tepat waktu, yang digunakan untuk keperluan pribadi, bisnis, dan pemerintahan dan merupakan informasi yang strategis untuk pengambilan keputusan. Teknologi ini menggunakan seperangkat komputer untuk mengolah data, sistem jaringan untuk menghubungkan satu komputer dengan komputer yang lainnya sesuai dengan kebutuhan, dan teknologi telekomunikasi digunakan agar data dapat disebar dan diakses secara global (Wawan Wardiana, 2002)
Melihat perkembangan TI di tanah air terasa seperti ada sesuatu yang salah. Ibaratnya seperti, “sayur tanpa garam”. Kebangkitan Korea Selatan dengan TI menarik untuk dipergunakan sebagai “pisau analisa” untuk membedah fenomena ini. Negara ini terbukti mampu menjadi pemain utama sebagai negara produsen TI.
Korea adalah negara pertama yang meluncurkan produk layanan telepon mobile CDMA secara komersial pada tahun 1996. Dua tahun kemudian, jasa layanan internet broadband yang pertama di dunia juga diluncurkan di negeri ini. Disusul capaian spektakuler lain, seperti digital broadcasting (2001), peluncuran e-government (2002), pembangunan layanan percontohan Wireless Broadbank Internet/Wibro (2004), dan peluncuran Digital Multimedia Broadcasting/DMB (2005).
Booming industri teknologi komunikasi dan informasi (ICT) menjadi salah satu faktor penting di balik cepat pulihnya ekonomi Korsel dari krisis finansial 1997 dan menjadi perekonomian yang jauh lebih kuat. Dalam tiga tahun transaksi e-commerce meningkat dari 7,2 juta transaksi (2003) menjadi 12,8 juta (2006).
Ekspor produk ICT pun melonjak dari 48,4 miliar dolar AS (2001) menjadi 113,3 miliar dollar AS (2006). Sumbangan komponen ICT dalam produk domestik bruto (PDB) riil nasional melonjak dari 10,1 persen (2001) menjadi 16,2 persen pada kurun waktu yang sama.
Pertumbuhan pesat internet dari industri ICT ini dipicu oleh dua hal. Pertama, cepatnya adaptasi masyarakat terhadap teknologi baru. Antusiasme ini tak bisa dilepaskan dari budaya self education bangsa Korsel. Revolusi di bidang teknologi digital tak mungkin terjadi tanpa ada dukungan konsumen yang sangat terbuka pada teknologi dan inovasi baru.
Tingkat penetrasi internet di level rumah tangga mencapai hampir 80 persen, sementara di kalangan industri hampir 100 persen. Internet dengan cepat menggantikan TV sebagai sumber utama informasi. Dari ibu rumah tangga, siswa SD, pedagang kecil, hingga pekerja kantoran sudah memanfaatkan jasa internet. Dalam empat tahun, pendapatan bisnis jasa internet melonjak 10.000 persen dari 36,4 miliar won (1999) menjadi 3.700 miliar won (2003)
Faktor kedua adalah ketatnya persaingan antar penyedia jasa internet, seperti Korea Telecom, Hanaro, dan Thrunet, yang menyebabkan konsumen bisa menikmati harga murah. Tak kalah penting adalah dukungan kebijakan pemerintah lewat strategi IT839 dan e-korean program melalui pembangunan jaringan infrastruktur informasi dan komunikasi berkecepatan tinggi sejak 1995.
Hasilnya, Korsel berhasil mewujudkan ambisi menjadi information society pada abad ke-21, jauh lebih cepat dari yang ditargetkan. Dalam indeks informatisasi global, posisi Korsel terus meningkat dari urutan 22 (1998) menjadi 12 (2003) dan 3 (2005). Untuk Digital Oppurtinity Index yang disusun Inter national Telecommunication Union, Korsel di urutan teratas selama dua tahun berturut-turut. Sebagai kota, ibu kota Seoul juga masih tetap teratas dalam e-gonernance, mengalahkan Hongkong, Heksinki, Singapura, Madrid, dan London.
Basis pengetahuan dan kultur baca tulis yang kuat merupakan rahasia utama kesuksesan Korea. Basis pengetahuan yang kuat memungkinkan Korea untuk melakukan loncatan besar dalam sebuah creative innovation, hingga akhirnya mampu melakukan inovasi sendiri dan menjadi negara maju saat ini.
Ketika perang Vietnam usai dan Presiden Amerika menawarkan bantuan untuk Korea atas jasanya selama perang tersebut, tak banyak yang diminta Presiden Park saat itu. Amerika akhirnya membangunkan untuk Korea laboratorium Iptek besar yang kemudian bernama KIST (Korean Institute of Science and Technology). KIST inilah yang memiliki peran besar dalam membangun basis pengetahuan yang kuat di Korea.
Basis pengetahuan yang kuat akan sulit diwujudkan tanpa adanya kultur baca tulis yang kuat pula. Hampir semua informasi dan ilmu pengetahuan tersedia dalam bentuk tulisan (buku, majalah, jurnal, koran, brosur, pamflet, dsb). Informasi dalam bentuk tulisan memiliki banyak keunggulan dibanding media-media dalam bentuk lain. Walaupun kini telah tersedia internet yang membantu kita menyediakan berbagai informasi, tapi buku tetap menjadi instrumen utama. Kebijakan yang paling penting dalam mendorong budaya baca tulis ini adalah adanya perpustakaan.
TI dan perpustakaan dapat diibaratkan sebagai “dua sisi dari satu mata uang yang sama”. Keberadaan TI akan memudahkan perpustakaan dalam mengaplikasikan konsep manajemen ilmu pengetahuan. TI akan memudahkan perpustakaan dalam melakukan pengembangan pangkalan data, penelusuran informasi, transformasi digital, dan promosi.
TI tanpa dukungan perpustakaan hanya akan menghasilkan teknologi konsumtif, teknologi yang mandul. Perpustakaan berperan meletakkan dasar yang kuat untuk membentuk masyarakat yang melek informasi. Masyarakat yang mampu memberdayakan informasi bukan sekedar mengkonsumsi informasi. Jadi, perpustakaan berperan untuk menyiapkan masyarakat agar “siap menikmati” TI.
Kesiapan ini cukup penting agar masyarakat dapat memaksimalkan peran TI untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Ironisnya, sampai saat ini kesiapan masyarakat untuk mengoptimalkan TI belum menggembirakan. Fenomena ketidaksiapan ini, tampak pada : pertama, fenomena pornografi dan chatting di internet.
Masyarakat yang tidak siap hanya akan tertarik dengan informasi sampah yang ada di internet dan alergi dengan informasi penuh gizi yang juga disediakan oleh internet. Realitas membuktikan hampir delapan puluh persen pengguna internet kita menyukai situs-situs yang mengandung pornografi dan pornoaksi. Internet juga hanya dipergunakan untuk keperluan yang tidak produktif semacam “chatting” yang merupakan kemasan baru dari kebiasaan “ngerumpi” masyarakat. Dalam hal ini adanya internet malah makin mengukuhkan tradisi lisan bukan tradisi baca dan tulis masyarakat.
Kedua, fenomena hotspot. Hotspot dengan mudah bisa ditemukan di setiap tempat. Sekolah, kampus, kedai, angkringan, kafe, dan mal. Dengan hanya bermodalkan laptop dan duduk lesehan di kafe, seseorang bisa berselancar sepuasnya di dunia maya. Hal inilah yang mendorong meningkatnya penjualan laptop.
Namun ironisnya, demam hotspot yang saat ini melanda masyarakat belum memicu bangkitnya kesadaran untuk memanfaatakan teknologi dan hanya menunjukkan perayaan konsumerisme belaka. Menurut Arie Sujito (2008), sosiolog Universitas Gadjah Mada, demam hotspot yang terjadi baru sebatas trend gaya hidup. Yakni masih sebatas sebagai pengguna dan belum benar-benar memanfaatkan teknologi itu untuk meningkatkan kualitas pribadi. Buktinya, kawasan hotspot yang sering diserbu bukan perpustakaan melainkan kafe atau mal.
Ketiga, fenomena buku paket elektronik dari Depdiknas. Sekolah diperkirakan tidak bisa menggunakan buku paket elektronik secara maksimal dengan terbatasnya sarana dan prasarana pendukung, seperti komputer yang terkoneksi internet. Sekolah harus mengeluarkan biaya besar untuk mengadakan teknologi pendukung buku paket elektronik tersebut.
C. Revolusi Layanan
Pada bagian pendahuluan, penulis sudah sedikit mengungkapkan tentang urgensi peningkatan kualitas layanan Perpustakaan Nasional RI. Peningkatan kualitas layanan ini sangat terkait dengan kedudukan Perpustakaan Nasional RI sebagai perpustakaan pembina, perpustakaan rujukan, perpustakaan deposit, perpustakaan penelitian, perpustakaan pelestarian dan pusat jejaring perpustakaan. Keenam fungsi ini dituntut dapat memberikan layanan yang terbaik kepada masyarakat. Dengan kata lain dapat memberikan kepuasan kepada pemustaka di seluruh pelosok tanah air.
Peningkatan kualitas layanan secara holistik ini lebih tepat disebut dengan istilah “Revolusi Layanan”. Mengapa ? Karena untuk mencapainya diperlukan perjuangan dan pengorbanan yang heroik dari semua unsur di Perpustakaan Nasional RI. Perlu kerja keras dan kerja sama semua pihak dalam memberikan kepuasan kepada pemustaka.
Revolusi layanan perpustakaan diharapkan dapat membawa Perpustakaan Nasional RI menjadi perpustakaan penelitian. Menurut Soeatminah (1999) ada tiga tahap perkembangan perpustakaan, pertama, tahap gudang buku (Store House Period). Dalam tahap ini, perpustakaan hanya berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan dan merawat buku, dengan tujuan utama menyelamatkannya dari kerusakan.
Kedua, tahap layanan (Service Period). Tahap ini ditandai dengan meningkatnya jumlah koleksi bahan pustaka dan jumlah masyarakat pemakainya. Bidang layanan perpustakaan mendapat tantangan dari masyarakat pengguna yang berharap dapat memperoleh layanan yang baik.
Ketiga, tahap pendidikan dan penelitian (Educational and Research Period). Perpustakaan pada tahap ini berfungsi sebagai tempat untuk mendidik dan mengembangkan masyarakat penggunanya. Perpustakaan dituntut untuk mampu memberi kepuasan kepada masyarakat pemakainya dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, terutama bagi mereka yang betul-betul menekuni bidang ilmunya. Perpustakaan bagi pendidik dan peneliti merupakan penyalur informasi sekaligus sebagai sumber inspirasi.
1. Revolusi layanan perpustakaan pembina.
Sebagai perpustakaan pembina, Perpustakaan Nasional RI dituntut untuk memberikan layanan tentang tata cara pengelolaan perpustakaan yang baik dan benar kepada seluruh perpustakaan yang ada di tanah air. Situs resmi Perpustakaan Nasional RI mesti memuat buku pedoman penyelenggaraan perpustakaan yang mudah diakses oleh publik. Tata cara pengolahan bahan pustaka seperti : klasifikasi, inventarisasi, pemasangan kelengkapan buku, dan katalogisasi merupakan menu yang wajib ada dalam website Perpustakaan Nasional RI. Demikian pula dengan tata cara layanan perpustakaan, juga harus menjadi bagian dari “menu” pembinaan tersebut.
Perpustakaan Nasional RI dapat membuat buku pedoman klasifikasi DDC (Decimal Dewey Classification), pedoman tajuk subyek, dan Peraturan Katalogisasi Indonesia dalam bentuk buku digital yang bebas didownload oleh pengelola perpustakaan maupun masyarakat. Selama ini publik masih mengalami kesulitan untuk memperoleh buku-buku yang notabene merupakan “kitab suci” dunia perpustakaan di tanah air. Dengan kebijakan ini diharapkan segala peraturan yang berkaitan dengan dunia perpustakaan makin dipahami oleh pengelola perpustakaan di tanah air.
Modul-modul diklat yang selama ini diproduksi oleh Pusat Diklat Perpustakaan Nasional RI dapat dibuat dalam format digital dan ditampilkan dalam situs resmi Perpustakaan Nasional RI agar dapat diakses publik secara terbuka. Selama ini yang ada dalam website hanya buku-buku yang dapat dikategorikan dalam “pedoman umum dan petunjuk umum”. Belum secara spesifik dan rinci mengajarkan ilmu perpustakaan dan kepustakawanan. Dengan demikian mereka yang awam tentang perpustakaan pun diharapkan dapat secara cepat dan praktis memahami dunia perpustakaan.
Selain itu, dengan digitalisasi modul-modul belajar tersebut Pusdiklat Perpustakaan Nasional RI juga dapat menggelar program diklat perpustakaan jarak jauh. Diklat perpustakaan jarak jauh ini merupakan wujud praktis pemberdayaan TI untuk semakin mempercepat proses pembinaan perpustakaan di tanah air.
2. Revolusi layanan perpustakaan rujukan.
Arah pengembangan revolusi layanan rujukan adalah terwujudnya perpustakaan hibrida (hybrid library). Christine L Borgman (2003), mengungkapkan bahwa perpustakaan hibrida adalah perpustakaan yang didesain untuk mengelola teknologi dari dua sumber yang berbeda, yaitu sumber elektronik dan sumber koleksi yang tercetak yang dapat diakses melalui jarak dekat maupun jarak jauh.
Berbeda dengan perpustakaan digital, konsep perpustakaan hibrida berusaha mempertahankan koleksi tercetak, bukan menggantikan semuanya dengan koleksi digital. Perpustakaan hibrida memiliki koleksi tercetak yang permanen dan setara dengan koleksi digitalnya. Perpustakaan hibrida berusaha memperluas konsep dan cakupan jasa informasi, sehingga penambahan koleksi digital dan penggunaan teknologi komputer tidak bisa dipisahkan dari jasa berbasis koleksi tercetak.
Negara yang termasuk paling aktif melakukan penelitian dan pengembangan konsep perpustakaan hibrida adalah Inggris. Negara ini menyelenggarakan lima proyek perpustakaan hibrida, masing-masing diberi nama BUILDER, AGORA, MALIBU, Headline, dan Hylife. Kelimanya merupakan bagian dari proyek besar E-Lib. Masing-masing proyek ini memiliki ciri tersendiri namun secara bersama mereka mencari cara terbaik mengembangkan jasa perpustakaan dengan memanfaatkan teknologi terbaru.
BUILDER Hybrid Library, dikembangkan di University of Birmingham untuk mempelajari dampak perpustakaan hibrida terhadap pemakai di perguruan tinggi, mulai dari mahasiswa, pengajar, sampai para pengelola kampus. Proyek ini berkonsentrasi pada pengamatan tentang lingkungan penyediaan jasa informasi yang menggabungkan jasa perpustakaan biasa dan jasa elektronik. Kebetulan, pada saat bersamaan University of Birmingham juga sedang mengembangkan lingkungan belajar baru yang memanfaatkan teknologi komputer.
AGORA merupakan sebuah konsorsium yang dipimpin oleh University of East Anglia dengan konsentrasi pada Hybrid Library Management System. Dalam proyek ini, perhatian diberikan kepada pengembangan sistem informasi berbasis konsep “ cari-temukan, diminta-sajikan”. Berbagai eksperimen dilakukan untuk mengembangkan sebuah layanan terintegrasi, menggunakan standar Z39.50, yang menyatukan berbagai fungsi dan jasa perpustakaan ke dalam satu layanan berbasis web. Pemakai diharapkan dapat terbantu oleh sebuah layanan yang serupa untuk berbagai macam keperluan menggunakan berbagai jenis media, baik yang ada di koleksi lokal perpustakaan, maupun yang ada di koleksi perpustakaan yang lain.
MALIBU dikembangkan oleh King’s College London. Khusus untuk mempelajari pengembangan perpustakaan hibrida di bidang ilmu budaya (humanities). Menarik untuk dicatat, proyek ini mempelajari pula kemungkinan keterlibatan para pemakai jasa dengan mengajak mereka membuat sebuah User Scenario. Para teknolog dan pustakawan kemudian menerapkan skenario ini pada rencana pengembangan dan manajemen jasa.
Headline Project dikerjakan oleh London School of Economics, bereksperimen dengan lingkungan jasa informasi personal dengan mengembangkan sebuah portal yang memungkinkan para pengguna perpustakaan mengakses informasi secara digital maupun manual secara terintegrasi. Portal ini dapat diubah sesuai selera pengguna dan memberikan fasilitas untuk menghimpun pengguna yang memiliki kepentingan sama dalam satu kelompok khusus.
HuLife di University of Northumbria memfokuskan diri pada masalah-masalah non-teknologi untuk memahami bagaimana cara terbaik mengoperasikan perpustakaan hibrida. Salah satu hasil proyek ini adalah Hybrid Library Toolkit, sebuah panduan yang ingin mengembangkan jasa elektronik mereka yang sesuai dengan kebutuhan institusi.
3. Revolusi layanan perpustakaan deposit.
Salah satu tugas dan fungsi Perpustakaan Nasional RI adalah sebagai pusat deposit terbitan nasional dalam melaksanakan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1990 tentang serah simpan karya cetak dan karya rekam. Berdasarkan undang-undang tersebut, Perpustakaan Nasional dan Perpustakaan Nasional Provinsi mendapat tugas untuk melakukan penghimpunan, penyimpanan, dan pelestarian bahan karya cetak dan karya rekam yang dihasilkan di wilayah Indonesia.
Namun upaya untuk menghimpun terbitan nasional ini masih mengalami hambatan, antara lain masih kurangnya kesadaran penerbit, terutama penerbit pemerintah, untuk menyerahkan terbitannya kepada Perpustakaan Nasional RI guna dilestarikan. Hambatan ini diperparah dengan adanya kebijakan otonomi daerah yang menyebabkan Perpustakaan Nasional Provinsi menjadi asset Pemerintah Provinsi.
Dari terbitan buku per tahun sebesar 7.500 judul (hasil survei kajian terbitan buku tahun 2002 dan 2003 di Indonesia oleh Perpustakaan Nasional bekerja sama dengan Lembaga Penelitian IPB), baru 375 judul (tahun 2002) dan 400 judul (tahun 2003) yang diserahkan penerbit kepada Perpustakaan Nasional. Sebagian besar dari yang diserahkan itu terdiri dari terbitan non-pemerintah.
Untuk mengoptimalkan pengumpulan serah-simpan karya cetak dan karya rekam Perpustakaan Nasional RI dan perpustakaan daerah provinsi harus melakukan “layanan jemput bola”. Untuk memaksimalkan hasil layanan jemput bola, libatkan keberadaan perpustakaan umum kabupaten/kota. Lagi pula saat ini adalah era otonomi daerah, sehingga wajar jika perpustakaan umum kabupaten/kota mendapat peran yang cukup signifikan.
Setiap bulan perpustakaan umum kabupaten/kota dapat diminta partisipasinya untuk memantau jumlah penerbitan karya cetak dan karya rekam baru di masing-masing kabupaten/kota di tanah air. Perpustakaan umum kabupaten/kota juga dapat dijadikan sebagai tempat transit sementara bagi penerbit/pengusaha rekaman yang ingin menyerahkan karya cetak/karya rekam terbarunya. Selanjutnya perpustakaan umum kabupaten/kotalah yang mengirimkan kepada perpustakaan daerah provinsi untuk diteruskan kepada perpustakaan nasional. Dengan demikian penerbit dan pengusaha rekaman tak perlu repot-repot menyerahkan sendiri ke perpustakaan nasional.
Layanan jemput bola ini akan semakin efektif jika disatukan dengan desentralisasi pemberian nomor ISBN (International Standart Book Numbers) dan barcode harga yang sangat diperlukan penerbit untuk memasarkan produknya baik di dalam maupun luar negeri/internasional.
Dengan desentralisasi ISBN, maka penerbit cukup mengurus ISBN di perpustakaan umum kabupaten/kota yang dirancang online dengan perpustakaan daerah provinsi dan perpustakaan nasional. Desentralisasi ISBN akan semakin memudahkan proses pemantauan dan pengumpulan karya cetak dari penerbit karena dilayani secara langsung oleh perpustakaan umum kabupaten/kota. Layanan penerbitan ISBN yang terpadu dengan layanan untuk menerima serah-simpan karya cetak ini diharapkan dapat meminimalkan tidak terdeteksinya penerbitan buku baru oleh perpustakaan seperti yang terjadi selama ini.
Untuk lebih meningkatkan partisipasi penerbit, Perpustakaan Nasional RI dapat memberikan alternatif kepada penerbit untuk mengirimkan buku terbitannya dalam bentuk buku digital. Buku digital ini dapat dimuat di situs deposit Perpustakaan Nasional RI agar dapat diakses oleh publik.
Publik dapat membuka layanan buku digital ini, namun tidak dapat mendownload buku ini. Dalam hal ini perpustakaan deposit juga berfungsi sebagai media promosi buku baru sehingga akan menguntungkan penerbit buku. Jika seseorang menghendaki buku baru tersebut, dapat membeli secara langsung di toko buku.
4. Revolusi layanan perpustakaan penelitian/riset.
Revolusi layanan ini dapat dimulai dengan mengembangkan Perpustakaan Nasional RI sebagai pusat riset/penelitian. Perpustakaan riset punya berbagai ciri, yaitu, pertama, koleksinya yang komprehensif dan mengarah khusus pada bidang kajian penelitian tertentu. Jadi, koleksi buku Perpustakaan Nasional RI perlu diarahkan pada terwujudnya aneka pusat koleksi bidang penelitian tertentu. Seperti pusat koleksi penelitian bidang bahasa, pusat penelitian bidang sains, dan pusat penelitian bidang ilmu sosial.
Kedua, koleksinya selalu mutakhir. Kemutakhiran koleksi perpustakaan riset sangat penting, karena peneliti membutuhkan informasi tentang perkembangan terbaru di bidang yang menjadi kajian penelitiannya. Biasanya, koleksi mutakhir tersebut berupa jurnal ilmiah.
Ketiga, dominan pemakai perpustakaan riset ialah para peneliti profesional ataupun civitas akademika yang sedang menjalankan aktivitas penelitian. Spesialisasi layanan perpustakaan riset ialah Current Awareness Service (CAS) sebagai layanan yang mendukung dinamika kebutuhan dan mobilitas para peneliti sebagai kliennya.
Sebagai perpustakaan riset, Perpustakaan Nasional RI perlu melakukan inovasi-inovasi layanan agar lebih dikenal oleh para peneliti dan akademikus. Menurut Fadil Hasan, sebagaimana dikutip Tempo Interaktif, 23 Mei 2005, hanya 20 persen peneliti yang memanfaatkan fasilitas Perpustakaan Nasional. Survey dilakukan terhadap 60 orang peneliti di Jakarta dan Bogor. Dari survey itu, 65 persen lainnya malah sama sekali belum pernah ke Perpustakaan Nasional. Sisanya, hanya sesekali berkunjung.
Menurut Fadil, para responden umumnya berpendapat bahwa perpustakaan yang terdapat di bilangan Salemba, Jakarta Pusat ini, koleksinya tidak lengkap dan kurang spesifik. Selain itu, mereka lebih banyak menggunakan internet untuk memperdalam penelitiannya. Sebanyak 70 persen menggunakan internet.
Fungsi sebagai perpustakaan riset menghendaki Perpustakaan Nasional mampu memberikan layanan kepada pemustaka yang hendak melakukan penelusuran informasi. Fungsi ini perlu di respon oleh Perpustakaan Nasional RI dengan melakukan revolusi diri menjadi perpustakaan digital yang senantiasa “up to date” memberikan informasi yang cepat dan tepat kepada masyarakat.
Perpustakaan riset dapat melengkapi diri dengan menyusun secara mandiri ensiklopedia digital, kamus digital, handbook digital, guidebook digital, direktori digital, dan almanak digital. Tanpa langkah ini, fungsi sebagai perpustakaan riset tidak akan berjalan dinamis.
Subhan (2006) mengungkapkan bahwa digitalisasi merupakan salah satu langkah agar akses informasi dan kerjasama antarperpustakaan menjadi semakin lancar. Dengan digitalisasi, para peneliti dapat dengan mudah mengakses informasi untuk kebutuhan penelitiannya.
Perpustakaan riset memberikan harapan kemajuan dan kemakmuran. Dengan riset, ilmu pengetahuan makin berkembang. Harapannya, perkembangan itu melahirkan efek bola salju berupa meningkatnya kualitas sumber daya manusia. Negara-negara maju sejak lama menyadari besarnya manfaat riset. Lewat riset, berbagai inovasi bermunculan sehingga bisa dijadikan komoditas bernilai jual dan daya saing tinggi.
5. Revolusi layanan perpustakaan pelestarian.
Arah revolusi dalam layanan bidang pelestarian adalah mempublikasikan naskah-naskah kuno yang dimiliki oleh Perpustakaan Nasional RI dalam format digital. Saat ini Perpustakaan Nasional RI memang telah memiliki beberapa naskah kuno yang sudah dialihmediakan dalam format digital, seperti Barmartani (Soerakarta, 1855) dan Soerat Chabar Betawi (Betawi, 1858).
Namun, naskah-naskah kuno ini belum dapat diakses oleh publik melalui internet (format digital). Padahal salah satu tujuan dari pelestarian naskah-naskah kuno adalah adanya proses eksplorasi dan eksploitasi terhadap naskah kuno tersebut. Pembukaan akses secara terbuka terhadap publik akan meningkatkan kadar kegunaan dan keterpakaian naskah-naskah tersebut.
Alangkah indahnya, jika publik dapat mengakses koleksi surat kabar milik Perpustakaan Nasional RI yang terbit pada masa Perang Diponegoro melalui internet. Hal ini tentu akan menambah wawasan sejarah anak bangsa ini melalui rekaman tertulis para jurnalis pada masa itu.
Bila selama ini pengetahuan tentang Perang Aceh, Perang Diponegoro dan Perang Padri, hanya diperoleh dari buku sejarah, maka surat kabar yang terbit di zaman penjajahan memberi informasi secara langsung kejadian tersebut. Dengan demikian publik dapat mengikuti dengan lebih rinci mengenai tokoh dan peristiwa penting yang kelak dikemudian hari menjadi bagian tidak terpisahkan dari perjalanan bangsa ini.
Selain itu, Perpustakaan Nasional RI juga harus membuat “tafsir/penjelasan” dari naskah-naskah kuno yang menjadi koleksinya. Penjelasan naskah ini menjadi penting pula untuk dipublikasikan dalam website Perpustakaan Nasional RI agar warisan luhur budaya bangsa lebih dikenal dan di sayang oleh masyarakat.
6. Revolusi pusat jejaring perpustakaan.
Menurut pasal 12 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007, tentang Perpustakaan, menyebutkan bahwa perpustakaan melakukan kerja sama dengan berbagai pihak untuk meningkatkan layanan kepada pemustaka. Tujuan kerjasama ini adalah untuk meningkatkan jumlah pemustaka yang dapat dilayani dan meningkatkan mutu layanan perpustakaan. Kerjasama ini dilakukan dengan memanfaatkan sistem jejaring perpustakaan yang berbasis TI dan komunikasi.
Sampai saat ini tak ada satupun perpustakaan yang dapat menahbiskan dirinya sebagai perpustakaan paling lengkap di dunia. Tahbis yang ada baru sebatas perpustakaan dengan jumlah koleksi terbanyak. Untuk itu diperlukan kerjasama antar perpustakaan guna saling asah, asih, dan asuh dalam meningkatkan layanan kepada pemustaka.
Perpustakaan Nasional RI yang merupakan “payungnya” seluruh perpustakaan di tanah air sudah sewajarnya memelopori terbentuknya jaringan perpustakaan berbasis TI di tanah air. Langkah pertama yang dapat ditempuh adalah dengan membentuk jaringan nasional Perpustakaan Daerah Provinsi di Indonesia.
Langkah kedua adalah membentuk jaringan nasional perpustakaan umum kabupaten/kota dalam setiap provinsi. Hal ini dapat dikoordinasikan dengan setiap Perpustakaan Daerah Provinsi yang ada di Indonesia. Berikutnya, membentuk jaringan nasional perpustakaan perguruan tinggi se-Indonesia. Hal ini dapat dimulai dari perpustakaan perguruan tinggi negeri (PTN) .
Untuk mempercepat terbentuknya jaringan perpustakaan ini, Perpustakaan Nasional RI perlu melakukan langkah revolusi dengan membuat program otomasi perpustakaan gratis yang dapat diunduh oleh masyarakat di website Perpustakaan Nasional RI. Penyusunan format MARC untuk Indonesia (INDOMARC) tanpa diikuti dengan langkah nyata ini tidak akan banyak membawa arti. Mengingat tidak semua perpustakaan di tanah air mampu membeli program otomasi secara mandiri.
Perpustakaan Nasional RI dapat menyempurnakan program otomasi gratis dari UNESCO seperti CDS/ISIS maupun WIN ISIS sehingga selain dapat dipergunakan untuk pangkalan data juga dapat dipergunakan untuk layanan. Dengan langkah ini, seluruh perpustakaan di tanah air dapat memperoleh program otomasi yang mudah dan murah yang kelak akan mempercepat proses pembentukan jaringan informasi nasional perpustakaan.
E. Revolusi Pustakawan
Untuk mendukung keberhasilan revolusi layanan Perpustakaan Nasional RI diperlukan revolusi sumber daya manusia, khususnya revolusi kualitas pustakawan. Revolusi ini diarahkan guna meningkatkan apresiasi pustakawan terhadap TI. Apresiasi yang tinggi terhadap TI akan memperkuat kedudukan pustakawan dalam menghadapi pesatnya perkembangan TI.
Pustakawan sebenarnya memiliki modal yang kuat untuk berkiprah di dunia TI. Untuk merancang sebuah program seorang programmer komputer selalu mengadakan konsultasi dengan bidang yang berhubungan dengan masalah tersebut. Mengingat rancang bangun program ini tidak dapat dapat dibuat sembarangan. Sebut saja dalam dunia Web site khusus masalah konten atau isi web site mereka harus mengadakan brainstorming dengan pihak yang dianggap ahli, yakni pustakawan.
Hal ini disebabkan pustakawanlah yang paling tahu dalam hal penelusuran dan kemauan netter atau penelusur. Maka jelas para ahli TI hanya bisa membuat sistem programnya, tetapi bukan isinya. Kemampuan mengkategori, memfiling dokumen file adalah kemampuan pustakawan yang sangat diandalkan. Pembagian nama domain untuk file, lokasi koding bahkan sampai bentuk format penyimpanan metadata sangat tergantung pada pustakawan.
Jadi secara sederhana programmer yang membuat kerangka, dan pustakawanlah yang mengisi konten dengan kebijakan dari pihak redaksional. Pemasukan konten data ini sangat tergantung kemampuan knowledge si pustakawan tersebut. Misalnya seorang setelah membrowsing internet didapat bahan yang bagus dapat dimasukkan ke dalam alamat email atau engine (data entri) kepada reporter. Bila tidak ada yang berbasis web dapat discan dari buku atau majalah. Lalu si reporter membuat berita dengan bimbingan pustakawan.
Kemudian pustakawan juga mulai mendata semua bahan yang pernah fetch (tampil) di web site dan dikemasulang dalam CD, baik dalam bentuk data teks, gambar, ataupun MP3 atau MPVG dan lain-lain.
Pustakawan dengan modal yang dimilikinya juga dapat merevolusi diri menjadi seorang ilmuwan. Sebagai ilmuwan, pustakawan harus mampu memberdayakan informasi bukan sekadar melayankan informasi. Andy Alayyubi (2001) mengungkapkan bahwa pustakawan yang ideal selain profesional ia juga seorang ilmuwan.
Selama ini, khususnya di lembaga-lembaga riset, pekerjaan pustakawan hanya menyediakan informasi bagi para ilmuwan. Para pustakawan sudah merasa puas bila para ilmuwan sudah mendapatkan informasi yang dicarinya.
Fenomena ini harus diubah. Kalau kita pikirkan lagi, kita seharusnya mempertanyakan, mengapa pustakawan selalu menjadi "pembantu" ilmuwan kalau semua keperluan "majikan" kita miliki. Yah, pustakawan mempunyai keperluan ilmuwan dalam bentuk informasi. Keilmuwanan pustakawan akan terbukti jika ia mampu melahirkan karya tulis. Kegiatanvmenulis ini merupakan lahan basah dalam memperoleh angka kredit. Kelemahan pustakawan saat ini, mereka hanya terfokus pada kegiatan rutin yang celakanya memiliki angka kredit kecil.
Pustakawan juga dapat merevolusi diri menjadi seorang pendidik. Menurut Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain (termasuk pustakawan) yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan.
F. Penutup
Perpustakaan dan teknologi informasi dapat diibaratkan “dua sisi dari satu mata uang yang sama”. Perpustakaan memerlukan TI untuk meningkatkan kualitas layanan dan kepuasan pemustaka. Sebaliknya, TI tanpa pedampingan perpustakaan hanya sebatas melahirkan masyarakat informasi yang semu. Masyarakat yang merasa sudah mengerti TI, tetapi pengetahuannya tentang TI tidak membawa dampak apa pun bagi peningkatan kualitas hidupnya.
Sinergi perpustakaan dan TI akan menghasilkan kultur masyarakat yang bukan sekedar “memakai” TI melainkan memberdayakan TI untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Untuk itu “Revolusi Layanan Perpustakaan Nasional RI Berbasis TI” menjadi suatu keniscayaan. Revolusi ini di masa depan akan mampu merevolusi diri karakter bangsa ini dari bangsa “pemakai” TI menjadi bangsa yang mampu memberdayakan TI. Revolusi yang mampu membangunkan bangsa ini dari keterpurukan.
Daftar Pustaka
Borgman, Christine L. Designing Digital Libraries for Usability, in Digital Library Use. Messachusetts : The MIT Press, 2003.
Mardiko, Rahmatri. 2002. Teknologi Informasi dan Budaya Baca Tulis
Soeatminah. Perpustakaan, Kepustakawanan, dan Pustakawan. Yogyakarta: Kanisius, 1999.
Wardiana, Wawan. 2002. Perkembangan Teknologi Informasi di Indonesia. Jakarta : Seminar dan Pameran Teknologi Informasi.
Artikel ini telah dinobatkan sebagai Juara 1 Lomba Menulis Artikel tentang Kepustakawanan Indonesia Tahun 2008 yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Nasional RI.
A. Pendahuluan
Menurut Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan, Perpustakaan Nasional adalah lembaga pemerintah non departemen yang melaksanakan tugas pemerintahan dalam bidang perpustakaan yang berfungsi sebagai perpustakaan pembina, perpustakaan rujukan, perpustakaan deposit, perpustakaan penelitian, perpustakaan pelestarian dan pusat jejaring perpustakaan, serta berkedudukan di ibukota negara.
Mencermati paragraf di atas, terlihat bahwa fungsi yang diemban oleh Perpustakaan Nasional RI tidaklah ringan. Perlu suatu langkah yang cerdas agar aneka fungsi tersebut dapat terlaksana dengan baik. Salah satu langkah cerdas yang dapat ditempuh adalah dengan memberdayakan keberadaan teknologi Informasi dan bukan sekedar menggunakannya untuk menggantikan layanan manual.
Aneka fungsi di atas tidak akan terlaksana dengan baik jika tidak ditunjang dengan pemberdayaan teknologi Informasi. Dengan teknologi Informasi, aneka fungsi tersebut akan lebih terasa manfaatnya oleh masyarakat. Dengan kata lain teknologi Informasi akan mampu meningkatkan kualitas layanan Perpustakaan Nasional RI.
B. Teknologi Informasi
Teknologi Informasi (selanjutnya disingkat TI) adalah suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas, yaitu informasi yang relevan, akurat dan tepat waktu, yang digunakan untuk keperluan pribadi, bisnis, dan pemerintahan dan merupakan informasi yang strategis untuk pengambilan keputusan. Teknologi ini menggunakan seperangkat komputer untuk mengolah data, sistem jaringan untuk menghubungkan satu komputer dengan komputer yang lainnya sesuai dengan kebutuhan, dan teknologi telekomunikasi digunakan agar data dapat disebar dan diakses secara global (Wawan Wardiana, 2002)
Melihat perkembangan TI di tanah air terasa seperti ada sesuatu yang salah. Ibaratnya seperti, “sayur tanpa garam”. Kebangkitan Korea Selatan dengan TI menarik untuk dipergunakan sebagai “pisau analisa” untuk membedah fenomena ini. Negara ini terbukti mampu menjadi pemain utama sebagai negara produsen TI.
Korea adalah negara pertama yang meluncurkan produk layanan telepon mobile CDMA secara komersial pada tahun 1996. Dua tahun kemudian, jasa layanan internet broadband yang pertama di dunia juga diluncurkan di negeri ini. Disusul capaian spektakuler lain, seperti digital broadcasting (2001), peluncuran e-government (2002), pembangunan layanan percontohan Wireless Broadbank Internet/Wibro (2004), dan peluncuran Digital Multimedia Broadcasting/DMB (2005).
Booming industri teknologi komunikasi dan informasi (ICT) menjadi salah satu faktor penting di balik cepat pulihnya ekonomi Korsel dari krisis finansial 1997 dan menjadi perekonomian yang jauh lebih kuat. Dalam tiga tahun transaksi e-commerce meningkat dari 7,2 juta transaksi (2003) menjadi 12,8 juta (2006).
Ekspor produk ICT pun melonjak dari 48,4 miliar dolar AS (2001) menjadi 113,3 miliar dollar AS (2006). Sumbangan komponen ICT dalam produk domestik bruto (PDB) riil nasional melonjak dari 10,1 persen (2001) menjadi 16,2 persen pada kurun waktu yang sama.
Pertumbuhan pesat internet dari industri ICT ini dipicu oleh dua hal. Pertama, cepatnya adaptasi masyarakat terhadap teknologi baru. Antusiasme ini tak bisa dilepaskan dari budaya self education bangsa Korsel. Revolusi di bidang teknologi digital tak mungkin terjadi tanpa ada dukungan konsumen yang sangat terbuka pada teknologi dan inovasi baru.
Tingkat penetrasi internet di level rumah tangga mencapai hampir 80 persen, sementara di kalangan industri hampir 100 persen. Internet dengan cepat menggantikan TV sebagai sumber utama informasi. Dari ibu rumah tangga, siswa SD, pedagang kecil, hingga pekerja kantoran sudah memanfaatkan jasa internet. Dalam empat tahun, pendapatan bisnis jasa internet melonjak 10.000 persen dari 36,4 miliar won (1999) menjadi 3.700 miliar won (2003)
Faktor kedua adalah ketatnya persaingan antar penyedia jasa internet, seperti Korea Telecom, Hanaro, dan Thrunet, yang menyebabkan konsumen bisa menikmati harga murah. Tak kalah penting adalah dukungan kebijakan pemerintah lewat strategi IT839 dan e-korean program melalui pembangunan jaringan infrastruktur informasi dan komunikasi berkecepatan tinggi sejak 1995.
Hasilnya, Korsel berhasil mewujudkan ambisi menjadi information society pada abad ke-21, jauh lebih cepat dari yang ditargetkan. Dalam indeks informatisasi global, posisi Korsel terus meningkat dari urutan 22 (1998) menjadi 12 (2003) dan 3 (2005). Untuk Digital Oppurtinity Index yang disusun Inter national Telecommunication Union, Korsel di urutan teratas selama dua tahun berturut-turut. Sebagai kota, ibu kota Seoul juga masih tetap teratas dalam e-gonernance, mengalahkan Hongkong, Heksinki, Singapura, Madrid, dan London.
Basis pengetahuan dan kultur baca tulis yang kuat merupakan rahasia utama kesuksesan Korea. Basis pengetahuan yang kuat memungkinkan Korea untuk melakukan loncatan besar dalam sebuah creative innovation, hingga akhirnya mampu melakukan inovasi sendiri dan menjadi negara maju saat ini.
Ketika perang Vietnam usai dan Presiden Amerika menawarkan bantuan untuk Korea atas jasanya selama perang tersebut, tak banyak yang diminta Presiden Park saat itu. Amerika akhirnya membangunkan untuk Korea laboratorium Iptek besar yang kemudian bernama KIST (Korean Institute of Science and Technology). KIST inilah yang memiliki peran besar dalam membangun basis pengetahuan yang kuat di Korea.
Basis pengetahuan yang kuat akan sulit diwujudkan tanpa adanya kultur baca tulis yang kuat pula. Hampir semua informasi dan ilmu pengetahuan tersedia dalam bentuk tulisan (buku, majalah, jurnal, koran, brosur, pamflet, dsb). Informasi dalam bentuk tulisan memiliki banyak keunggulan dibanding media-media dalam bentuk lain. Walaupun kini telah tersedia internet yang membantu kita menyediakan berbagai informasi, tapi buku tetap menjadi instrumen utama. Kebijakan yang paling penting dalam mendorong budaya baca tulis ini adalah adanya perpustakaan.
TI dan perpustakaan dapat diibaratkan sebagai “dua sisi dari satu mata uang yang sama”. Keberadaan TI akan memudahkan perpustakaan dalam mengaplikasikan konsep manajemen ilmu pengetahuan. TI akan memudahkan perpustakaan dalam melakukan pengembangan pangkalan data, penelusuran informasi, transformasi digital, dan promosi.
TI tanpa dukungan perpustakaan hanya akan menghasilkan teknologi konsumtif, teknologi yang mandul. Perpustakaan berperan meletakkan dasar yang kuat untuk membentuk masyarakat yang melek informasi. Masyarakat yang mampu memberdayakan informasi bukan sekedar mengkonsumsi informasi. Jadi, perpustakaan berperan untuk menyiapkan masyarakat agar “siap menikmati” TI.
Kesiapan ini cukup penting agar masyarakat dapat memaksimalkan peran TI untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Ironisnya, sampai saat ini kesiapan masyarakat untuk mengoptimalkan TI belum menggembirakan. Fenomena ketidaksiapan ini, tampak pada : pertama, fenomena pornografi dan chatting di internet.
Masyarakat yang tidak siap hanya akan tertarik dengan informasi sampah yang ada di internet dan alergi dengan informasi penuh gizi yang juga disediakan oleh internet. Realitas membuktikan hampir delapan puluh persen pengguna internet kita menyukai situs-situs yang mengandung pornografi dan pornoaksi. Internet juga hanya dipergunakan untuk keperluan yang tidak produktif semacam “chatting” yang merupakan kemasan baru dari kebiasaan “ngerumpi” masyarakat. Dalam hal ini adanya internet malah makin mengukuhkan tradisi lisan bukan tradisi baca dan tulis masyarakat.
Kedua, fenomena hotspot. Hotspot dengan mudah bisa ditemukan di setiap tempat. Sekolah, kampus, kedai, angkringan, kafe, dan mal. Dengan hanya bermodalkan laptop dan duduk lesehan di kafe, seseorang bisa berselancar sepuasnya di dunia maya. Hal inilah yang mendorong meningkatnya penjualan laptop.
Namun ironisnya, demam hotspot yang saat ini melanda masyarakat belum memicu bangkitnya kesadaran untuk memanfaatakan teknologi dan hanya menunjukkan perayaan konsumerisme belaka. Menurut Arie Sujito (2008), sosiolog Universitas Gadjah Mada, demam hotspot yang terjadi baru sebatas trend gaya hidup. Yakni masih sebatas sebagai pengguna dan belum benar-benar memanfaatkan teknologi itu untuk meningkatkan kualitas pribadi. Buktinya, kawasan hotspot yang sering diserbu bukan perpustakaan melainkan kafe atau mal.
Ketiga, fenomena buku paket elektronik dari Depdiknas. Sekolah diperkirakan tidak bisa menggunakan buku paket elektronik secara maksimal dengan terbatasnya sarana dan prasarana pendukung, seperti komputer yang terkoneksi internet. Sekolah harus mengeluarkan biaya besar untuk mengadakan teknologi pendukung buku paket elektronik tersebut.
C. Revolusi Layanan
Pada bagian pendahuluan, penulis sudah sedikit mengungkapkan tentang urgensi peningkatan kualitas layanan Perpustakaan Nasional RI. Peningkatan kualitas layanan ini sangat terkait dengan kedudukan Perpustakaan Nasional RI sebagai perpustakaan pembina, perpustakaan rujukan, perpustakaan deposit, perpustakaan penelitian, perpustakaan pelestarian dan pusat jejaring perpustakaan. Keenam fungsi ini dituntut dapat memberikan layanan yang terbaik kepada masyarakat. Dengan kata lain dapat memberikan kepuasan kepada pemustaka di seluruh pelosok tanah air.
Peningkatan kualitas layanan secara holistik ini lebih tepat disebut dengan istilah “Revolusi Layanan”. Mengapa ? Karena untuk mencapainya diperlukan perjuangan dan pengorbanan yang heroik dari semua unsur di Perpustakaan Nasional RI. Perlu kerja keras dan kerja sama semua pihak dalam memberikan kepuasan kepada pemustaka.
Revolusi layanan perpustakaan diharapkan dapat membawa Perpustakaan Nasional RI menjadi perpustakaan penelitian. Menurut Soeatminah (1999) ada tiga tahap perkembangan perpustakaan, pertama, tahap gudang buku (Store House Period). Dalam tahap ini, perpustakaan hanya berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan dan merawat buku, dengan tujuan utama menyelamatkannya dari kerusakan.
Kedua, tahap layanan (Service Period). Tahap ini ditandai dengan meningkatnya jumlah koleksi bahan pustaka dan jumlah masyarakat pemakainya. Bidang layanan perpustakaan mendapat tantangan dari masyarakat pengguna yang berharap dapat memperoleh layanan yang baik.
Ketiga, tahap pendidikan dan penelitian (Educational and Research Period). Perpustakaan pada tahap ini berfungsi sebagai tempat untuk mendidik dan mengembangkan masyarakat penggunanya. Perpustakaan dituntut untuk mampu memberi kepuasan kepada masyarakat pemakainya dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, terutama bagi mereka yang betul-betul menekuni bidang ilmunya. Perpustakaan bagi pendidik dan peneliti merupakan penyalur informasi sekaligus sebagai sumber inspirasi.
1. Revolusi layanan perpustakaan pembina.
Sebagai perpustakaan pembina, Perpustakaan Nasional RI dituntut untuk memberikan layanan tentang tata cara pengelolaan perpustakaan yang baik dan benar kepada seluruh perpustakaan yang ada di tanah air. Situs resmi Perpustakaan Nasional RI mesti memuat buku pedoman penyelenggaraan perpustakaan yang mudah diakses oleh publik. Tata cara pengolahan bahan pustaka seperti : klasifikasi, inventarisasi, pemasangan kelengkapan buku, dan katalogisasi merupakan menu yang wajib ada dalam website Perpustakaan Nasional RI. Demikian pula dengan tata cara layanan perpustakaan, juga harus menjadi bagian dari “menu” pembinaan tersebut.
Perpustakaan Nasional RI dapat membuat buku pedoman klasifikasi DDC (Decimal Dewey Classification), pedoman tajuk subyek, dan Peraturan Katalogisasi Indonesia dalam bentuk buku digital yang bebas didownload oleh pengelola perpustakaan maupun masyarakat. Selama ini publik masih mengalami kesulitan untuk memperoleh buku-buku yang notabene merupakan “kitab suci” dunia perpustakaan di tanah air. Dengan kebijakan ini diharapkan segala peraturan yang berkaitan dengan dunia perpustakaan makin dipahami oleh pengelola perpustakaan di tanah air.
Modul-modul diklat yang selama ini diproduksi oleh Pusat Diklat Perpustakaan Nasional RI dapat dibuat dalam format digital dan ditampilkan dalam situs resmi Perpustakaan Nasional RI agar dapat diakses publik secara terbuka. Selama ini yang ada dalam website hanya buku-buku yang dapat dikategorikan dalam “pedoman umum dan petunjuk umum”. Belum secara spesifik dan rinci mengajarkan ilmu perpustakaan dan kepustakawanan. Dengan demikian mereka yang awam tentang perpustakaan pun diharapkan dapat secara cepat dan praktis memahami dunia perpustakaan.
Selain itu, dengan digitalisasi modul-modul belajar tersebut Pusdiklat Perpustakaan Nasional RI juga dapat menggelar program diklat perpustakaan jarak jauh. Diklat perpustakaan jarak jauh ini merupakan wujud praktis pemberdayaan TI untuk semakin mempercepat proses pembinaan perpustakaan di tanah air.
2. Revolusi layanan perpustakaan rujukan.
Arah pengembangan revolusi layanan rujukan adalah terwujudnya perpustakaan hibrida (hybrid library). Christine L Borgman (2003), mengungkapkan bahwa perpustakaan hibrida adalah perpustakaan yang didesain untuk mengelola teknologi dari dua sumber yang berbeda, yaitu sumber elektronik dan sumber koleksi yang tercetak yang dapat diakses melalui jarak dekat maupun jarak jauh.
Berbeda dengan perpustakaan digital, konsep perpustakaan hibrida berusaha mempertahankan koleksi tercetak, bukan menggantikan semuanya dengan koleksi digital. Perpustakaan hibrida memiliki koleksi tercetak yang permanen dan setara dengan koleksi digitalnya. Perpustakaan hibrida berusaha memperluas konsep dan cakupan jasa informasi, sehingga penambahan koleksi digital dan penggunaan teknologi komputer tidak bisa dipisahkan dari jasa berbasis koleksi tercetak.
Negara yang termasuk paling aktif melakukan penelitian dan pengembangan konsep perpustakaan hibrida adalah Inggris. Negara ini menyelenggarakan lima proyek perpustakaan hibrida, masing-masing diberi nama BUILDER, AGORA, MALIBU, Headline, dan Hylife. Kelimanya merupakan bagian dari proyek besar E-Lib. Masing-masing proyek ini memiliki ciri tersendiri namun secara bersama mereka mencari cara terbaik mengembangkan jasa perpustakaan dengan memanfaatkan teknologi terbaru.
BUILDER Hybrid Library, dikembangkan di University of Birmingham untuk mempelajari dampak perpustakaan hibrida terhadap pemakai di perguruan tinggi, mulai dari mahasiswa, pengajar, sampai para pengelola kampus. Proyek ini berkonsentrasi pada pengamatan tentang lingkungan penyediaan jasa informasi yang menggabungkan jasa perpustakaan biasa dan jasa elektronik. Kebetulan, pada saat bersamaan University of Birmingham juga sedang mengembangkan lingkungan belajar baru yang memanfaatkan teknologi komputer.
AGORA merupakan sebuah konsorsium yang dipimpin oleh University of East Anglia dengan konsentrasi pada Hybrid Library Management System. Dalam proyek ini, perhatian diberikan kepada pengembangan sistem informasi berbasis konsep “ cari-temukan, diminta-sajikan”. Berbagai eksperimen dilakukan untuk mengembangkan sebuah layanan terintegrasi, menggunakan standar Z39.50, yang menyatukan berbagai fungsi dan jasa perpustakaan ke dalam satu layanan berbasis web. Pemakai diharapkan dapat terbantu oleh sebuah layanan yang serupa untuk berbagai macam keperluan menggunakan berbagai jenis media, baik yang ada di koleksi lokal perpustakaan, maupun yang ada di koleksi perpustakaan yang lain.
MALIBU dikembangkan oleh King’s College London. Khusus untuk mempelajari pengembangan perpustakaan hibrida di bidang ilmu budaya (humanities). Menarik untuk dicatat, proyek ini mempelajari pula kemungkinan keterlibatan para pemakai jasa dengan mengajak mereka membuat sebuah User Scenario. Para teknolog dan pustakawan kemudian menerapkan skenario ini pada rencana pengembangan dan manajemen jasa.
Headline Project dikerjakan oleh London School of Economics, bereksperimen dengan lingkungan jasa informasi personal dengan mengembangkan sebuah portal yang memungkinkan para pengguna perpustakaan mengakses informasi secara digital maupun manual secara terintegrasi. Portal ini dapat diubah sesuai selera pengguna dan memberikan fasilitas untuk menghimpun pengguna yang memiliki kepentingan sama dalam satu kelompok khusus.
HuLife di University of Northumbria memfokuskan diri pada masalah-masalah non-teknologi untuk memahami bagaimana cara terbaik mengoperasikan perpustakaan hibrida. Salah satu hasil proyek ini adalah Hybrid Library Toolkit, sebuah panduan yang ingin mengembangkan jasa elektronik mereka yang sesuai dengan kebutuhan institusi.
3. Revolusi layanan perpustakaan deposit.
Salah satu tugas dan fungsi Perpustakaan Nasional RI adalah sebagai pusat deposit terbitan nasional dalam melaksanakan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1990 tentang serah simpan karya cetak dan karya rekam. Berdasarkan undang-undang tersebut, Perpustakaan Nasional dan Perpustakaan Nasional Provinsi mendapat tugas untuk melakukan penghimpunan, penyimpanan, dan pelestarian bahan karya cetak dan karya rekam yang dihasilkan di wilayah Indonesia.
Namun upaya untuk menghimpun terbitan nasional ini masih mengalami hambatan, antara lain masih kurangnya kesadaran penerbit, terutama penerbit pemerintah, untuk menyerahkan terbitannya kepada Perpustakaan Nasional RI guna dilestarikan. Hambatan ini diperparah dengan adanya kebijakan otonomi daerah yang menyebabkan Perpustakaan Nasional Provinsi menjadi asset Pemerintah Provinsi.
Dari terbitan buku per tahun sebesar 7.500 judul (hasil survei kajian terbitan buku tahun 2002 dan 2003 di Indonesia oleh Perpustakaan Nasional bekerja sama dengan Lembaga Penelitian IPB), baru 375 judul (tahun 2002) dan 400 judul (tahun 2003) yang diserahkan penerbit kepada Perpustakaan Nasional. Sebagian besar dari yang diserahkan itu terdiri dari terbitan non-pemerintah.
Untuk mengoptimalkan pengumpulan serah-simpan karya cetak dan karya rekam Perpustakaan Nasional RI dan perpustakaan daerah provinsi harus melakukan “layanan jemput bola”. Untuk memaksimalkan hasil layanan jemput bola, libatkan keberadaan perpustakaan umum kabupaten/kota. Lagi pula saat ini adalah era otonomi daerah, sehingga wajar jika perpustakaan umum kabupaten/kota mendapat peran yang cukup signifikan.
Setiap bulan perpustakaan umum kabupaten/kota dapat diminta partisipasinya untuk memantau jumlah penerbitan karya cetak dan karya rekam baru di masing-masing kabupaten/kota di tanah air. Perpustakaan umum kabupaten/kota juga dapat dijadikan sebagai tempat transit sementara bagi penerbit/pengusaha rekaman yang ingin menyerahkan karya cetak/karya rekam terbarunya. Selanjutnya perpustakaan umum kabupaten/kotalah yang mengirimkan kepada perpustakaan daerah provinsi untuk diteruskan kepada perpustakaan nasional. Dengan demikian penerbit dan pengusaha rekaman tak perlu repot-repot menyerahkan sendiri ke perpustakaan nasional.
Layanan jemput bola ini akan semakin efektif jika disatukan dengan desentralisasi pemberian nomor ISBN (International Standart Book Numbers) dan barcode harga yang sangat diperlukan penerbit untuk memasarkan produknya baik di dalam maupun luar negeri/internasional.
Dengan desentralisasi ISBN, maka penerbit cukup mengurus ISBN di perpustakaan umum kabupaten/kota yang dirancang online dengan perpustakaan daerah provinsi dan perpustakaan nasional. Desentralisasi ISBN akan semakin memudahkan proses pemantauan dan pengumpulan karya cetak dari penerbit karena dilayani secara langsung oleh perpustakaan umum kabupaten/kota. Layanan penerbitan ISBN yang terpadu dengan layanan untuk menerima serah-simpan karya cetak ini diharapkan dapat meminimalkan tidak terdeteksinya penerbitan buku baru oleh perpustakaan seperti yang terjadi selama ini.
Untuk lebih meningkatkan partisipasi penerbit, Perpustakaan Nasional RI dapat memberikan alternatif kepada penerbit untuk mengirimkan buku terbitannya dalam bentuk buku digital. Buku digital ini dapat dimuat di situs deposit Perpustakaan Nasional RI agar dapat diakses oleh publik.
Publik dapat membuka layanan buku digital ini, namun tidak dapat mendownload buku ini. Dalam hal ini perpustakaan deposit juga berfungsi sebagai media promosi buku baru sehingga akan menguntungkan penerbit buku. Jika seseorang menghendaki buku baru tersebut, dapat membeli secara langsung di toko buku.
4. Revolusi layanan perpustakaan penelitian/riset.
Revolusi layanan ini dapat dimulai dengan mengembangkan Perpustakaan Nasional RI sebagai pusat riset/penelitian. Perpustakaan riset punya berbagai ciri, yaitu, pertama, koleksinya yang komprehensif dan mengarah khusus pada bidang kajian penelitian tertentu. Jadi, koleksi buku Perpustakaan Nasional RI perlu diarahkan pada terwujudnya aneka pusat koleksi bidang penelitian tertentu. Seperti pusat koleksi penelitian bidang bahasa, pusat penelitian bidang sains, dan pusat penelitian bidang ilmu sosial.
Kedua, koleksinya selalu mutakhir. Kemutakhiran koleksi perpustakaan riset sangat penting, karena peneliti membutuhkan informasi tentang perkembangan terbaru di bidang yang menjadi kajian penelitiannya. Biasanya, koleksi mutakhir tersebut berupa jurnal ilmiah.
Ketiga, dominan pemakai perpustakaan riset ialah para peneliti profesional ataupun civitas akademika yang sedang menjalankan aktivitas penelitian. Spesialisasi layanan perpustakaan riset ialah Current Awareness Service (CAS) sebagai layanan yang mendukung dinamika kebutuhan dan mobilitas para peneliti sebagai kliennya.
Sebagai perpustakaan riset, Perpustakaan Nasional RI perlu melakukan inovasi-inovasi layanan agar lebih dikenal oleh para peneliti dan akademikus. Menurut Fadil Hasan, sebagaimana dikutip Tempo Interaktif, 23 Mei 2005, hanya 20 persen peneliti yang memanfaatkan fasilitas Perpustakaan Nasional. Survey dilakukan terhadap 60 orang peneliti di Jakarta dan Bogor. Dari survey itu, 65 persen lainnya malah sama sekali belum pernah ke Perpustakaan Nasional. Sisanya, hanya sesekali berkunjung.
Menurut Fadil, para responden umumnya berpendapat bahwa perpustakaan yang terdapat di bilangan Salemba, Jakarta Pusat ini, koleksinya tidak lengkap dan kurang spesifik. Selain itu, mereka lebih banyak menggunakan internet untuk memperdalam penelitiannya. Sebanyak 70 persen menggunakan internet.
Fungsi sebagai perpustakaan riset menghendaki Perpustakaan Nasional mampu memberikan layanan kepada pemustaka yang hendak melakukan penelusuran informasi. Fungsi ini perlu di respon oleh Perpustakaan Nasional RI dengan melakukan revolusi diri menjadi perpustakaan digital yang senantiasa “up to date” memberikan informasi yang cepat dan tepat kepada masyarakat.
Perpustakaan riset dapat melengkapi diri dengan menyusun secara mandiri ensiklopedia digital, kamus digital, handbook digital, guidebook digital, direktori digital, dan almanak digital. Tanpa langkah ini, fungsi sebagai perpustakaan riset tidak akan berjalan dinamis.
Subhan (2006) mengungkapkan bahwa digitalisasi merupakan salah satu langkah agar akses informasi dan kerjasama antarperpustakaan menjadi semakin lancar. Dengan digitalisasi, para peneliti dapat dengan mudah mengakses informasi untuk kebutuhan penelitiannya.
Perpustakaan riset memberikan harapan kemajuan dan kemakmuran. Dengan riset, ilmu pengetahuan makin berkembang. Harapannya, perkembangan itu melahirkan efek bola salju berupa meningkatnya kualitas sumber daya manusia. Negara-negara maju sejak lama menyadari besarnya manfaat riset. Lewat riset, berbagai inovasi bermunculan sehingga bisa dijadikan komoditas bernilai jual dan daya saing tinggi.
5. Revolusi layanan perpustakaan pelestarian.
Arah revolusi dalam layanan bidang pelestarian adalah mempublikasikan naskah-naskah kuno yang dimiliki oleh Perpustakaan Nasional RI dalam format digital. Saat ini Perpustakaan Nasional RI memang telah memiliki beberapa naskah kuno yang sudah dialihmediakan dalam format digital, seperti Barmartani (Soerakarta, 1855) dan Soerat Chabar Betawi (Betawi, 1858).
Namun, naskah-naskah kuno ini belum dapat diakses oleh publik melalui internet (format digital). Padahal salah satu tujuan dari pelestarian naskah-naskah kuno adalah adanya proses eksplorasi dan eksploitasi terhadap naskah kuno tersebut. Pembukaan akses secara terbuka terhadap publik akan meningkatkan kadar kegunaan dan keterpakaian naskah-naskah tersebut.
Alangkah indahnya, jika publik dapat mengakses koleksi surat kabar milik Perpustakaan Nasional RI yang terbit pada masa Perang Diponegoro melalui internet. Hal ini tentu akan menambah wawasan sejarah anak bangsa ini melalui rekaman tertulis para jurnalis pada masa itu.
Bila selama ini pengetahuan tentang Perang Aceh, Perang Diponegoro dan Perang Padri, hanya diperoleh dari buku sejarah, maka surat kabar yang terbit di zaman penjajahan memberi informasi secara langsung kejadian tersebut. Dengan demikian publik dapat mengikuti dengan lebih rinci mengenai tokoh dan peristiwa penting yang kelak dikemudian hari menjadi bagian tidak terpisahkan dari perjalanan bangsa ini.
Selain itu, Perpustakaan Nasional RI juga harus membuat “tafsir/penjelasan” dari naskah-naskah kuno yang menjadi koleksinya. Penjelasan naskah ini menjadi penting pula untuk dipublikasikan dalam website Perpustakaan Nasional RI agar warisan luhur budaya bangsa lebih dikenal dan di sayang oleh masyarakat.
6. Revolusi pusat jejaring perpustakaan.
Menurut pasal 12 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007, tentang Perpustakaan, menyebutkan bahwa perpustakaan melakukan kerja sama dengan berbagai pihak untuk meningkatkan layanan kepada pemustaka. Tujuan kerjasama ini adalah untuk meningkatkan jumlah pemustaka yang dapat dilayani dan meningkatkan mutu layanan perpustakaan. Kerjasama ini dilakukan dengan memanfaatkan sistem jejaring perpustakaan yang berbasis TI dan komunikasi.
Sampai saat ini tak ada satupun perpustakaan yang dapat menahbiskan dirinya sebagai perpustakaan paling lengkap di dunia. Tahbis yang ada baru sebatas perpustakaan dengan jumlah koleksi terbanyak. Untuk itu diperlukan kerjasama antar perpustakaan guna saling asah, asih, dan asuh dalam meningkatkan layanan kepada pemustaka.
Perpustakaan Nasional RI yang merupakan “payungnya” seluruh perpustakaan di tanah air sudah sewajarnya memelopori terbentuknya jaringan perpustakaan berbasis TI di tanah air. Langkah pertama yang dapat ditempuh adalah dengan membentuk jaringan nasional Perpustakaan Daerah Provinsi di Indonesia.
Langkah kedua adalah membentuk jaringan nasional perpustakaan umum kabupaten/kota dalam setiap provinsi. Hal ini dapat dikoordinasikan dengan setiap Perpustakaan Daerah Provinsi yang ada di Indonesia. Berikutnya, membentuk jaringan nasional perpustakaan perguruan tinggi se-Indonesia. Hal ini dapat dimulai dari perpustakaan perguruan tinggi negeri (PTN) .
Untuk mempercepat terbentuknya jaringan perpustakaan ini, Perpustakaan Nasional RI perlu melakukan langkah revolusi dengan membuat program otomasi perpustakaan gratis yang dapat diunduh oleh masyarakat di website Perpustakaan Nasional RI. Penyusunan format MARC untuk Indonesia (INDOMARC) tanpa diikuti dengan langkah nyata ini tidak akan banyak membawa arti. Mengingat tidak semua perpustakaan di tanah air mampu membeli program otomasi secara mandiri.
Perpustakaan Nasional RI dapat menyempurnakan program otomasi gratis dari UNESCO seperti CDS/ISIS maupun WIN ISIS sehingga selain dapat dipergunakan untuk pangkalan data juga dapat dipergunakan untuk layanan. Dengan langkah ini, seluruh perpustakaan di tanah air dapat memperoleh program otomasi yang mudah dan murah yang kelak akan mempercepat proses pembentukan jaringan informasi nasional perpustakaan.
E. Revolusi Pustakawan
Untuk mendukung keberhasilan revolusi layanan Perpustakaan Nasional RI diperlukan revolusi sumber daya manusia, khususnya revolusi kualitas pustakawan. Revolusi ini diarahkan guna meningkatkan apresiasi pustakawan terhadap TI. Apresiasi yang tinggi terhadap TI akan memperkuat kedudukan pustakawan dalam menghadapi pesatnya perkembangan TI.
Pustakawan sebenarnya memiliki modal yang kuat untuk berkiprah di dunia TI. Untuk merancang sebuah program seorang programmer komputer selalu mengadakan konsultasi dengan bidang yang berhubungan dengan masalah tersebut. Mengingat rancang bangun program ini tidak dapat dapat dibuat sembarangan. Sebut saja dalam dunia Web site khusus masalah konten atau isi web site mereka harus mengadakan brainstorming dengan pihak yang dianggap ahli, yakni pustakawan.
Hal ini disebabkan pustakawanlah yang paling tahu dalam hal penelusuran dan kemauan netter atau penelusur. Maka jelas para ahli TI hanya bisa membuat sistem programnya, tetapi bukan isinya. Kemampuan mengkategori, memfiling dokumen file adalah kemampuan pustakawan yang sangat diandalkan. Pembagian nama domain untuk file, lokasi koding bahkan sampai bentuk format penyimpanan metadata sangat tergantung pada pustakawan.
Jadi secara sederhana programmer yang membuat kerangka, dan pustakawanlah yang mengisi konten dengan kebijakan dari pihak redaksional. Pemasukan konten data ini sangat tergantung kemampuan knowledge si pustakawan tersebut. Misalnya seorang setelah membrowsing internet didapat bahan yang bagus dapat dimasukkan ke dalam alamat email atau engine (data entri) kepada reporter. Bila tidak ada yang berbasis web dapat discan dari buku atau majalah. Lalu si reporter membuat berita dengan bimbingan pustakawan.
Kemudian pustakawan juga mulai mendata semua bahan yang pernah fetch (tampil) di web site dan dikemasulang dalam CD, baik dalam bentuk data teks, gambar, ataupun MP3 atau MPVG dan lain-lain.
Pustakawan dengan modal yang dimilikinya juga dapat merevolusi diri menjadi seorang ilmuwan. Sebagai ilmuwan, pustakawan harus mampu memberdayakan informasi bukan sekadar melayankan informasi. Andy Alayyubi (2001) mengungkapkan bahwa pustakawan yang ideal selain profesional ia juga seorang ilmuwan.
Selama ini, khususnya di lembaga-lembaga riset, pekerjaan pustakawan hanya menyediakan informasi bagi para ilmuwan. Para pustakawan sudah merasa puas bila para ilmuwan sudah mendapatkan informasi yang dicarinya.
Fenomena ini harus diubah. Kalau kita pikirkan lagi, kita seharusnya mempertanyakan, mengapa pustakawan selalu menjadi "pembantu" ilmuwan kalau semua keperluan "majikan" kita miliki. Yah, pustakawan mempunyai keperluan ilmuwan dalam bentuk informasi. Keilmuwanan pustakawan akan terbukti jika ia mampu melahirkan karya tulis. Kegiatanvmenulis ini merupakan lahan basah dalam memperoleh angka kredit. Kelemahan pustakawan saat ini, mereka hanya terfokus pada kegiatan rutin yang celakanya memiliki angka kredit kecil.
Pustakawan juga dapat merevolusi diri menjadi seorang pendidik. Menurut Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain (termasuk pustakawan) yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan.
F. Penutup
Perpustakaan dan teknologi informasi dapat diibaratkan “dua sisi dari satu mata uang yang sama”. Perpustakaan memerlukan TI untuk meningkatkan kualitas layanan dan kepuasan pemustaka. Sebaliknya, TI tanpa pedampingan perpustakaan hanya sebatas melahirkan masyarakat informasi yang semu. Masyarakat yang merasa sudah mengerti TI, tetapi pengetahuannya tentang TI tidak membawa dampak apa pun bagi peningkatan kualitas hidupnya.
Sinergi perpustakaan dan TI akan menghasilkan kultur masyarakat yang bukan sekedar “memakai” TI melainkan memberdayakan TI untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Untuk itu “Revolusi Layanan Perpustakaan Nasional RI Berbasis TI” menjadi suatu keniscayaan. Revolusi ini di masa depan akan mampu merevolusi diri karakter bangsa ini dari bangsa “pemakai” TI menjadi bangsa yang mampu memberdayakan TI. Revolusi yang mampu membangunkan bangsa ini dari keterpurukan.
Daftar Pustaka
Borgman, Christine L. Designing Digital Libraries for Usability, in Digital Library Use. Messachusetts : The MIT Press, 2003.
Mardiko, Rahmatri. 2002. Teknologi Informasi dan Budaya Baca Tulis
Soeatminah. Perpustakaan, Kepustakawanan, dan Pustakawan. Yogyakarta: Kanisius, 1999.
Wardiana, Wawan. 2002. Perkembangan Teknologi Informasi di Indonesia. Jakarta : Seminar dan Pameran Teknologi Informasi.
Langganan:
Postingan (Atom)